Cerpen : Cahaya Cinta Dari Timur

oleh
cahaya cinta dari timur
Cerpen : cahaya cinta dari timur

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul cahaya cinta dari timur, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cahaya Cinta Dari Timur (Bagian Pertama)

04.00 A.M. Nakatsugawa, Jepang

Di sebuah kota yang masih diselubungi kegelapan malam. Dimana mayoritas manusia masih terlelap dibalik selimut mereka yang hangat dan nyaman. Adapun mereka yang sudah siap untuk berangkat kerja, mencari nafkah untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Namun pagi ini bukanlah pagi yang biasa, ketenangan pagi itu hilang seketika. Terdengar suara gemuruh dari kejauhan di dalam tanah seperti suara hewan buas yang siap menerkam. Dalam hitungan detik suara itu disusul dengan guncangan yang dahsyat, manusia yang saat itu dalam keadaan sadar akan mengira kakinya tidak lagi berpijak ke tanah, namun layaknya nelayan dengan perahu yang terombang – ambing di tengah lautan.

Bersamaan dengan jalanan yang merekah, tiang listrik tumbang seperti pohon yang selesai ditebang, serta teriakan – teriakan minta tolong dari beberapa orang yang tidak dengan cepat menyadari apa gerangan yang sedang terjadi pagi itu. Suasana pagi yang gelap menambahkan kesan mencekam di hari yang penuh dengan puing – puing bangunan serta debu – debu yang bertebaran kemana – mana.

Tiada lagi bagunan yang dahulunya berdiri gagah dengan puluhan lantainya, cantik dengan hiasan marmer di tiap dinding kaca, yang tersisa hanyalah reruntuhan belaka. Di balik reruntuhan dan selubung debu, beberapa orang berusaha menghubungi sekawan mereka. Menghubungi tiap kontak yang sengaja dimasukan kedalam panggilan darurat untuk menyampaikan sinyal penyelamatan kepada seseorang yang di harapkan mendapatkan sambungan tersebut untuk menolong mereka.

06.00 A.M. Bandung, Indonesia

Mitsuketa… sayonara, arigatou, gomenne, sukidayo… sayonara, waratte yo, kokondayo…., Aku yang sedang bersama istriku dan anakku yang baru bisa berjalan langsung meninggalkan mereka, dan dengan tergopoh – gopoh aku menghampiri teleponku yang berbunyi, dengan nada khusus yang memang aku setel untuk orang – orang yang dekat denganku.

“Ada apa ya? Tumben sekali Kuro meneleponku sepagi ini.” Aku menggumam dalam hati, karena biasanya Kuro – Adikku – hanya menelepon ketika hari libur saja.

Karena dia juga satu – satunya keluarga yang masih berkomunikasi denganku sejak aku menikah dengan Riana, 2 tahun yang lalu.

Memori itu dengan cepat masuk kedalam pikiranku, kejadian yang tidak bisa dilupakan sampai kapan pun, karena setiap melihat istriku, kejadian itu selalu kembali layaknya komedi putar yang terus menerus mengulang gerakan yang sama.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.