Cerpen : Peramal Senja

oleh
peramal senja
Cerpen : Peramal Senja

Web portal pendidikan – Cerpen kali ini berjudul Peramal senja, yang sudah dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Cerpen : Peramal Senja (Bagian Pertama)

Sayup-sayup angin menerpa kulitku. Dapat kurasakan hawa dingin yang semakin merambat sampai ke dalam pakaianku. Sehingga aku memutuskan untuk mengenakan jaket yang sedari tadi aku tidurkan di tanah. Suara air mancur di sebelah kananku menemani perburuanku hari ini.

Layaknya pemburu hewan, aku tidak ingin melewatkan satupun hari-hariku tanpa berburu. Kulirik arloji kecilku, dan menunjukkan pukul 17.22. Sebentar lagi akan kulihat rona merah jingga pada semburat langit yang membuatku selalu kagum dan bersyukur telah hidup di dunia ini.

Sembari menunggu waktu yang pas, aku membenahi kamera & tripodku, mencoba mencari sudut yang sempurna agar aku memiliki kenangan dalam setiap jepretannya. Angin ini semakin kejam menerpa. Aku menggosok kedua telapak tangan, agar sedikit menyisakan kehangatan. Orang-orang berlalu lalang di depan kameraku. Walaupun tidak sebanyak minggu lalu, tapi mereka cukup mengganggu.

Beberapa detik lagi mungkin waktu yang pas untuk membidik senja. Kedua tangan sudah siap memegang kamera. Aku hitung mundur. 3, 2, 1.

CKRIK!

Suara kepuasan telah membuatku lega karena berhasil mengabadikan sore yang sempurna ini. Aku pikir satu foto saja tidak cukup, karena hari ini lumayan cerah. Aku putuskan untuk mengambil beberapa gambar lagi. Kembali kufokuskan lensaku.

‘’Astaga!’’ Aku terkejut dan sedikit mundur ke belakang. Dengan tetap menatap orang itu, aku mengatur nafas. Muncul orang tak dikenal tepat di depan kameraku. Mungkin raut wajahku kali ini cukup bingung sekaligus marah. Tapi aku memilih untuk diam sekejap.

‘’Anda siapa ya mas?’’ tanyaku pada laki-laki berperawakan tinggi menjulang itu. Mungkin tingginya sekitar 180. Aku terus memperhatikannya, begitu juga dengannya. Umurnya mungkin sepantaran denganku, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, rambutnya lurus, dan yang paling penting alisnya tebal. Benar-benar ciri khas bagi dirinya. Sungguh aku tidak mengenalnya dan mungkin aku tidak ingin mengenalnya.
Rambutnya sayup-sayup diterpa angin. Tapi dia masih kokoh berdiri.

‘’Aku adalah senjamu’’
Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Dia berdiri santai, dan masih di depan kameraku. Aku harap dia bukan penghipnotis atau orang aneh lainnya. Lantas aku mengernyitkan dahi.

‘’Senjamu yang kau buru namun tidak tega untuk kau bunuh’’ lanjutnya kemudian pergi dari posisi semula. Aku mengedipkan mata berkali-kali. Mencoba menelan apa yang barusan dia katakan. Aku kehilangan kata-kata. Suara ramai kembali menyadarkanku, barusan itu bukan mimpi.

Pertemuan ini singkat. Sesingkat senja yang lari dari kenyataan. Sesingkat fajar yang membalikkan malam. Aku masih menatapnya, dalam sorot mata palsu di sore hari ini. Kau datang, tapi kau pasti juga akan pergi. Beruntung, aku tidak cepat meletakkan hati, karena hatiku tidak untuk diletakkan. Namun untuk dijaga.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.