Cerpen : Diujung Lelah

oleh -1.190 views
Diujung lelah
Cerpen : Diujung Lelah

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Diujung Lelah, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Diujung Lelah (Bagian Pertama)

14.00
Angka itu berbaris di pojok kanan layar handphone-ku. Aku baru saja tiba di lorong menuju apartemen. Sepi. Tak ada raga yang melintas saat itu. Entah apa alasan pastinya. Satu-satunya alasan yang berkelabat memenuhi otakku hanyalah kemungkinan mereka tengah menikmati istirahat siang.

Aku berjalan pelan, menikmati sepi dan sunyinya lorong itu. Tak ada yang sesungguhnya menarik. Hanya saja ada yang dengan tanpa izin menelusup ke dalam hati dan pikiranku. Aku teringat sesuatu jauh sebelum hari ini. Namun tak ingin kuladeni terlalu dalam. Separuh ragaku menolak diriku tenggelam dalam memori penyusup itu.

2015
Aku berhenti sejenak menatap nanar angka yang terpampang pada permukaan pintu apartemen di depanku. Warna abu muda yang terang dan mengkilat memenuhi penglihatan. Angka itu membuat gulungan film di pikiranku terputar. Jiwa dan benakku mulai melalangbuana ke dalam kenangan yang pernah tercetak di tahun seperti deretan angka tersebut.
—————————————-(2015)—————————————

“Maaf…”
Roboh sudah pertahananku. Air mataku tumpah ruah. Pandanganku sepenuhnya mengabur terhalangi genangan yang telah mengalir tanpa sendat lagi. Kata itu tak lagi mampu menghapus sendu yang terus-menerus meremas batinku.

Aku tak mampu bersuara. Sendi-sendiku seketika terasa melemah. Aku terduduk dengan lemas sambil menutup wajah yang kini dipenuhi bekas aliran air mata. Sesekali menepuk-nepuk dada yang perihnya mulai menggerogoti setiap ruang di dalam sana.

“Maaf…”
Kata itu keluar lagi dari Ardian, lelaki di hadapanku. Lelaki yang sejak tiga tahun lalu berstatus kekasihku. Lelaki yang selalu kupuja dan kubanggakan di setiap orang. Lelaki yang dengan tulusnya kuberi kepercayaan dan penerimaan maaf tanpa syarat.

Lelaki yang juga kini tega meruntuhkan segala percaya yang pernah kutitip padanya. Aku seperti diseret dalam siklus yang ia buat. Siklus dimana dia memegang status peminta maaf dan aku sebagai penerima maafnya. Berkali-kali, untuk kesalahan yang berkali-kali ia lakukan.

Aku belum mampu bersuara untuk menanggapi permintaan maafnya. Sesak itu masih mendominasi. Aku tak mampu melihat posisi dan ekspresi jelasnya, namun derap langkahnya yang kian mendekat membuatku yakin ia tengah akan menghampiriku. Aku sedikit mengangkat tangan pertanda memintanya berhenti di posisinya saat itu.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Seorang blogger amatir yang hobinya nulis, tidak terikat instansi apapun. Jika kamu mempunyai hobi yang sama, mari kita bangun situs ini lebih baik. Mencerdaskan seluruh pembaca adalah niat dan tujuan situs ini berdiri.