Cerpen : Impian Sang Ulat

oleh
impian sang ulat
Cerpen : impian sang ulat

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Impian sang ulat, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Impian Sang Ulat (Bagian Pertama)

Pukul lima pagi. Alarm alami yang ada di rumah perempuan muda itu sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Memang, alarm alami yang dimaksud itu suara ibunya. Ibunya telah membangunkannya sambil menggoyangkan badan perempuan muda itu.

Perempuan itu lalu bangun tak lama setelah ibunya membangunkan. Pakaian tidur yang dikenakannya masih compang-camping seperti petani yang baru bekerja dari sawah, tetapi tentunya tanpa lumpur yang menempel. Perempuan muda itu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya sehabis tidur. Selesai mandi, perempuan muda itu segera ke meja makan tempat ibunya telah menunggu.

Perempuan muda itu terlihat cantik dengan postur tinggi, langsing tetapi tidak kurus, serta rambut panjang yang masih agak basah sehabis mandi.

“ Keringkan dulu rambutmu itu, nak. Nanti airnya bisa menetes di makanan ibu yang telah ibu masak, ” ujar perempuan setengah baya yang mungkin berumur kurang lebih empat puluh tahun itu seraya menyiapkan piring untuk anaknya.

“ Iya ibuku yang selalu cantik sepanjang saat,” ujar perempuan muda itu yang sedang duduk di kursi makan.
Perempuan itu langsung mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu menyisirnya hingga rapi. Perempuan muda itu benar-benar cantik.

Kulitnya yang putih serasi dengan rambut panjang hitamnya. Di badge yang terdapat di seragam sekolahnya, tertulis nama Anindya Maharani, orang-orang akrab memanggilnya Nindy ataupun Dinia. Aroma nasi goreng yang dimasak ibunya benar-benar menggugah selera. Nindy segera menghabiskan nasi goreng yang sudah disiapkan ibunya.

Ibu Nindy pun hanya tersenyum melihat anaknya yang semangat sarapan. Ibunya Nindy itu juga tidak kalah cantiknya, parasnya yang kelihatan muda walaupun sudah berumur empat puluh tahun (mungkin karena ia selalu tersenyum sehingga awet muda), rambutnya yang ikal membuatnya lebih cantik meskipun rambutnya tidak sedikit yang telah memutih, serta perawakannya yang tidak bungkuk walaupun sudah tua.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *