Cerpen : Me and My Brother in 2003

Cerpen : Me and my brother in 2003

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Me and my brother, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Me and My Brother in 2003 (Bagian Pertama)

Malam itu, tetesan air hujan serta dinginnya tiupan angin menembus dinding – dinding renta bambu yang terkoyak termakan usia. Seorang gadis kecil bernama Zahra begitu sibuk berkutat dengan buku pelajaran.

Terdengar suara dari balik pintu “ Sedang apa kau, Nak?”, tanya Ibu. “ Zahra sedang belajar , Bu” papar Zahra. “ Belajarlah …. tapi ingat, jangan sampai larut malam. Tidak baik untuk kesehatanmu, Nak”, pinta Ibu. “ Segera tidur jika sudah selesai, esok kau sekolah “, tambahnya. “Baik, Bu”, Zahra tersenyum.

Tidak terasa, malam semakin larut. Sinar pelita mulai meredup. Cahaya bintang mulai menghilang, satu per satu. Seakan menghantarkan gadis kecil itu untuk beristirahat. Lembar demi lembar buku telah Zahra baca. Karena malam sudah larut, akhirnya ia memutuskan untuk tidur.

Sang fajar mulai meninggi, si jago mulai berkokok bersaut – sautan seakan ikut bersemangat mengawali pagi nan cerah ini. Seperti biasa menyusuri jalan setapak bak permadani coklat yang begitu licin sisa hujan semalam. Zahra dengan tertatih – tatih melangkahkan kakinya menuju sekolah pagi itu.

Maklum, Zahra adalah gadis miskin yang hidup serba pas – pas an. Untuk sebagian orang, mungkin bersekolah adalah hal yang lumrah. Namun untuknya, sekolah menjadi bagian yang rumit dan membutuhkan perjuangan keras.

Bagaimana tidak, untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi pun sulit. Tidak ada yang tau apakah esok ia dan keluarganya masih bisa bertahan atau tidak. Setiap hari ia harus menempuh berkilo – kilo meter tuk sampai ke sekolah. Berteman setia dengan sepatu koyak lengkap berjahit di sana – sini, ia tetap bersemangat menimba ilmu.

Di sebuah gubug kecil, beratap ijuk berdinding bambu, ia tinggal bersama kedua orang tua beserta kakak lelakinya. Pagi itu, rintik air hujan masih terlihat jelas berteman mesra dengan atap ijuk yang kian renta termakan usia.Terlihat Zahra dan keluarganya sedang menikmati sarapan pagi. Mereka duduk bersama, ditemani hidangan sederhana. Dari balik tirai kamar Zahra ia berkata “ Ibu hari ini masak apa? “. “Hari ini Ibu hanya bisa masak sayur bayam, nasi, dan tempe goreng, Nak”, jawab Ibu sambil tertunduk sedih.“

Tak apa Bu, yang penting hari ini kita masih bisa makan walau dengan lauk seadanya”, Zahra mencoba menenangkan. Setelah selesai sarapan, Zahra pun beranjak dari meja makan.

Terdengar sayup – sayup suara gadis kecil berpamitan pada kedua orang tuanya. “ Ayah, Ibu, Zahra berangkat sekolah dulu ya” sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“ Hati – hati, Nak” pinta Ayah. “ Baik, Yah” jawab Zahra sambil tersenyum.

Dengan batin yang teriris, “ Semoga suatu saat anganmu tercapai , Nak”, kata ayah di relung hati terdalam. Tak pernah ada yang tau setiap hari Ayah menangis kala melihat putri kecilnya harus bermandikan peluh tuk sampai ke sekolah. Yang Zahra tau, Ayahnya adalah sosok pahlawan yang kuat dan rela melakukan apapun demi masa depannya.

Me and My Brother in 2003 (Bagian Kedua)

Kala tengah hari, Zahra sudah sampai di rumah. Terdengar suara yang tak asing lagi baginya.. “ Ibu u u … lepaskan aku”, jerit Kak Ali . Maklum, Ia mengalami depresi sejak 2 tahun yang lalu. Akibat himpitan ekonomi, Ia tak dapat melanjutkan sekolah.

