Cerpen : Me and My Brother in 2003

0
78
Cerpen : Me and my brother in 2003
Cerpen : Me and my brother in 2003

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Me and my brother, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

4Me and My Brother in 2003 (Bagian Pertama)

Malam itu, tetesan air hujan serta dinginnya tiupan angin menembus dinding – dinding renta bambu yang terkoyak termakan usia. Seorang gadis kecil bernama Zahra begitu sibuk berkutat dengan buku pelajaran.

Terdengar suara dari balik pintu “ Sedang apa kau, Nak?”, tanya Ibu. “ Zahra sedang belajar , Bu” papar Zahra. “ Belajarlah …. tapi ingat, jangan sampai larut malam. Tidak baik untuk kesehatanmu, Nak”, pinta Ibu. “ Segera tidur jika sudah selesai, esok kau sekolah “, tambahnya. “Baik, Bu”, Zahra tersenyum.

Tidak terasa, malam semakin larut. Sinar pelita mulai meredup. Cahaya bintang mulai menghilang, satu per satu. Seakan menghantarkan gadis kecil itu untuk beristirahat. Lembar demi lembar buku telah Zahra baca. Karena malam sudah larut, akhirnya ia memutuskan untuk tidur.

Sang fajar mulai meninggi, si jago mulai berkokok bersaut – sautan seakan ikut bersemangat mengawali pagi nan cerah ini. Seperti biasa menyusuri jalan setapak bak permadani coklat yang begitu licin sisa hujan semalam. Zahra dengan tertatih – tatih melangkahkan kakinya menuju sekolah pagi itu.

Maklum, Zahra adalah gadis miskin yang hidup serba pas – pas an. Untuk sebagian orang, mungkin bersekolah adalah hal yang lumrah. Namun untuknya, sekolah menjadi bagian yang rumit dan membutuhkan perjuangan keras.

Bagaimana tidak, untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi pun sulit. Tidak ada yang tau apakah esok ia dan keluarganya masih bisa bertahan atau tidak. Setiap hari ia harus menempuh berkilo – kilo meter tuk sampai ke sekolah. Berteman setia dengan sepatu koyak lengkap berjahit di sana – sini, ia tetap bersemangat menimba ilmu.

Di sebuah gubug kecil, beratap ijuk berdinding bambu, ia tinggal bersama kedua orang tua beserta kakak lelakinya. Pagi itu, rintik air hujan masih terlihat jelas berteman mesra dengan atap ijuk yang kian renta termakan usia.Terlihat Zahra dan keluarganya sedang menikmati sarapan pagi. Mereka duduk bersama, ditemani hidangan sederhana. Dari balik tirai kamar Zahra ia berkata “ Ibu hari ini masak apa? “. “Hari ini Ibu hanya bisa masak sayur bayam, nasi, dan tempe goreng, Nak”, jawab Ibu sambil tertunduk sedih.“

Tak apa Bu, yang penting hari ini kita masih bisa makan walau dengan lauk seadanya”, Zahra mencoba menenangkan. Setelah selesai sarapan, Zahra pun beranjak dari meja makan.

Terdengar sayup – sayup suara gadis kecil berpamitan pada kedua orang tuanya. “ Ayah, Ibu, Zahra berangkat sekolah dulu ya” sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“ Hati – hati, Nak” pinta Ayah. “ Baik, Yah” jawab Zahra sambil tersenyum.

Dengan batin yang teriris, “ Semoga suatu saat anganmu tercapai , Nak”, kata ayah di relung hati terdalam. Tak pernah ada yang tau setiap hari Ayah menangis kala melihat putri kecilnya harus bermandikan peluh tuk sampai ke sekolah. Yang Zahra tau, Ayahnya adalah sosok pahlawan yang kuat dan rela melakukan apapun demi masa depannya.

TINJAUAN IKHTISAR
Sangat Mengedukasi
Memberi motivasi
Memberi pemahaman hidup
Cerpen nya punya pesan yang bagus
BAGIKAN
Berita sebelumyaPuisi : Balada Pembawa Cahaya
Berita berikutnyaCerpen : Mozaik Hidup
Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

LEAVE A REPLY