Web portal pendidikan – Selamat pagi sobat belapendidikan, kali ini saya akan menjelaskan opini mengenai judul “dimana letak relevansi judul, isi berita dan realita.” Untuk lebih lengkapnya dapat kita ulas dalam artikel dibawah ini.

Dimana Letak Relevansi Judul, Isi Berita dan Realita ?


Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat saat ini tidak terlepas dari bermunculan informasi atau berita yang begitu beragam, baik dari sisi kecepatan maupun kemudahan dalam mengakses suatu informasi yang dibutuhkan, entah itu informasi atau berita yang benar maupun informasi atau berita yang palsu alias hoax.

Hoax atau pemberitaan palsu, yang mana diartikan sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Berita hoax telah mengoyak generasi muda kita saat ini. Pasalnya, pengguna media sosial yang secara umum di dominasi mereka yang masih berusia muda. Tak sedikit pula yang masih berstatus sebagai pelajar.

Oleh karena demikian berita hoax menjadi tanggungjawab pendidikan. Para pendidik dituntut untuk cermat dalam membaca serta melihat keadaan yang terjadi dilapangan.

Kehadiran mereka dalam menangkal berita hoax terhadap anak didik sangat dibutuhkan, baik itu sekolah, maupun guru tentunya harus memberi pembelajaran, pengajaran dan pendidikan terkait bahaya informasi atau berita hoax tersebut.

Baca juga : Budaya Literasi Sebagai Solusi Mengatasi Berita Hoax

Karenanya, peranan warga sekolah dalam menyikapi informasi atau hoax ini sangatlah penting. Berkembangnya media sosial memudahkan kita dalam mendapatkan informasi atau isi berita terkini yang sedang hangat diperbincangkan.

Fasilitas “share” di media sosial juga mempermudah kita dalam berbagi informasi yang kita dapatkan. Namun sayangnya, kemudahan tersebut kerap kali disalahgunakan oleh berbagai pihak untuk menyebarkan berita bohong atau informasi hoax.

Di zaman kini, sering kali kita temui berita-berita yang isinya tidak relevansi dengan judulnya, bahkan realita yang terjadi. Hal ini disengaja pihak penulis dengan berbagai tujuan.

Agar mendapatkan jumlah pembaca yang tinggi, menjatuhkan reputasi orang, dan menyebarkan ujaran kebencian di antara masyarakat. Dengan persepsi jurnalisme seperti ini, tentunya akan hilang makna bahasa dalam kehidupan kita.

Bagaimana nasib jurnalisme di tangan generasi muda nantinya apabila sekarang sudah terlalu banyak diberi asupan berita palsu atau hoax?


Dalam realita yang terlihat bahwa informasi atau berita hoax menjadi suatu isu dan perbincangan hangat di media massa maupun media jejaring sosial belakangan ini yang dianggap meresahkan publik dikarenakan informasi yang didapatkan tidak relevansi dengan berita yang sebenarnya.

Dampak yang timbul dengan adanya berita hoax antara lain merugikan suatu pihak.

Dari paparan isi bahkan judul yang bernilai provokatif terhadap beritanya yang tidak akurat dapat menuai berbagai opini negatif, tentu opini negatif ini dapat merugikan pihak-pihak tertentu.

Baiknya kita jangan langsung percaya dari judul/isi yang terkesan ilmiah sekalipun. Jangan sampai kita malah jadi gagal informatif.

Dalam realita yang ada, Informasi atau berita apapun yang kita peroleh atau hendak kita bagi sebaiknya diperiksa bahkan dikoreksi terlebih dahulu kebenarannya, jangan langsung disebarkan.

Karena bisa jadi informasi atau berita tersebut merupakan sebuah kebohongan belaka atau pula suatu modus tertentu untuk memancing kita meyakini seakan-akan informasi atau berita tersebut benar apa adanya.

Banyak sekali berita yang tersebar di internet bernada provokatif. Berita seperti itu tentu untuk tidak langsung dipercaya, perlu dilakukan cross check.

Kita bisa melakukan cross check menggunakan mesin pencari seperti Google, untuk memastikan apakah informasi atau berita yang kita terima tersebut ditulis juga oleh situs berita lain, dan pastikan situs yang menuliskannya kredibel dan dikenal luas dalam dunia informasi, sehingga kita bisa memastikan bahwa informasi atau berita tersebut benar apa adanya.

Yang kedua, kita dapat mengecek gambar/foto yang disertakan dalam informasi atau berita tersebut. Sering kali pembuat berita palsu juga melakukan editing foto untuk memprovokasi para pembaca.

Baca juga : Lestarikan Bahasa, Kuburlah Berita Hoax

Biasanya berita hoax menggunakan foto yang telah diedit untuk memprovokasi para pembaca. Jangan langsung percaya begitu saja, apalagi jika fotonya tidak masuk akal.