Hari – hari Zahra selalu diwarnai dengan jerit dan tangisan kakaknya yang ingin keluar dari kamarnya. Tidak ada pilihan lain, sejak kak Ali sakit, ia selalu merusak semua benda yang ada di sekelilingnya .

Tempo hari terdengar orang berteriak “ Hei, orang gila pergi kau dari sini !!!” umpat seorang tetangga yang barang – barangnya di rusak oleh Kak Ali. Mungkin terlalu banyak ulah Kak Ali yang merugikan orang lain. Sejak Kak Ali sakit, ia selalu merusak semua benda yang ada di sekelilingnya.

Untuk kesekian kalinya, datang beberapa warga ke gubug kecil kami “ Tok .. tok.. tok Assalamualaikum”. Ayah bergegas membuka pintu “ Waalaikumussalam, silakan masuk ,Pak”. Beberapa warga masuk ke gubug kami. “ Begini Pak, Kami datang kemari untuk meminta pertanggung jawaban”, kata pak RT.

Ayah dengan badan gemetar pun menjawab dengan terbata – bata “ Ada apa, Pak?’’. “Begini pak, Ali telah merusak beberapa fasilitas yang ada di masjid . “ Sebenarnya Kami tidak tega mengungkapkan hal ini, namun terpaksa Kami lakukan karena ini adalah fasilitas umum, Pak”. “ Berapa jumlah uang yang harus kami ganti?, jawab Ayah dengan menghela napas. “ Rp.300.000, Pak” ucap pak RT.

“Uang dari mana lagi Ya Allah? Untuk membayar kerugian tetangga tempo hari saja belum lunas” jerit Ayah dalam hati. Kemudian Ayah bergegas ke kamar untuk menemui ibu.” Bu, Ibu sudah dengarkan apa yang di katakan pak RT tadi?”. “Iya, Pak. Ibu sudah mendengar semuanya”, tukas Ibu.” Lantas uang dari mana lagi yang harus kita berikan, Bu? ,tanya Ayah sambil memegang kepala.

Ayah Terlihat hampir putus asa. “ Ini Pak. Sementara Kita pakai saja dulu uang SPP Zahra”, pinta Ibu sambil menenangkan Ayah yang kebingungan. “ Lalu bagaimana dengan Zahra, Bu?”, tanya ayah. “ Untuk Zahra, nanti Kita cari jalan keluarnya sama- sama , Pak. Yang penting masalah ini selesai dulu” papar ibu.

Menyibak tirai pintu, Ayah keluar .” Maaf , ini Pak”, sambil mengacungkan uangnya. Sekali lagi Saya minta maaf atas sikap anak saya yang kurang berkenan di hati bapak sekalian”. “ Tidak apa – apa Pak, Kami sangat maklum” jawab pak RT dan beberapa warga kemudian berpamitan pulang.

Beberapa peristiwa tersebut kemudian memaksa Ayah dan Ibu untuk mengurung kak Ali di kamar. Karena Ayah dan Ibu tentu tau jika dibiarkan, pasti kakak akan berulah lagi. Masalah dari hari ke hari terus bertambah. Hari itu, Kak Ali merobek – robek buku sekolah Zahra. Alangkah terkejutnya Zahra melihat lembaran – lembaran buku sekolahnya terkoyak “ Ya Allah Kak !! kenapa Kau robek – robek buku ku? Lantas bagaimana Aku bisa belajar jika kau rusak seperti ini ? ” , Kata Zahra tidak habis pikir.

“Ayaaah, Ibuuu, sungguh aku sangat menyesal memiliki kakak seperti dia. “ Di sekolah aku selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman – teman karena memiliki kakak yang gila, aku berusaha sabar dengan keadaan ini. Tapi apa?? Buku pelajaran ku sekarang hancuuur … aku harus bagaimana? Jerit Zahra sambil terisak sesekali mengusap air matanya. “

Bersabarlah Nak, ini ujian dari Allah. Jangan pernah kau salahkan takdir. Jangan pernah kau menyesal memiliki kak Ali” pinta Ibu menangis tersedu –sedu.

