Cerpen : Matahari Terbit

Cerpen : Matahari terbit

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Matahari terbit, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Matahari Terbit (Bagian Pertama)

Setiap aku bangun di pagi hari, aku selalu bertanya. Apa hari ini ada yang hadir memberi makna dalam hidupku atau aku yang bermakna untuk orang lain? Dan pertanyaan spesial untuk hari ini, apa makna PTN bagi seorang Lysa? Dan menjawab pertanyaan itu, kampus Biru ada kesan tersendiri dalam lubuk hatiku.

Kampus Biru termasuk dalam daftar universitas terfavorit di Indonesia. Selain karena kualitasnya yang bagus, lokasinya yang strategis dan nyaman membuat kampus ini menjadi impian bagi banyak pelajar untuk melanjutkan studi. Kampus ini terletak di jalan Veteran, dengan luas lahan kampus utama seluas 58 ha.

Umumnya, gedung-gedung kampus dibangun dengan gaya arsitektur Jawa. Selain dari bangunan gedungnya yang menarik dan megah, kampus Biru juga memiliki beberapa fakultas yang sudah terakreditasi Internasional dan semua fakultas, lembaga, dan unit yang ada telah memiliki sertifikat manajemen ISO.

Berbagai prestasi telah diraih kampus Biru dan passing grade yang tinggi, membuat seleksi masuk yang cukup ketat. Tak jarang membuat banyak pelajar yang kecewa dan menangis sesak tanpa henti.

Hmmb… itulah yang membuatku mengenal sosok Andi Maulana. Biasanya aku memanggilnya dengan sapaan kak, karena bisa dibilang lebih tua dariku, selisih satu tahun. Selain itu, kak Andi juga lebih berpengalaman daripada aku.

Kak Andi merupakan salah satu mahasiswa aktif Fakultas Teknologi Pertanian di kampus Biru. Pengalamannya dalam dunia pendidikan, membuatku terkesan pada kak Andi dan tak jarang setiap kata-kata atau petuahnya selalu aku terapkan, termasuk dengan kampus Biru. Kami bertemu lewat jejaring sosial, yaitu akun facebook. Dari situlah kami saling mengenal satu sama lain.

Di waktu yang berbeda, kak Andi memasukkanku dalam sebuah grup di akun facebook, namanya “Sukses Masuk PTN 2016” lewat itulah, aku memulai mendapat banyak teman baru dan banyak ilmu. Kebetulan kak Andi adalah Admin dalam grup tersebut. Biasanya kak Andi upload foto tentang jurus jitu sukses masuk PTN, tak ketinggalan juga update status perihal soal ujian masuk PTN.

Selanjutnya kami satu persatu berkomentar dan latihan mengerjakan soal-soal tersebut. Sebenarnya, selain kak Andi ada mas Budi Darmawan yang juga admin grup tersebut. Namun sayangnya, mas Budi begitu sibuk dengan kuliahnya sehingga jarang muncul digrup. Menurut penuturan kak Andi, ternyata mas Budi mempunyai kesibukan lain. Selain menjadi mahasiswa, mas Budi juga sebagai asisten dosen.

Di kesempatan lain aku mulai mengenal Kafka, lewat sebuah grup yang dibuat oleh kak Andi. Ternyata dunia sempit, Kafka juga sama seperti aku, calon mahasiswa kampus Biru 2016 dan sama-sama asli orang Gayatri. Bedanya aku lebih interest sama Prodi Ekonomi Pembangunan, sedangkan Kafka lebih ke Prodi Ilmu Hukum.

Biasanya Kafka menelponku untuk sekadar curhat tentang hatinya yang mungkin sedang gundah gulana atau nilai try outnya yang jauh merosot. Kalau nggak gitu, sesekali kita keluar untuk sekadar jalan, makan, sambil ngobrol yang tak tau njurus kemana.

“Nanti kalau pas lagi weekend, kita pulang bareng ya?” ucap Kafka.
“Naik kereta api,” Kafka menambahkan.
“Dan berhenti di stasiun Gayatri” jawabku.
Kita memang sama-sama GJ. Suka ngomong nggak jelas, nglantur, dan berhayal kesana kemari. Tapi itulah yang membuat seru hidup kita, seakan penuh warna.

Kali itu, hari yang aku dan Kafka nantikan telah tiba. Tepat pukul 17.00 pengumuman SNMPTN keluar. Aku dan Kafka begitu was-was, takut akan hasilnya. Sampai akhirnya kita memberanikan diri untuk membuka websitenya dengan bersamaan.

Sayang, servernya mungkin error karena banyak penggunanya. Bayangkan seluruh Indonesia mengunjungi website yang sama dan saat itu juga. Untungnya, Kafka lebih dulu berhasil membuka.

Nomor Pendaftaran : 100004509
Nama Siswa : Kafka al Kahfi
NISN Siswa : 170131245044
Asal Sekolah : SMKN 1 Gayatri
Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN 2016

Seketika Kafka langsung diam membisu. Selanjutnya, setelah setengah jam mencoba berulang kali, website ku bisa dibuka juga. Hmmmmb…. namun ternyata nasibku tak jauh beda dengan Kafka. Ya, aku dan Kafka sama-sama gagal.

Cerpen : Matahari Terbit (Bagian Kedua)

Beberapa hari kemudian, kak Andi dengan petuahnya yang bijak menelponku. Di tengah kesibukannya kuliah, ternyata kak Andi masih meluangkan waktunya untukku. Walaupun hanya sekadar telpon dan memberikan motivasi-motivasi, yang aku rasa tetap segar didengar sepanjang zaman.