Lalu, dengan mengkaji lebih dalam siapa penulis beritanya. Penting untuk mengetahui siapa penulis berita tersebut.

Karena saat ini banyak sekali berita yang dibuat hanya agar menjadi viral di media sosial dan penulisnya kebanjiran uang karena websitenya yang dipasangi iklan tersebut dikunjungi oleh banyak orang.

Kemudian langkah terakhir mungkin tidak kalah penting ialah baiknya menggunakan akal sehat kita di saat membaca berita, jangan terlalu mudah percaya, jangan mudah terpancing, dan jangan ragu untuk mengecek keaslian dan kebenaran sebuah berita yang kita terima tersebut.

Selain dari pihak pemerintahan dibutuhkan lapisan lainnya untuk mengajak masyarakat lebih waspada terkait berita hoax.

Bagaimana Cara Untuk Memerangi Berita Hoax ?


Untuk memerangi hoax diperlukan peran aktif dari berbagai lapisan masyarakat, sehingga hoax dapat diatasi dengan efektif dan tidak berpengaruh terhadap sikap masyarakat serta mengganggu kehidupan masyarakat.

Pendidik merupakan bagian dari elemen masyarakat memiliki tanggung jawab dan peran yang penting dalam memerangi hoax dengan cara mengedukasi siswa di sekolah, keluarga, kolega dan masyarakat.

Baca juga : Peran Mahasiswa Dalam Menjunjung Tinggi Bahasa Untuk Meminimalisir Hoax

Satuan pendidikan merupakan tempat yang strategis dalam memerangi hoax bagi pelajar.

Sekolah dapat menyusun program edukasi penolakan berita hoax yang terintegrasi pada setiap mata pelajaran, guru dapat menyisipkan berita hoax yang berkembang dengan membandingkan informasi secara teoritis dan fakta, sehingga siswa langsung dapat menganalisis perbandingan antara fakta dan opini yang tersebar.

Dengan demikian, siswa dapat mengambil keputusan bahwa apa yang disebarkan dalam media sosial itu tidak asal diterima, melainkan harus dipilah melalui proses ilmiah (diamati, dipertanyakan kebenarannnya, dicari faktanya, dianalisis, baru disimpulkan dan menjadi keputusan).

Adapun beberapa hal terkait edukasi anti hoax dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan dalam lingkungan sekolah diantaranya dengan memberikan umpan balik terhadap berita yang unsurnya bernilai provokatif.

Karena tidak jarang tulisan tersebut dimanfaatkan para penyebar berita palsu dengan mendistorsi judul yang provokatif meski sama sekali tak relevansi dengan isi berita.

Langkah ini begitu penting agar menyuruh meneliti kembali alamat situs dalam konten website tersebut, hal ini dimaksudkan agar pembaca tidak menelan mentah-mentah ucapan seorang narasumber yang dikutip oleh situs berita.

Lalu, mengintegrasikan nilai edukasi anti hoax dalam proses kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam kelas.

Hal lainnya yaitu melakukan sosialisasi beberapa dampak yang ditimbulkan dari berita hoax dalam pembinaan siswa, baik pembinaan yang dilakukan oleh wali kelasnya sendiri dalam kelas maupun pembinaan secara umum oleh Kepala Sekolah dalam lingkungan sekolah.

Semakin besarnya jumlah penguna internet dan dengan mudahnya mendapatkan informasi saat ini menjadikan berita hoax semakin dengan mudah tersebar.

Aturan dan pasal untuk menjerat hukuman untuk penyebar hoax belum mampu mengendalikan jumlah berita hoax yang terus terproduksi setiap waktu. Jadi sebaiknya kita berhati-hati dalam mempercayai sebuah berita.

Jangan terlalu mudah percaya pada berita karena bisa jadi berita yang kita baca tersebut adalah berita yang hanya karangan yang dibuat seseorang demi keuntungan pribadi orang atau golongan tertentu.

Jangan mau di adu domba oleh pihak yang hanya ingin mengambil keuntungan semata.

Dengan demikian hendaknya masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan akan internet sehat dengan literasi media sehingga dapat mengenali ciri-ciri berita hoax, dan penerima berita dapat mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dalam mengambil makna dari suatu berita.

Kedepannya juga, agar generasi muda dapat menjadi bagian dari jurnalisme yang menulis kebenaran.

Itulah penjelasan lengkap dari judul “dimana letak relevansi judul, isi berita dan realita“. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pengunjung belapendidikan.com dengan cara mengisi komentar pada kolom yang sudah kami sediakan dibawah.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]

Mas Hafiz
Bukan penulis profesional namun selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk para pembacanya. Mencerdaskan generasi milenial adalah tujuan situs ini berdiri. 800 Penulis sudah gabung disini, kamu kapan ? Ayo daftarkan dirimu melalui laman resmi belapendidikan.com