Zahra termenung mendengar ucapan ibu. Dalam hati “ Bagaimana jika suatu saat Kak Ali tiada lagi? Apakah aku sanggup? Jika masih ada saja aku begitu menyesali keberadaannya. Mata hati Zahra mulai terbuka dengan kenyataan yang ada. Seperti apapun keadaannya, dia tetap kakaknya. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu.

Me and My Brother in 2003 (Bagian Ketiga)

Perlahan , Zahra mulai berdamai dengan keadaan. Dengan keyakinan, suatu saat kakaknya pasti sembuh. Masih teringat jelas dalam memori, kala kakaknya dulu mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. “Betapa durhakanya aku apabila kini begitu membenci kakak yang begitu menyayangiku” Zahra menyesal.

Saat itu Zahra masih duduk di bangku kelas 3 SD. Semula ia adalah bintang kelas. Setiap ujian, ia selalu mendapatkan peringkat 2 di kelasnya. Ia terkenal sebagai gadis periang dan pendiam. Namun, sekarang semua itu berubah……..

Siang itu, menjadi hari begitu kelam bagi keluarga Zahra. Terlihat kepulan asap membumbung tinggi berasal dari kamar kakaknya. Saat itu, Orang tua Zahra baru saja pulang kerja. Ayah, Ibu terkejut melihat apa yang terjadi. Kak Ali ternyata membakar dirinya sendiri.” Ya Allah, Nak. Apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa jadi seperti ini? jerit Ibu dengan badan yang lunglai tak berdaya.

“Ayo bu.. Segera kita bawa ke rumah sakit”, pinta Ayah yang berusaha tabah dan tegar. Kak Ali dilarikan ke salah satu rumah sakit daerah di kota kami. Dokter dengan sigap menangani. Karena kondisinya sangat parah, saat itu kakak langsung dilarikan ke ruang UGD. Ayah dan ibu dengan cemas menunggu di depan kamar kakak.

Selang beberapa jam kemudian dokter pun keluar.

“ Maaf , secepatnya tangan putra Bapak dan Ibu harus diamputasi . Karena kondisi kulitnya yang melepuh tidak mungkin bisa dipertahankan” Kata Dokter.” Apa akibat jika tidak diamputasi, Dok?”, tanya Ayah. “ Tangan putra Bapak akan membusuk dan kemungkinan besar akan menjalar ke organ yang lain” jawab Dokter.

Setelah beberapa lama dokter mendiskusikan kondisi kakak dengan Ayah, akhirnya diambil lah keputusan operasi. Ayah menyetujuinya untuk keselamatan kakak. Dalam diskusi tersebut, ayah mencoba untuk bernego dengan dokter agar bagian yang parah saja yang di amputasi. Akhirnya, jari – jari tangan kakak diamputasi.

Tepatnya Hari Kamis sore, tindakan operasi pun telah selesai beberapa jam yang lalu.
Kak Ali sudah dipindahkan ke ruang rawat. Betapa hancurnya hati Zahra dan keluarga, melihat Kak Ali seperti mayat hidup.

Bagaimana tidak, hampir di seluruh bagian tubuhnya dibalut perban. Jika membayangkan apa yang terjadi, tentu Kami pun tak percaya. Hampir seluruh tubuh Kak Ali terbakar dan melepuh parah. Beruntung, wajah dan badannya tidak terkena percikan api sedikit pun.

2 bulan berlalu, Kak Ali akhirnya diperbolehkan untuk berobat jalan.“ Ali hari ini sudah boleh pulang, jangan lupa obatnya untuk diminum rutin”, jelas Dokter. “ Baik , Dok”, jawab Ayah sambil mengangguk paham. Dalam keadaan jiwa yang belum stabil, Zahra dan keluarga masih harus tetap menjaga kakak.

Hingga suatu hari, langit terasa begitu gelap. Gemuruh di angkasa berdentuman. Petir menyambar – nyambar. Perasan campur aduk sulit diungkapkan. Saat itu, Ayah dan Ibu masih mencari rumput di ladang.“ Alangkah perihnya hati ini, Bu.

