Opini : Bahaya Provokasi di Media Sosial

oleh
bahaya provokasi di media sosial
Opini : Bahaya provokasi di media sosial

Web portal pendidikan – Opini kali ini di tulis oleh Stevan Ivana, Seorang PNS Asal Kota Jambi. Opini yang dibuat kali ini adalah bahaya provokasi di media sosial. Untuk lebih lengkapnya dapat kita simak dalam artikel berikut ini.

Bahaya Provokasi di Media Sosial

AKHIR bulan Juli tahun lalu, terjadi peristiwa intoleransi agama yang sangat mengejutkan kita semua. Kurang lebih delapan Vihara dibakar dan dijarah oleh sekelompok orang di di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Kuat dugaan yang menjadi pemicu masalah ini adalah kekesalan massa atas keluhan seorang warga tetangga yang dekat dengan mesjid mengenai kerasnya volume suara di masjid Al Maksum, Tanjungbalai.

Terbakar emosi dan provokasi, amukan massa pun tak dapat terbendung lagi. Beramai-ramai mereka menyerang tempat ibadah umat Budha tersebut. Aparat keamanan tak bisa lagi berbuat banyak.

Peristiwa tersebut memperpanjang daftar kericuhan antar sesama umat beragama di Indonesia. Tahun sebelumnya lagi, sudah ada peristiwa Tolikara di Papua dan pembakaran gereja di Kabupaten Aceh Singkil.

Dominasi mayoritas atas minoritas seringkali menjadi sumber dari segala kerusuhan. Pada kasus Tolikara, mayoritas non muslim mendesak agar minoritas muslim mematuhi ketentuan dari mereka.

Menurut data yang diambil, lebih dari 250 orang warga muslim terpaksa harus mengungsi akibat dari kejadian ini. Seorang warga tewas tertembak, belasan rumah dan toko dibakar massa.

Sementara di Aceh Singkil, aksi intoleransi ini menimpa minoritas non muslim. Dari laporan yang beredar, setidaknya lebih dari 5.000 jiwa baik muslim maupun non muslim harus mengungsi akibat insiden ini.

Amuk massa menewaskan seorang warga dan melukai lima lainnya. Selain itu, gereja pun juga ikut dibakar.

Aksi intoleransi juga pernah dialami (secara berulangkali) oleh jemaah Ahmadiyah di beberapa wilayah. Di provinsi Bangka Belitung, lewat peraturan daerah (perda) yang diterbitkan Bupati, kurang lebih 20 orang jemaah Ahmadiyah pun diusir secara paksa dari rumah mereka sendiri.

Ini menambah panjang daftar kekerasan yang dialami oleh jemaah Ahmadiyah. Sebelumnya, sudah terjadi perusakan masjid Ahmadiyah di daerah Kendal, Jawa Tengah. Lalu ada lagi penyegelan masjid Ahmadiyah di Sukabumi, Jawa Barat.

Melalui media sosial

Kemajuan teknologi di era globalisasi membuat semua informasi begitu cepat beredar luas. Hanya dalam hitungan hari bahkan hitungan detik, peristiwa yang terjadi ratusan bahkan ribuan kilometer jaraknya, sudah bisa langsung tersebar dan diakses oleh seluruh pengguna internet.

Melalui media sosial, ratusan bahkan ribuan informasi disebar luas setiap harinya. Media sosial memberikan “kemerdekaan” seluas-luasnya bagi para pengguna untuk mengekspresikan dirinya, pandangan hidup, sikap dan pendapatnya, atau mungkin sekadar menumpahkan unek-uneknya. Termasuk dalam memberikan kebebasan apakah mediasosial akan digunakan secara positif atau negatif.

Kita patut prihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini. Cukup banyak orang yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian dan provokasi. Salah satu isu yang paling kuat dominannya adalah agama.

Pada kasus pembakaran delapan Vihara di Tanjungbalai, Sumatera Utara, pihak kepolisian memperkirakan ada peran media sosial yang ikut memperkeruh suasana yang terjadi. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan, awalnya protes warga atas pengeras suara di mesjid sudah diselesaikan lewat jalur dialog antara pengurus mesjid dan ketua lingkungan setempat serta kepolisian didaerah tersebut.

Namun dugaan kuat proses penyelesaian itu sebenarnya belum sepenuhnya selesai. Lewat provokasi di media sosial, kemudian warga beramai-ramai secara sporadis melakukan aksi kekerasan, khususnya pembakaran.

Sebagai pengguna media sosial, bisa kita lihat sendiri beberapa teman kita yang entah sadar ataupun tidak turut menjadi penyebar kebencian/provokasi bernuansa agama. Ada yang menyampaikannya secara tersirat, namun tidak sedikit pula yang terang-terangan dan terbuka.

