Cerpen : Mozaik Hidup

oleh
Cerpen : Mozaik hidup
Cerpen : Mozaik hidup

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Mozaik Hidup, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Mozaik Hidup (Bagian Pertama)

LEMBAYUNG jingga menerpa wajah letihku, mengusir raut wajah yang suntuk, dikejar jadwal perkuliahan yang tak bersela, selalu saja aku memilih untuk mengambil jalan pintas lewat pedesaan menuju rumah, agar dapat menghirup udara segar pedesaan setelah disiram hujan dua jam yang lalu, itu lebih baik dari pada melewati jalanan kota yang sibuk setiap waktu.

Tidak ada celah udara yang tidak terkontaminasi oleh polusi lalu-lalang kendaraan kota. Setidaknya melewati pedesaan membuat suasana tenang tanpa kebisingan dan polusi udara.

Sepanjang perjalananku pandangi kemegahan gunung Slamet, walau tak ada bedanya setiap aku melaluinya namun banyak peristiwa yang aku lihat dapat mengingatkanku berbagai macam potongan mozaik hidup yang kian menyatu membentuk lukisan kisah.

Fenomena-fenomena yang nyata tergambar di lensaku sepanjang perjalanan merupakan alarm pengingat masa laluku setiap jangka dimensinya. Setiap perjalanan pulang menuju rumah dari kampus seperti aku menuju memori perjalanan hidupku sampai saat ini.

Namun tetap saja aku harus melewati jalanan kota untuk menuju jalan pintasku karena memang aku berkuliah di kota satria yaitu Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman. Pemandangan yang tak heran lagi banyak pemuda yang duduk dipinggiran trotoar jalan dekat pemberhentian lampu lalu lintas, mereka bergaya rokers, khas dengan warna gelap dan celana jins, beranting, bertato, dan membawa gitar. Mungkin gitar itulah satu-satunya aset berharganya.

Betapa mirisnya hati ini melihat saudara-saudaraku yang memiliki nasib tak seberuntung aku yang bisa menikmati remajaku di bangku sekolah bahkan hingga kuliah. Aku sangat bersyukur walaupun aku tak seperti teman-temanku yang dari kota dengan semua serba gemerlap, tapi aku lebih beruntung dari mereka yang tidak bisa meneruskan sekolah hingga turun ke jalanan.

Cerpen : Mozaik Hidup (Bagian Kedua)

Butuh 30 menit untuk sampai ke rumah, 10 menit berlalu pemandangan yang membuat aku memutar kembali logikaku ketika aku melihat mobil ambulan berlalu dengan kecepatan penuh, pikiranku melayang hingga mendarat pada kenangan akan sahabat SMA yang telah tiada sekitar dua bulan yang lalu, ia adalah Fia, dia sahabatku selama 3 tahun menimba ilmu bersama diketahui terkena kangker stadium akhir beberapa bulan sebelum ujian, namun ia tetap semangat untuk belajar dan berani bercita-cita serta merangkai rencana ingin melanjutkan kuliah dan bekerja untuk membantu beban keluarga tentang biaya kemoterapinya.

Dengan perjuangan Fia melawan penyakitnya, dia dapat menyelesaikan study SMA. Namun Tuhan lebih mencintai dan memanggil Fia terlebih dahulu pulang menghadap Nya, kami sahabat-sahabatnya shok mengetahui kabar ini, karna kesibukan kami masing-masing di dunia perkuliahan, kami tidak sempat bertemu dengannya, saat kami ingin menengok ternyata Fia dirujuk ke Jogja dan paginya kami mendapatkan kabar Fia telah tiada. Fia diantar dengan ambulan pulang ke rumah dengan raga tanpa jiwanya.

Betapa berharganya waktu kawan, betapa singkatnya dimensi waktu dunia ini kawan. Saat aku mengeluh akan sakit ringanku karena kelelahan seharian kuliah aku ingat seperti apa perjuangan kawanku melawan penyakitnya agar tetap sekolah hingga ia dapat menyelesaikan study.

Jika senja ini aku mengeluh akan lelahku, aku bertanya bagaimana juga dengan Bapaku yang kerja di atas aspal yang setiap hari menghadapi polusi udara perkotaan tanpa mengeluhkan lelah dan kantuknya terus terjaga demi dapat mengantarkan barang tepat waktu ke pabrik antar kota.

