Berjuang Melawan, Namun Tetap Menjaga Diri Sendiri

oleh
Berjuang melawan, namun harus tetap jaga diri
Berjuang melawan, namun harus tetap jaga diri

Web portal pendidikan – Selamat pagi kawan kawan semua, artikel kali ini adalah hasil tulisan dari salah satu pengunjung setia belapendidikan.com, judul atau tema yang dibuat kali ini yaitu Berjuang melawan, namun tetap menjaga diri sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat kita simak dalam uraian berikut.

Berjuang Melawan, Namun Tetap Menjaga Diri Sendiri

Ketika seseorang diberi sebuah kebahagiaan untuk berada di atas, dia akan berusaha mempertahankan posisinya, tidak memikirkan bahwa di bawah terkadang lebih menyenangkan, tidak memikirkan bahwa mencoba hal baru itu lebih membanggakan.

Apa itu perjuangan? Berusaha menjadi nomor satu dalam segala bidang kemampuan? Kemudian dipandang ‘tinggi’ oleh setiap orang? Tidakkah kita sadar dalam fase pengejarannya, kisa sering menyalahartikan sebuah perjuangan yang sering dipandang sebagai usaha melakukan segala hal.

Jika dicontohkan saya adalah anak yang berbakat dalam mata pelajaran seni budaya, apakah perjuangan saya dalam menguasai mata pelajaran lain dengan melalaikan kemampuan seni seperti menggambar saya dapat dikatakan sebagai perjuangan? Tidak. Perjuangan memang dalam segala hal, namun apabila kita melupakan bagian penting dari diri kita sendiri, itu hanyalah proses penyia-nyian bakat dan kesempatan.

Dalam dunia ini, contohnya dalam dunia pendidikan, setiap anak dituntut untuk memahami segala hal sampai melupakan hal yang paling pokok dan istimewa dalam dirinya. Dalam kondisi seperti ini, dominan para pelajar berpikir bahwa menguasai segala hal akan lebih baik daripada memperdalam dan menonjolkan bakatnya yang hanya satu atau beberapa saja.

Kurangnya kesadaran bahwa dunia tidak hanya memerlukan para manusia akademis saja menjadikan para pelajar lebih dominan berjuang melawan arah eskalator. Berlari, namun tidak akan pernah sampai pada tujuan yang bernama kesuksesan.

Berdasarkan dari pengalaman saya, berjuang adalah berusaha memahami dan menguasai bakat yang memang kita miliki tanpa menanggalkan hal penting lain. Saya adalah anak yang begitu mementingkan leadership dibandingkan dengan ambisi. Saya memang memiliki cita-cita tinggi, namun saya tidak hanya memikirkan prestasi akademik saja.

Saya juga berusaha meningkatkan kemampuan kepemimpinan saya dalam sebuah organisasi, tanpa melalaikan prestasi akademik yang saya miliki atau melupakan hobi saya dalam dunia tulis menulis. Semua itu saya lakukan dengan cara mengerjakan PR, belajar, dan mengikuti setiap perlombaan baik dalam dunia akademik yang memang kesenangan saya atau dunia literasi ketika ada kesempatan.

Saya menjalankan tugas, hobi, dan bakat saya secara adil, dan perlu diketahui bahwa adil bukan berarti sama rata. Begitu halnya pendapat saya mengenai proses perjuangan yang seharusnya dilalui. Perjuangan terhadap bagian penting namun bukan bakat kita harus mengantarkan kita pada batas aman, dan untuk bakat yang sudah ada dan dimiliki harus kita tingkatkan seoptimal mungkin.

Dalam proses untuk mencapai batas akhir dari semua itu, ada satu perjuangan besar yang dianggap kecil hingga sering kali tidak disadari. Yaitu sebuah perubahan sikap dan jati diri. Pemikiran saya di atas dapat menjadikan saya manusia yang tanpa ambisi yang membiarkan diri terbelenggu oleh keinginan untuk tetap bertahan tanpa harus mengejar orang lain karena sudah merasa cukup dengan kelebihan yang ada pada diri sendiri.

Poin Penting Dari Sebuah Perjuangan

Hingga saya sadari bahwa ada poin penting berikutnya mengenai perjuangan yang memang harus kita miliki. Kesadaran akan perubahan yang memang seharusnya terjadi. Karena, perubahan bukanlah pilihan. Seberapa kuatpun keinginan untuk bertahan, tetap saja, hidup dan alur yang ada itu seperti air sungai. Mengalir membawa diri dan tanpa sadar melakukan perubahan, ke yang lebih buruk atau ke yang lebih baik. Itu semua tergantung pada diri kita sendiri.

