Cerpen : Mentari Di Lubuk Hati

Mentari di lubuk hati

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Mentari di lubuk hati, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Mentari Di Lubuk Hati (Bagian Pertama)

Hari itu, matahari yang seakan bersembunyi dibalik tebalnya gumpalan gelap menghentikan perjalanan menuju rumahku. Angin berhembus hingga banyak daun tersapu. Secangkir coklat panas akan menghangatkan, pikirku. Hingga akhirnya aku mengunjungi sebuah cafe yang tak jauh dari tempat mengajarku.

Seketika itu, turunlah butiran bening menuruni bumi dengan cepat tanpa ampun. Benar ternyata yang dikatakan temanku, hujan itu mengandung 1% air dan 99% kenangan rindu. Secangkir coklat panas digenggaman dan sepotong kue coklat dan hiasan cherry yang rupawan menjadi temanku. Saat itu, sambil menghadap kaca dengan hiasan aliran air alami yang begitu deras, telponku berdering mengaburkan lamunanku. “Bu Nayla, Apa Kabar?” begitulah isi pesan itu.

Hanya itu, tapi membuatku terkaku. Bisu. Seolah ada petir menyambar hatiku hingga turun hujan di mataku yang tak kalah lebatnya dengan cuaca diluar. Ya, pesan itu mengejutkanku. Terlebih pengirim dari pesan itu, adalah orang yang aku rindu………. “Azam ???”.

Kala itu, ketika aku memutuskan untuk mengikuti program relawan di suatu tempat yang amat sangat jauh dari hingar-bingar perkotaan. Sekitar sepuluh orang tenaga pendidikan diterjunkan, dan tiap orang ditempatkan di desa yang berbeda-beda untuk tiga bulan lamanya.

Desa yang damai. Udara yang sangat sejuk, dan segarnya air yang masih murni. Jutaan pohon berdiri dengan gagahnya, hal yang jarang aku saksikan diperkotaan. Langit berwarna biru segar karena belum tersentuh gedung-gedung pencakar langit. Ah ya, tentu saja tidak ada koneksi sama sekali. Jangankan untuk wifi, koneksi hp saja tidak ada, Ah. Memang yang punya hp pun tak ada.

Penduduk harus ke kota jika ingin berkomunikasi melalui wartel. Beruntungnya, listrik sudah ada. Hanya saja, penerangan jalan yang belum tersedia. Hingga kala senja tiba, mereka berpergian dengan cahaya lentera. Televisi pun masih menjadi barang langka.

Saat pertama kali menjejakkan kaki disana, setiap orang yang kulewati memandangiku dari kepala hingga ujung kaki seolah aku spesies langka. Saat itu, aku tinggal di rumah Bu Asih, seorang ibu tunggal yang umurnya satu tahun lebih tua dari ibuku. Dia mempunyai satu orang anak yang sudah bekerja diluar kota. Bu Asih juga merupakan salah satu pengajar SD disana, dan menjadi tempat mengaji untuk anak-anak.

Tak heran, semua penduduk disana pasti kenal Bu Asih. Rumah yang tak begitu luas, berlantaikan keramik, sejuk, bersih, tatanan yang rapih, sangat membuatku nyaman. Namun, aku dapat merasakan aura kesepian disana. Bagaimana tidak, Bu Asih tinggal sendirian disana. Tanpa suami, tanpa anak karena sedang merantau dan jarang pulang.

Hanya saat lebaran katanya. Pernah diajak pindah, tapi Bu Asih lebih nyaman di desa itu, berkumul bersama warga dan anak-anak disana menjadi obat kesepian baginya. Tiap hari minggu dia ke kota untuk menelpon anaknya tercinta.

Tags: ,
About

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

POST YOUR COMMENTS