Bapakku merupakan alasan mengapa aku terus berusaha yang terbaik dalam kuliah. Kau tau kawan, pekerjaan bapakku tak selalu mulus, tepat sehari sebelum ujian nasional Bapakku mengalami kecelakaan, truk yang bapak kendarai guling menabrak tiang listik dan rumah warga, muatan truk bapak tumpah ruah di jalanan sehingga menimbulkan kemacatan, untunglah bapakku tidak apa-apa namun ekonomi keluarga kami kacau saat itu. Semua kerugian ditanggung Bapakku tanpa ada bantuan keringanan dari bos Bapakku.

Kerugian mencapai angka 50 juta lebih dan itu di masukkan data hutang Bapakku untuk mengganti kerugian kecelakaan itu. Betapa pesimisnya saat itu, entah dapat meneruskan kuliah atau tidak setelah lulus SMA. Bapakku pemberani dan keras kepala, beliau mengatakan bahwa untuk mengkuliahkanku menjadi dokter butuh 100 juta pun akan Bapak biayai, beliau memintaku tidak memikirkan kondisi keuangan yang Bapak minta Lintang fokus dengan studynya.

Aku memimpikan dapat beasiswa kuliah namun nihil banyak usaha yang aku lakukan untuk mendaftar dan mengikuti ujiannya semua gagal. Tidak lama dari kecelakaan itu aku mendapatkan kabar Bapak kecelakaan lagi dan harus diamputasi ujung jari kanannya yang telunjuk. Rasanya sungguh tak kuat lagi untuk fokus belajar SBMPTN, karena itu SBMPTN aku gagal.

Cerpen : Mozaik Hidup (Bagian Ketiga)

Hutang Bapak kembali membengkak karena biaya operasi kecelakaan itu. Namun berbeda dengan Bapak, beliau terus bekerja walau mengalami semua itu karena Bos Bapak mewajibkan Bapak terus bekerja tanpa henti untuk melunasi hutang yang berpuluhan juta itu.

Aku sempat menyusun rencana akan bekerja setelah lulus membantu bapak, namun bapak melarang, aku harus sekolah setinggi-tingginya karena bapak tidak ingin anaknya menjadi kuli seperti dirinya.

Setengah perjalanan telah aku tempuh, tibalah di jalan pintas pedesaan. Aku melewati sekolahan SMP dan banyak sekali anak-anak berseragam putih biru, sedang mendapatkan pembekalan untuk UN dari guru-gurunya.

Anganku melayang jauh tentang masa SMP aku dan disanalah masa dimana perubahan hidupku dimulai, dari sekolah dasar yang bernama Lintang ini tak pernah berprestasi sama sekali. Lintang kecil malas belajar dan tidak diperhatikan khusus oleh Mamahnya, karena sejak TK aku memiliki adik yang sangat istimewa bernama Yuli, dia sangat luar biasa berbeda dengan anak usia sebayanya. Karna itulah perhatian Mamah tidak dapat beralih darinya.

Adikku Yuli dilahirkan dengan semua kelebihannya serta keterbatasanya, sebagai penyandang kelainan Autisme dan Hiperaktif. Sampai sekarang adikku Yuli belum bisa sekolah karena memang tidak ada biaya untuk menyekolahkannya di sekolah luar biasa, jika normal dia mungkin sekarang sudah SMP kelas 2.

Betapa sabarnya Mamahku mengurus adikku Yuli yang belum bisa melakukan apapun sesuai dengan semestinya anak normal dan ia masih seperti anak balita yang tidak mengerti apa-apa. Masa kanak-kanakku dan masa SMPku yang terkenang sekali berbeda dengan masa kanak-kanak adikku yang tidak punya kenangan apapun, bahkan masa kecilnya 13 tahun ini dihabiskan di rumah bersama kami keluarganya.

Mungkin hanya dirinyalah satu-satunya anak yang tidak memiliki teman sebayanya. Jika memikirkan masa depan adikku Yuli kami sekeluarga sudah pasrah atas apa yang Tuhan takdirkan kepada keluarga kami.

Aku bersyukur memiliki adik seperti Yuli karena dia selalu mengingatkanku akan betapa banyak karunia Allah yang telah berikan kepadaku hingga aku dapat memiliki banyak kenangan yang hingga kini dapat aku ceritakan, karena Yuli tidak dapat mengungkapkan apa yang ada di perasaannya, keinginanya, kesenangan ataupun kesedihan. Syaraf otaknya tidak dapat mengkoordinasikan rangsang yang benar untuk koordinasi Yuli.