Dalam proses yang saya rasakan, satu hal yang saya benci adalah perubahan. Ada kalimat yang sering terngiang di kepala, kalimat itu selalu ada untuk meminta saya bertahan pada masa lalu, tapi akan selalu ada yang menarik saya berlari menjauh dari sejarah tidak penting yang bagi sebagian orang itu buruk. Tanpa sadar, sebagian dari diri saya sering mengatakan, “Saya jangan terpuruk, Saya jangan diam bahkan mundur.”

Ya, itu ada benarnya. Perjuangan berikutnya adalah melawan diri sendiri. Perjuangan melawan keegoisan yang ada pada diri saya yang selalu merasa benar.

Saya sering merasa saya selalu bersikap ramah ada setiap orang, tapi banyak orang yang memperbincangkan saya dari belakang. Katanya ilmu itu harus dibagi, maka saya selalu berkomentar dan memberikan saran, tapi tidak sedikit yang mengganggap saya sok tahu dan kurang sopan.

Katanya kita harus selalu bertanya agar tidak tersesat dalam kehidupan, tapi ketika saya bertanya dengan berbagai dasar alasan pertanyaan itu muncul, tidak sedikit yang mengatakan saya mempertanyakan hal yang seharusnya tidak dipertanyakan karena bagi mereka itu tidak penting.

Untuk beberapa poin yang awal, saya pikir saya harus berbenah dini. Tapi untuk poin terakhir, apa rasa ingin tahu saya harus terkubur hanya karena kalimat mematikan yang orang-orang itu selalu lontarkan walaupun tidak tahu bagaimana kehidupan saya sebenarnya?

Ketika fase itu, saya begitu tertekan dengan berbagai evaluasi baik pelecehan verbal yang muncul di belakang atau bahkan di depan saya. Semua hal itu menyebabkan saya tertekan dengan keadaan. Saya sering berpikir, apa salahnya berbicara langsung di depan saya secara baik-baik kemudian mempertanyakaan apa yang terjadi pada saya agar mereka tidak mengambil kesimpulan sebelum selesai membaca keadaan.

Di samping itu saya berusaha menerima dan berubah, mungkin saya terlalu bawel, sehingga mereka tidak menyukai saya. Maka saya lebih memilih diam, memperhatikan orang-orang. Bagaimana interaksi mereka sehingga mereka tidak pernah dibenci orang lain.

Tapi kenyataannya, beberapa bulan berselang setelah kedewasaan saya untuk berpikir dan mengamati dahulu orang yang saya ajak bicara itu muncul, dan saya menjadi pendiam juga tidak banyak berbicara. Terdegar masuk ke telinga saya dengan komentar bernada sama. “Kamu tidak sopan karena seperti tidak peduli orang lain dan selalu melamun terus.”

Jika mengenai kesopanan, saya sudah membenahi diri. Mungkin saja ketidaksopanan saya itu terjadi saat jiwa saya sedang tidak terkendali. Tapi bagian melamun, apakah mereka tidak bisa membedakan wajah melamun atau berpikir? Saya berusaha menyimpulkan mungkin wajah berpikir saya sama seperti orang melamun.

Tapi, apa mereka akan men-judge orang lain sebelum tahu kenyataan yang sebenarnya? Karena pada kenyataannya saya bukan melamun melainkan memikirkan tindakan seperti apa yang saya harus lakukan agar tidak menyakiti mereka.

Dari situ saya sadar bahwa perjuangan saya berikutnya adalah meyakinkan mereka bahwa saya selalu berusaha baik pada mereka.

Namun, setelah saya pikir-pikir manusia memang begitu, selalu saja berkomentar. Mungkin tanpa sadar saya pun sama. tapi saya selalu berusaha memberi saran saat berkomentar dengan jujur. Lalu apakah komentar, cacian, dan cibiran di belakang saya itu sebuah saran?

Menurut saya, itu semua tidak lebih dari hinaan yang jika orang yang dihina itu tidak tahan maka dia akan tertekan dan depresi. Dan manusia yang senang berkomentar dengan memperbincangkan mungkin tidak pernah sejauh itu berpikir.

Terlepas dari semua itu, saya pikir kehidupan yang rumit memang perlu kita jalani agar softskill kita terasah. Kita harus menjalani hidup dengan usaha. Saya tahu ini tidak akan mudah, tapi menerima setiap keadaan dan berusaha lebih baik adalah hakikat manusia pada sesungguhnya. Dan untuk pandangan negatif dari orang-orang, saya pikir manusia yang sudah membenci kita tidak akan pernah ingin tahu kebaikan kita.

Jadi jika kita sudah berjuang, berjuang, dan berjuang lebih baik, apa salahnya menganggap mereka anjing yang menggonggong saat kafilah berlalu? Karena seberapa baik pun kita, akan selalu ada yang membenci kita. Poin yang penting adalah kita jangan terlena hingga tidak berjuang dalam segala hal untuk menjadi lebih baik lagi.

Opini ini ditulis oleh Andini Lestari kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.