Entah mengapa, rasanya aku ingin sekali menagis”, keluh Ayah. “ Kenapa, Pak?. Apa yang sedang membebani pikiranmu?”, tanya Ibu. “ Entah mengapa, Ayah merasa ada suatu hal besar yang akan terjadi bu”, tambah Ayah. “ Istighfar, Pak. Sebut nama Allah. In shaa Allah semua akan baik – baik saja”,ibu mencoba menenangkan. “ Astagfirullahalazhim…. “, sebut Ayah dalam hati.

Dunia seakan runtuh saat mendengar Kak Ali pergi dari rumah. Setelah Ayah dan Ibu Zahra pulang dari ladang, kemudian mereka bertanya,” Ra, Kak Ali mana?”. Sontak Zahra tak kuasa menahan air mata yang membendung seakan siap membanjiri pipinya. “ Kak, Ali pergi Yah, Bu. “ Pergi kemana??,” Ayah menangis. “ Zahra tidak tahu, Yah.

Me and My Brother in 2003 (Bagian Keempat)

Selepas pulang sekolah melihat pintu kamar Kak Ali terbuka”, Zahra terisak tak kuasa menahan air mata. “ Kamu sama sekali tidak tau?”, raut wajah Ayah penuh tanya. “ Tadi pagi, Kak Ali membangunkan aku untuk sekolah, Yah.

Lalu aku bertanya padanya ,” Kakak kok bisa keluar dari kamar?. Kak Ali “ Iya, tadi Ayah melepaskan ikatan yang ada di tanganku, dik”. Zahra tidak berpikir panjang dan percaya saja terhadap apa yang diomongkan kak Ali. “ Ya Allah, Dimana kau Nak?, kata Ayah putus asa.

Bertahun – tahun Ayah mencari…..
Semangat Ayah yang mulanya membara tuk menemukan Kak Ali, pada akhirnya meredup seiring ekonomi Kami yang tidak memungkinkan. Harapan satu –satunya saat ini adalah Zahra.

Hingga suatu hari ayah berpesan” Kini, Kak Ali sudah tidak ada. Ayah harap kamu bisa menjadi anak yang lebih baik dan menjadi naungan Ayah dan Ibu diusia senja nanti”. Zahra memegang tangan ayah sambil berkata,”In Shaa Allah, Yah. Dengan izin Allah Zahra akan berubah menjadi anak yang lebih baik lagi. Zahra janji akan merawat Ayah dan Ibu”. Setelah mendengar jawaban tulus Zahra, akhirnya Ayah tersenyum dan beranjak memeluk putri kecilnya. “ Terima kasih , Nak”.

10 tahun berlalu…

Semenjak perginya Kak Ali, Kami hanya hidup bertiga. Tuhan punya kehendak lain, Zahra akhirnya diterima di Universitas impiannya. “ Ayaaahhh, Ibuuuu…. Zahra diterima di ***”, Zahra berlari kemudian memeluk Ayah dan Ibunya. “ Ini, Yah”, sambil menyodorkan surat pemberitahuan penerimaan mahasiswa.

“Alhamdulilah…. Terima kasih Ya Allah“, Ayah dan ibu sontak bersujud. Beberapa saat berlalu setelah itu, Ayah terlihat bingung dan termenung di teras rumah. “ Ayah kenapa?”, Tanya Zahra. “ Ayah senang kau diterima di PTN impianmu , Nak. Tapi Ayah bingung dari mana biaya kuliahmu nanti”. “jreng.. jreng.. jreeeeeng”, Zahra mengeluarkan kertas lagi dari sakunya.

“Apa itu, Nak?, Ayah bertanya. “ Zahra dapat beasiswa. Ayah tidak perlu cemas memikirkan soal biaya . Ayah terlihat tersenyum bahagia hingga sulit berkata. Akhirnya, Zahra bisa melanjutkan pendidikan sesuai impiannya. “ Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, Kak Ali”, janji Zahra dalam hati. “ Doakan Zahra sukses, Yah”, Zahra memeluk Ayahnya erat.

“ Bersemangatlah dalam belajar, Nak. Jangan Lupa untuk senantiasa beribadah, berusaha dan berdoa. Doa Ayah dan Ibu selalu mengiringi langkahmu”, Pesan Ayah yang tak mungkin Zahra lupakan.

Cerpen ini ditulis oleh Rochayani kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Tags: ,
About

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

POST YOUR COMMENTS