Kembali ke masa SMPku kawan, dimana aku mengalami mertamorfosis disana dalam prestasi, untuk pertama kalinya aku mendapatkan rengking hingga tiga besar di kelas dan nilai ujian tergolong tinggi, aku mendaftarkan diri bidikmisi di SMA Negri terdekat di kecamatan, dan hasilnya sempurna karena perubahan pola belajarku dengan mengikuti bimbingan belajar, belajar lebih serius dalam pelajaran, aku mendapatkan bidikmisi siswa berprestasi di SMA dan alhasil aku sekolah 3 tahun gratis tanpa biaya sedikit pun.

Aku sangat senang saat itu menjadi siswa terpilih dan dapat membanggakan orang tua, serta meringankan beban orang tuaku. Banyak hak yang aku dapatkan dari status beasiswa berprestasi itu serta banyak pula kewajiban yang aku jalankan, aktif dalam semua organisasi sekolah, berprestasi dalam lomba-lomba, juga dalam bidang akademik harus lebih baik dari reguler.

Cerpen : Mozaik Hidup (Bagian Keempat)

Banyak sekali organisasi saat itu dari OSIS, PRAMUKA, KIR, ROKHIS, SATGAS ADIWIYATA, TEATER, Tim OSN. Dan lomba-lomba yang aku ikuti tentu saja dibidang sastra karena dari SMP aku sangat menyukai guru Bahasa Indonesiaku, beliau selalu memotivasi muridnya bahkan nilaiku selalu menjadi nilai tertinggi yang selalu beliau banggakan.

Dan karena banyak sekali kegiatan organisasi non akademik membuat nilai akademikku naik turun grafiknya itulah alasan tidak terseleksi SNMPTN.

Sampai di situ anganku akan masa-masa metamorfosisku aku tertawa simpul mengingat masa SMAku yang ku rasakan seperti rumahku menjadi terminal sesaat pemberhentian untuk istirahat dan tujuan yang selalu aku datangi dan aku selalu ada di sana adalah sekolah.

Istilahnya sekolah sudah seperti rumah bagiku, menginap di sekolah sudah biasa, bahkan aku tidak mengenal hari libur saat itu. Bisa dibilang liburan adalah mitos bagiku, hari libur aku habiskan di sekolahan begitu hingga waktu ujian tiba barulah terbebas dari semua organisasi dan kegiatan acara non akademik.

Tak terasa aku sudah dekat rumahku dan sampai aku di desa tetangga. Aku berpapasan dengan Cinta pertamaku, seseorang yang membuat aku termotivasi menjadi pribadi yang lebih baik. Dia juga sahabatku bernama Iar.

Cinta konyol masa SMA namun hingga sekarang Iar tetap menjadi sahabat terbaikku. Jika ada quotes yang menyatakan tidak ada persahabatan murni tanpa rasa itu benar kawan. Namun kemana cinta membawa kita itu tergantung pada pribadi kita masing-masing menjadikan cinta sebagai motivasi lebih baik atau sebaliknya.

Dahulu Iar pernah mengatakan kalau teman SMKnya biasa dapat lolos SNPTN di PTN favorit di situ aku termotivasi supaya aku yang anak SMA jangan kalah dengan SMK dan harus bisa tembus PTN dengan jurusan yang aku impikan yaitu Biologi Universitas Jenderal Soedirman.

Aku belajar SBMPTN hingga Bapakku membelikan aku buku tebal persiapan SBMPTN, setelah pengumuman hasilnya nihil, aku gagal. Namun tidak sampai itu perjuanganku mengingat perjuangan Bapak tanpa henti agar aku tetap sekolah . Aku mendaftar SPMB UNSOED dan hasilnya tidak pernah menghianati proses.

Sepenggal mimpiku telah aku raih, dan kakak dari Yuli ini pulang dengan status Mahasiswa D3 BIOLOGI UNSOED.

Inilah potongan kisah mozaik hidupku. Aku akan terus berjuang mewujudkan mimpi-mimpiku, mimpi yang telah aku tulis sewaktu SMP itu satu per satu telah ku raih. Mimpi menjadi seorang pengajar walaupun D3 namun aku akan terus berjuang sampai menjadi sarjana.

Tamat ….

Cerpen ini ditulis oleh Intan Hafidah Nur Hansah kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.