Modusnya sangat beragam. Ada yang sekadar membagikan (share) informasi berita, kutipan, gambar atau pernyataan yang kebanyakan asal usul sumbernya tidak jelas. Ada pula yang aktif “membumbui” informasi yang dibagikannya dengan kata atau kalimat-kalimatnya sendiri.

Aktivitas menyebarkan provokasi atau kebencian bernuansa agama ibarat virus yang bisa menghinggapi siapa saja. Tak kenal usia, status sosial maupun tingkat pendidikannya.

Saya memiliki pertemanan di media sosial dengan seseorang yang saya tahu memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi dan ia berprofesi sebagai dosen. Membuat saya heran, jejak aktivitasnya sehari-hari di media sosial tak lebih dari sekadar menyebarkan provokasi bernuansa agama. Ia juga gemar mengomentari ajaran agama yang tidak diyakininya.

5 Fatwa MUI Terkait Hal yang Haram di Media Sosial
5 Fatwa MUI Terkait Hal yang Haram di Media Sosial

Beberapa pejabat publik bahkan pemuka agama pun ada pula yang gemar memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak ramah terhadap adanya perbedaan agama ini. Bukannya menyejukkan, mereka justru senang memantik api kebencian.

Mengontrol diri

Untuk itulah kita perlu belajar tanpa henti agar cerdas dalam berinteraksi dengan orang lain di media sosial. Belajar mengendalikan diri, menahan diri serta rajin melakukan klarifikasi.

Kita menghargai upaya pemerintah yang sudah memblokir banyak situs yang dianggap gemar dalam menyebarkan provokasi dan kebencian. Kita juga apresiasi tindakan sigap aparat keamanan yang sudah menangkap oknum-oknum yang dengan sengaja telah menyalahgunakan media sosial.

Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa upaya-upaya tersebut tetap saja belum sepenuhnya maksimal. Jagat maya terbukti dengan cepat mampu beranak-pinak. Hari ini, ada satu situs provokator yang ditutup, tapi hari ini pula sudah muncul lima situs provokator yang baru. Hari ini polisi menangkap seorang penyebar kebencian, esok bisa saja muncul lebih banyak lagi provokator di media sosial.

Apakah Ada Solusi Untuk Hal ini ?

Solusi terbaiknya tentu saja ada pada diri masing-masing. Kita harus terbiasa mengontrol diri agar tidak mudah terpancing isu yang mengandung provokasi. Selanjutnya, rajinlah melakukan klarifikasi terhadap informasi yang kita peroleh dan kita terima. Sikap kritis benar-benar sangat diperlukan agar kita tidak “tersesat” di dunia maya.

Langkah-langkah praktis pun dapat kita lakukan misalnya, menandai situs-situs yang terbukti sudah berulang kali menyebarkan informasi hoax/fitnah dan kebohongan. Artinya, kita bisa langsung mengabaikan informasi apapun yang disampaikan situs tersebut.

Tak ada gunanya membuang buang waktu, percuma. Kita harus belajar menahan diri karena situs “abal-abal” tersebut biasanya cukup pandai dalam memilih judul-judul berita yang membuat pembaca merasa penasaran dan kemudian tertarik untuk membacanya.

Agar fikiran kita tetap waras dan tidak terkontaminasi, barangkali perlu juga untuk sesegera mungkin memutuskan pertemanan dengan siapapun di media sosial yang sehari-harinya selalu sibuk menyebarkan provokasi dan kebencian.

Masih banyak juga orang orang di media sosial yang setiap harinya gemar menyebarkan kebaikan. Belajarlah dari mereka. Entah apapun itu agamanya, suku, tempat tinggal, status sosial, dan tingkat pendidikannya. Setiap hari, kita perlu mengisi diri dengan hal-hal yang positif.

Mari belajar menerima dan menghargai setiap perbedaan. Tetaplah waspada karena isu agama begitu mudah dipelintir untuk menciptakan kebencian sekaligus permusuhan. Kita harus belajar dari para pendiri bangsa ini.

Sesungguhnya perbedaan jika dirawat dan dikelola dengan baik akan menciptakan keindahan. Kerukunan beragama harus terus kita rawat dan kita tingkatkan, sehingga tercipta persatuan dan kesatuan bangsa. Semoga saja.

Itulah sedikit opini tentang bahaya provokasi di media sosial. Apakah diantara kalian ada yang sependapat atau ada tidak ? Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Yuk bantu kami dalam memberikan konten konten yang edukatif dan membangun citra diri. Agar nantinya tercipta kecerdasan dalam menyerap informasi yang beredar di media sosial.

Penulis : Stevan Ivana

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.