Cerpen : Berbeda Dalam Keistimewaan

Cerpen : Berbeda Dalam Keistimewaan

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Berbeda Dalam Keistimewaan, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Berbeda Dalam Keistimewaan (Bagian Pertama)

Waktu itu, setelah shalat maghrib, aku diantar kedua orang tuaku ke sekolah. Tanggal 1 November 2012 malam, aku berangkat ke Jepara untuk mengikuti Lomba MAPSI (Mata Pelajaran dan Seni Islami) untuk siswa SD tingkat Provinsi Jawa Tengah. Di depan sekolahku, yaitu SD Negeri 1 Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, kedua guruku yaitu Bu Fatonah, Bu Naen dan seorang temanku yang bernama Farhan sudah menungguku.

Farhan adalah temanku yang kebetulan mengikuti lomba MAPSI di bidang yang sama sepertiku yaitu Pengetahuan Agama Islam dan GEBSATA (seni mempraktikan shalat dengan bacaan shalat menggunakan lantunan nada yang indah). Aku sebagai perwakilan putri dan Farhan sebagai perwakilan putra. Kemudian kami berangkat ke Kantor Dinas Pendidikan Purbalingga menggunakn mobil kecamatan.

Kepergianku saat itu diiringi senyum bahagia dan tatapan kasih sayang kedua orang tua ku yang sudah tidak muda lagi. Rasanya aku ingin menangis saat itu. Karena mengingat aku akan berpisah selama kurang lebih 5 hari tanpa orang tuaku.

Sesampainya di Kantor Dinas Pendidikan Purbalingga, aku melihat foto-foto anak-anak berprestasi yang telah berhasil mengharumkan nama Purbalingga dengan prestasi yang telah diraih dalam berbagai bidang. Dalam hati kecil, aku berharap aku ingin sekali fotoku terpampang disana, demi membahagiakan semua orang terutama kedua orang tuaku.

Ya, namaku Penta. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, aku bukanlah anak yang sempurna, aku telahir memiliki sebuah keistimewaan. Mataku sebelah kanan, tidak bisa digunakan sebagai mana mestinya. Pupil mataku tertutup oleh lapisan putih yang membuatku tidak bisa melihat. Selama 12 tahun ini aku hanya melihat dengan mata kiriku.

Meskipun begitu, aku sangat bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk hidup bersama orang-orang yang menyayangiku sepenuh hati. Ibuku bernama Hoyiah, dia wanita sempurna yang melahirkan dan membesarkanku sampai sekarang. Ibuku hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTP/SMP. Bapakku bernama Siswo Suwito, He is my hero.

Tidak jauh berbeda dengan ibuku, bapakku mengenyam pendidikan sampai tingkat SD. Meskipun mereka tidak pernah menikmati pendidikan yang tinggi, tapi ambisi mereka begitu kuat dalam mendidikan anak-anaknya supaya anak-anaknya tidak merasakan kesusahan hidup seperti apa yang mereka alami.

Bapakku bekerja merantau di Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagai pedagang keliling, barang dagangannya hanya alat pertanian seperti pisau, arit dan gunting. Bapakku memikul dagangannya sendiri dan berjalan dari desa ke desa dan modalnya hanya dari pinjaman tetangga. Umurnya yang sudah tua tidak memadamkan semangatnya untuk menyekolahkan anak-anak nya sampai menjadi sarjana.

Tags: ,
About

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

POST YOUR COMMENTS