Cerpen : Keteguhan Seorang Anak

Cerpen : Keteguhan seorang anak

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Keteguhan Seorang Anak, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Keteguhan Seorang Anak (Bagian Pertama)

Aku terlahir dari keluarga sederhana. Ayahku bekerja sebagai guru honor di Sekolah Dasar, sedangkan ibuku hanya sebagai penjual nasi uduk. Dengan penghasilan kecil, mereka tetap berusaha membiayai pendidikanku hingga ke perguruan tinggi.

Aku memiliki 3 adik. Adikku yang pertama berada di bangku SMA, yang kedua berada di bangku SMP, dan yang terakhir masih berusia 2 tahun.

Sebagai anak sulung aku merasa sedih, karena aku hanya diam saat tahu bahwa perekonomian keluargaku kian memburuk. Namun keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau bekerja, aku harus melanjutkan pendidikan.
“Ayah, aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku masih ingin menuntut ilmu.” kataku dengan lirih.

“Iya nak, kami sebagai orangtua pasti selalu mendukungmu. Kejarlah impianmu! Perbanyaklah latihan soal agar kamu dapat lolos ke perguruan tinggi negeri!” sahut Ayah.

Aku senang mendengarnya. Karena atas dukungan yang mereka berikan, membuatku semakin bersemangat.
Kringg… Kringgg…. (bunyi jam beker). “Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 04.00.
Aku masih ingin tidur, tetapi aku harus membantu ibu.” kataku dalam hati.
Aku mematikan alarm dan segera turun dari tempat tidur kesayangan.
Lalu, aku menemui ibu yang sedang sibuk memasak nasi uduk dan gorengan di dapur.

“Selamat pagi ibuuu.” kataku dengan bersemangat
“Pagi nak. Sudah bangun kamu? Sini bantu ibu!” perintah ibu
“Siap bu, laksanakan.” sahutku
“Mungkin pagi buta begini teman-temanku masih tidur dengan nyenyak. Apalagi saat ini sedang libur panjang sambil menunggu pengumuman kelulusan perguruan tinggi negeri. Tapi… yasudahlah, aku harus bersyukur.” sedikit keluhku dalam hati.

Setelah nasi uduk dan gorengan sudah siap. Aku segera memanggil adik pertamaku untuk membawakan dagangan ibu ke depan gang rumah tempat kami berjualan, tepatnya di depan warung. Ia bernama Indra.
Selama liburan, aku ikut berjualan dengan ibu. Aku melayani pembeli.

“Neng, nasi uduk sama gorengannya berapaan?” tanya pembeli
“Nasi uduk lima ribu, gorengannya seribu pak.” sahutku
“Yaudah neng saya beli 2. Sama gorengannya 5 ya.” ujar pembeli
“Iya pak. Tunggu sebentar.” sahutku
“Ini pak.” aku memberikan nasi uduk dan gorengan dengan dibungkus plastik hitam
“Ini neng uangnya.” pembeli memberikan uang kepadaku
“Terima kasih pak.” sahutku

Tags: ,
About

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

POST YOUR COMMENTS