Kali itu, kak Andi begitu tegasnya menyarankanku untuk tetap optimis dengan impian dan harapanku tentang kampus Biru. Kak Andi bicara perihal SBMPTN. Namun, kali itu aku benar-benar ragu dengan apa yang di sarankan oleh kak Andi untuk mencoba SBMPTN karena yang aku dengar dari teman sebayaku, ternyata sekolahku di black list oleh kampus Biru, akibat ulah kakak seniorku. Itulah yang membuat aku dan teman-temanku yang daftar di kampus Biru tidak diterima sama sekali, satu pun itu.

“Sudah untung bisa keterima di kampus Biru dengan program beasiswa. Ehh, malah keluar dengan alasan lebih milih kerja di Kalimantan,” gumangku tentang kakak seniorku.
Namun, kak Andi dan kampus Biru selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupku, hingga akhirnya aku pun mendaftarkan diri ikut SBMPTN.

Mulai saat itulah hari-hariku disibukkan dengan soal-soal baru dari berbagai sumber. Salah satu sumber yang selalu ku percaya adalah kak Andi. Kak Andi seringkali mengirimkanku soal-soal SBMPTN via e-mail.

Sekilas aku mulai membukanya, “PREDIKSI SBMPTN 2015 KERJASAMA KOMPAS dan Soal Try Out I SBMPTN 2013.” Selanjutnya, ku kerjakan soal itu satu persatu dan jika ada sedikit kesulitan tak ragu-ragu aku minta bantuan guruku di sekolah.

Seakan berkutik dengan kesibukan masing-masing, aku dan Kafka jadi jarang bertemu. Mungkin sesekali Kafka ngechat aku. Itu pun hanya sekadar laporan. Ya, laporan-laporan yang menurutku nggak penting sama sekali, malah aku menganggapnya seperti pamer, astagfirullah kok jadi su’udzan gini ya jadinya.

Semenjak gagal SNMPTN, mungkin Kafka merasa bosan berkutik dengan dunia pendidikan yang seakan membuat pusing kepala manjanya. Sekarang Kafka beda kasta denganku. Ia lebih interest bergaul dengan perkumpulan model. Ya, sekarang Kafka lebih suka dengan dunia modelling. Seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Di sosial media, Kafka lebih suka upload foto-fotonya dengan penampilannya seakan ellegant dan sibuk dengan barang endorsnya. Semenjak itulah, aku dan Kafka seakan berjauhan.

Cerpen : Matahari Terbit (Bagian Ketiga)

Di hari ketika mendekati waktu ujian SBMPTN pun telah tiba. Satu hari sebelumnya aku sudah cek lokasi. Ternyata, aku dapat tempat ujian di lantai 2 gedung B nomor 1507 tepatnya di kampus Biru. Bayanganku akan kampus Biru semakin jelas. Seakan aku percaya dan sangat percaya kali itu aku akan berhasil menggapai impianku.

Beberapa bulan, ketika waktu yang aku nantikan tiba. Tepat pukul 17.00 pengumuman SBMPTN keluar. Kali itu, entah mengapa anganku terbayang akan omongan Kafka beberapa waktu yang lalu. Perihal pusing-pusing mikirin sekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya kerja juga. Buang-buang waktu saja. Saat itulah, seakan-akan pikiranku terombang-ambing.

Haaaah… entah ekspresi apa yang tepat untuk menggambarkan rauh wajahku kali itu. Rasanya aku seperti tertimpa pohon yang cukup besar, berbuah banyak, dan berdaun lebat. Sakit, iya itu pasti.

Dua kali aku daftar untuk masuk PTN favoritku, dua kali pula aku dihempaskan dengan cukup hebat. Gagal. Ya, gagal yang kedua kalinya ini benar-benar mencekik tubuhku. Saat itu, aku sudah tak tau harus bagaimana lagi. Aku bingung dan merasa tak berguna lagi.

Namun, kak Andi seakan tidak kehabisan akal. Ia selalu memberiku motivasi. Kata-katanya selalu menyejukkan hatiku. Kak Andi menyarankan ku perihal ujian mandiri. Ya, itu adalah ujian terakhir yang ada di kampus Biru dan biaya pendaftarannya cukup mahal. Pikirku seakan keberatan dengan biaya pendaftaran yang begitu mahal.

“Ya, kalau keterima, jika tidak? hanya buang-buang duit,” gumangku.
Ahh, ya sudahlah. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi daftar ujian mandiri. Tapi kak Andi datang lagi dengan petuahnya yang bijak, kali ini ia datang tidak untuk memberikan dorongan untuk tetap semangat meraih impianku tentang kampus Biru.

Tapi tentang sebuah niat yang tulus untuk belajar. Belajar bisa dimana saja, di tempat yang tak pernah kita duga. Bukan berarti jika kita kuliah di kampus bergengsi, mewah, dan megah kita akan berhasil, jaya untuk selamanya. Mungkin ini memang sudah jalanku.

Akhirnya dengan penuh percaya diri ku putuskan untuk daftar di sebuah kampus swasta yang insyaallah barokah untukku dan tidak mengurangi impianku tentang kampus Biru ku putuskan pula tahun depan untuk mencoba kembali SBMPTN.

Persis seperti petuah kak Andi beberapa waktu yang lalu, “Mencoba satu, dua, tiga kali tidak masalah, yang terpenting adalah prosesnya. Hasilnya anggap saja itu sebuah bonus.”

Tamat …

Penulis : Siti Masykurotus

Penulis : Siti Masykurotus

Biodata Penulis:
Nama : Siti Masykurotus S
Kelahiran : 25 November 1996
Asal : Tulungagung
Pendidikan : Mahasiswi disalah satu perguruan tinggi IAIN Tulungagung

Cerpen ini ditulis oleh Siti Masykurotus kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Tags: ,
About

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

POST YOUR COMMENTS