Cerpen : Langkah Pencari Harapan

oleh
Cerpen : Langkah pencari harapan
Cerpen : Langkah pencari harapan

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Langkah Pencari Harapan, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Langkah Pencari Harapan (Bagian Pertama)

Apa jadinya jika segepok harta karun terpendam di bawah penyesalan?
Senandung sengau juga siulan-siulan yang keluar begitu saja dari mulutku menjadi hiburan tersendiri untukku di saat cuaca terik memancar tajam begini. Di tambah suara tawa kecut dari orang-orang sekitar yang sedari tadi menambah pusingku sampai pada ubun-ubun.

Aku sedang menggarap sawah desa yang sejak setahun lalu terbengkalai. Tentu, jika dilihat secara logika ini bukan sawah, melainkan tanah kosong dengan rumput seukuran gajah tumbuh dimana-mana.
“Kita semua lapar! Anak istri kita butuh makan! Ayo kita pacul tanah ini agar sekiranya bisa membuahkan hasil”
Seorang warga bernama Dirsun itu menyemarakan orasi-orasi singkat.

Kemudian diikuti semua warga termasuk aku, semua membersihkan rumput-rumput liar itu, kemudian mencangkul dengan tenaga yang tersisa.

Desa kelahiranku ini istimewa. Hujan tak sering turun namun manusia di dalamnya masih bisa bertahan hidup. Kondisi geografinya yang berada di atas bukit, jauh, dan terpencil tak pernah menyurutkan semangat manusia-manusianya untuk terus membangun desa.

Desa Klutuk namanya. Banyak orang dari tanah seberang menyebut desa kami sebagai desa atas awan karena letaknya yang tinggi dan jauh dari tanah-tanah datar. Sebuah dusun kecil yang di huni oleh 12 kepala keluarga. Ya, hanya sedikit. Bahkan kuantitas nya akan terus berkurang karena kebanyakan dari mereka yang pindah desa tak tahan dengan kesengsaraan. Aku pun.

Berkali-kali aku berniat untuk meninggalkan Desa ini. Kelaparan, kesengsaraan kerap menggangguku. Terlebih saat lapar dan haus benar-benar menyerang dan tak ada yang bisa dimakan, kami bisa minum kencing sendiri. Aku punya suatu keyakinan. Desa ini tak akan jadi hebat pada saatnya nanti jika kami masih menetap.

Desa yang semua penghuninya kurus kerontang, bahkan beratnya tak ada yang lebih dari 40 kilogram. Miris.
Hanya ada satu pemimpin disini, bukan ketua RT, namun terlalu berlebihan jika disebut kepala desa. Warga memanggil dia pak ketua Ya, orang itu aku. Satu-satunya orang yang pernah mengenyam pendidikan di desa ini yang baru kembali dari kota setelah bekerja 8 tahun lamanya.

Lambat tapi pasti pekerjaan ini selesai. Ku sruput secangkir kopi panas di bawah cuaca panas dan tak lupa pikiran yang panas. Wajah-wajah lelah kawan seperjuangan kini tampak ada sedikit harapan. Ya, hanya sedikit. Mengingat kami semua tak punya banyak pengetahuan untuk mengolah lahan ini di tengah musim kemarau.
Dari jauh seorang pak tua dengan baju compang-camping berjalan setengah berlari sambil mngapit ayam jantan di ketiaknya.

“Pak Ketua, lapor pak, Ada surat dari pusat. Semua warga desa Klutuk ini akan diajukan untuk melakukan urbanisasi”
Semua warga saling pandang. Tak mengerti maksudnya.
“Baiklah, bapak-bapak semua mari pulang, terimakasih atas bantuan tenaganya, mengenai hal ini nanti akan saya pikirkan”

Semua jadi tambah bingung. Lebih bingung lagi mereka tak mengerti definisi urbanisasi itu sendiri.
Semua warga desa tak ada yang mengenyam pendidikan kecuali aku yang hanya lulusan smp. Bahkan anak-anak disini tak bersekolah dan tak ada yang bisa membaca. Persis seperti emak bapak mereka. Tak ada kemajuan. Sengsara!

Cerpen : Langkah Pencari Harapan (Bagian Kedua)

Muningsih, isteriku terus saja membuai ku dengan alasan-alasan agar aku membatalkan rencana urbanisasi ini.
“Bapak kan sudah pernah hidup di kota, semua serba sulit kan pak? Kalau toh mau pindah, lebih baik kita transmigrasi saja pak, mencari tempat yang lebih baik, agar warga bisa macul lagi disana dan dapat hasil terbaik pula, tak ada yang salah dengan gundukan tanah kering ini, bersabar saja pasti ada jalan pak”

“Buk, bapak hanya mengikuti, semua warga sudah setuju untuk ikut program urbanisasi, bulan depan pemberangkatannya, kemarin bapak sudah menyuruh mereka untuk beres-beres”
“Ah sampeyan ini pak, masih ingat tidak kalau nenek moyang kita telah meninggalkan harta berlimpah di desa kita ini?”

Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataan isteriku. Bagaimana mungkin gundukan tanah kering berbatu ini terdapat harta? Ah ada-ada saja dia.

“Buk kita akan tetap berangkat bulan depan, lebih baik kita mulai berberes dari sekarang” perintahku, namun Muningsih tetap menolak dan membuatku makin geram saja. Namun sepertinya Muningsih menolak ikut. Entah kenapa dia jadi sebegitu percayanya pada cerita nenk moyang yang tak terbukti kebenarannya. Hahaha sinting!

