Cerpen : Cinta Mengapa Kau Pergi

oleh
cinta mengapa kau pergi
Cerpen : Cinta mengapa kau pergi

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Cinta mengapa kau pergi, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Cinta Mengapa Kau Pergi (Bagian Pertama)

Genap setahun hubunganku dengannya. Dengan sesosok laki-laki yang menggenggam tangan ayahku sembari mengucapkan akad di hadapan Allah dan para saksi. Ali namanya. Dia adalah lelaki yang baik, memperlakukanku dengan lembut, menyayangiku, menjagaku walaupun aku tak pernah menghiraukannya. Sebagaimana hujan menikam bumi, ‘sakit’ tetapi tetap bertahan dan menerima.

“Hi, kamu ada rencana ingin merayakan anniversary kita dimana, Jelitha?” tanyanya dengan hati-hati seraya menyuguhkan secangkir kopi kepadaku. Ia mulai membuka pembicaraan setelah sekian lama kami berdua larut dalam keheningan. “Aku tidak ingin merayakannya,” jawabku ketus. Suasana hatiku tak sejalan dengan langit cerah pagi hari ini.

“Bagaimana jika kita rayakan dengan shalat duha?” tanyanya kembali seolah tak mengerti dengan jawabanku tadi. “Aku sudah bilang tak ingin merayakannya!”

Aku sangat kesal dengannya. Apakah ia menganggap pernikahan ini adalah sebuah hubungan yang layak untuk dirayakan, aku disini hanyalah korban, korban dari keluargaku, aku tak pernah menerima pernikahan ini! Bagiku pernikahan ini hanyalah sampah, tak ada rasa cinta dalam pernikahan ini.

“Baiklah jika itu keinginanmu, aku ke kamar sebentar.”
“Kamu ga kerja hari ini? Apa ga ada pasien yang butuh pengobatanmu?”. Dia adalah salah satu dokter di rumah sakit swasta. Aku terpaksa bertanya kepadanya, aku tak suka jika harus menghabiskan waktuku bersamanya di rumah ini, lebih baik dia pergi dan aku sendiri di sini.

“Tidak, aku izin untuk tidak kerja hari ini, aku ingin mengobati diriku sendiri,” katanya sembari berjalan menuju kamar.
“Ah dasar laki-laki baperan, baru dibentak begitu saja sudah merasa sakit hmm,” keluhku.

Tinggal aku seorang diri, menikmati secangkir kopi yang ia sajikan. Sebenarnya ia tak bersalah, tapi aku membencinya.

‘Ting tung’ suara bel berbunyi.

Suara bel itu membuyarkan lamunanku. Aku pun bergegas untuk membuka pintu, penasaran dengan gerangan siapa yang datang?

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.