Satu bulan berlalu, sebuah truk besar siap mengangkut kami, warga desa Kluthuk yang hendak melakukan urbanisasi. Menjelang Subuh, cuaca masih dingin, kabut masih tebal menutup pandangan. Dengan semangat, semua warga termasuk aku menaikkan barang-barang pun tak lupa menaikkan diri kami sendiri. Manusia-manusia yang penuh akan harapan hidup yang baru.

Sejalan dengan laju truk, dilewatinya ladang-ladang kering dan satu lahan kosong yang baru dibersihkan sebulan lalu, masih sama, tak berubah, tak ditumbuhi apa-apa. Ditinggalkanlah semua itu. Ada beberapa yang menolak ikut. Orang itu adalah Muningsih, yang sebentar lagi akan jadi mantan isteriku. Perdebatan tak akan membuat kita bersama lagi. Aku lebih memihak warga untuk kepentingan bersama dibanding memihak Muningsih dengan khayalan tingkat tinggi yang tak masuk akal. Ada rasa bersalah, namun aku percayakan dia bersama anak-anakku yang sudah besar.

Kini aku hanya mempunyai 2 harapan baru, aku ingin semua warga bisa konsisten menjalani kehidupan kota, dan satu lagi, aku ingin Muningsih bisa menjaga dirinya bersama anak-anakku. Kami meninggalkan desa dengan perasaan bahagia penuh harap.

Oh seandainya ladang di desa tau kalau kami menderita hidup disini.
Kami saling pandang memegangi perut masing-masing. Sesuap nasi kucing benar-benar tak berasa. Bagaimana kami akan kenyang? Kalau satu bungkus nasi untuk makan kami ber-duapuluh. Bahkan cacing di perut kami pun tak kenyang. Sepuluh tahun berlalu, mungkin ini adalah keputusan terbodoh ku turut mengajak manusia-manusia lugu ini menjalani hidup di kota.

Bagi kami sama saja dengan hidup di desa, justru lebih menyedihkan. Bagaimanapun desa masih sayang kepada kami, dia masih mau menyediakan sepetak tanah gersang tuk kami tanami. Disini kami merana, sejak kedatangan pertama kami, firasat kami sama, hidup juga akan sama saja, namun apa daya jika untuk makan saja susah bagaimana kami bisa kembali ke desa? Jalan kaki sampai mati? Lalu Muningsih menemukan mayatku dipinggir jalan dan menertawaiku?

Cerpen : Langkah Pencari Harapan (Bagian Ketiga)

Kami sudah hampir pasrah saja, disini kami punya karir yang sama. Ya, pemulung. Sampah menjadi harapan hidup kami.
Kini rombongan kami hanya tersisa delapan orang. Sisa nya kabur entah kemana, bunuh diri dengan memakan sampah hasil buruan mereka sendiri, ada pun yang sekarat karena kelaparan. Kami semakin kurus kerontang menyisakan tulang dan kulit.

Oh Tuhan, harus bagaimana aku sebagai pimpinan mereka? Rasa bersalah tak akan memperbaiki segalanya. Apa yang harus kami makan sore nanti?

Satu persatu dari kami mulai gila. Jika dahulu dalam kesadaran dan kewarasan kami minum kencing sendiri dalam keterbatasan, sekarang kami makan kotoran kami sendiri dalam ketidakwarasan.

Satu persatu dari kami mulai menunjukkan kegilaannya. Parmin makan jempol kakinya sendiri, Rusdin berlarian telanjang dan tidur pada bantalan rel kereta, Amir minum air kali yang sudah terkontaminasi limbah pabrik, mulutnya mengeluarkan busa sambil kejang lalu berakhir dengan terapung hanyut tak bernyawa di kali itu juga.

Ditambah lagi koran yang kutemukkan pagi tadi. Wacana mengenai desa Kluthuk yang ternyata adalah ladang nya batu mulia. Perempuan bernama Muningsih dengan anak-anak nya yang pertama kali menemukan harta itu. Benda berharga dibawah segumpal tanah kering yang bagiku waktu itu tak berguna. Oh menangislah aku, Muningsih telah menunjukkan kemenangannya.

Dia benar mengenai kepercayaan nenek moyang, dengan kerja kerasnya Muningsih bisa sekaya sekarang. Tak sepertiku yang berpindah-pindah dalam mencari sesuatu sakral yang disebut kaya tersebut. Muningsih benar, desa itu adalah masa depan untuk anak cucu kami. Lantas bagaimana kami bisa menikmati harta itu bersama anak cucu? Jika kami sendiri akan mati mengenaskan kehabisan air mata disini? Yang benar saja!

Sesal didalam penyesalan sudah biasa. Seperti janjiku sepuluh tahun lalu, Aku akan tetap konsisten menjalani hidup disini, menikmati waktu bersama para orang gila, dan aku mungkin akan jadi gila dalam waktu dekat ini. Jadi gila agar tak bisa lagi merasa bersalah, jadi gila agar Muningsih bisa menertawaiku sepuasnya. Mantan suami yang menentang teori masa depannya mengenai harta yang terpendam itu. Mengenai harapan-harapan yang ia rancang sepuluh tahun lalu itu.

Cerpen ini ditulis oleh Ines Noviadzani kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

  • saya suka dengan alur ceritanya kak
  • Wah ada updatean baru lagi nih cerpennya
  • semoga cerpen ku dapat di publish jg
3.7

Ringkasan

Bagaimana menurut anda tentang cerpen diatas ? Kirim komentar nya dibawah

Sending
User Review
0 (0 votes)

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.