Filter Hoaks Dengan Literasi

oleh
Filter hoaks dengan literasi - Penta kusuma dewi
Filter hoaks dengan literasi - Penta kusuma dewi

Web portal pendidikan – Hasil kiriman esai pada hari ini dengan judul filter hoaks dengan literasi , disampaikan dan dikirimkan langsung melalui email lombaesai@belapendidikan.com

Filter Hoaks Dengan Literasi

Hoaks atau berita yang tidak benar kenyataannya semakin hari semakin menjamur. Istilah hoaks yang dulu terasa asing pun kini seakan sudah akrab diperdengarkan di telinga kita.

Melalui teknologi yang begitu canggih seperti sekrang ini, dalam hitungan detik saja, hoaks dapat menyebar begitu cepatnya. Salah satu media penyebaran hoaks saat ini adalah sosial media. Di Indonesia sendiri, masyarakatnya termasuk masyarakat yang aktif di sosial media.

Hal ini dibuktikan dengan Data Facebook Indonesia kuartal II tahun 2017 pengguna facebok di Indonesia mencapai 115 juta atau 44% total penduduk Indonesia (voaindonesia.com 28/8/2018). Dan yang perlu diingat sosial media itu sendiri tidak hanya facebook melainkan ada banyak jenisnya dan masing-masing orang di Indonesia pasti tidak hanya mempunyai 1 akun sosial media saja.

Padahal hoaks yang telah beredar mempunyai berbagai jenis dampak buruk dan jika dikaitkan dengan data pengguna sosial media tersebut pastilah dampak buruk hoaks dapat menyebar dengan luas dan cepatnya. Bisa dibayangkan bukan bagaimana dampak dari hoaks yang menyebar tersebut?

Penyebaran informasi yang dengan cepatnya dapat diakses semakin tak terbendung. Masyarakat Indonesia cenderung menyebarkan hal-hal yang mereka suka kepada orang lain tanpa memperdulikan baik buruknya tindakan mereka. Hal ini dilakukan oleh semua orang termasuk kalangan terpelajar.

Informasi yang mereka terima misalnya berupa suatu berita yang memiliki judul menarik cenderung akan mereka bagikan kepada orang lain atau bahkan mereka langsung memberikan argumen yang menurut mereka benar namun kenyataannya mereka hanya berpacu pada judul berita itu sendiri tanpa membaca penjelasan beritanya dan hal itu tidak terjadi pada satu orang saja. banyak orang yang melakukan hal serupa yang memunculkan argumen-argumen yang bisa dibilang tidak sepantasnya dinyatakan.

Masyarakat masih malas melakukan literasi suatu berita dengan lengkap. Masyarakat disibukkan dengan kebiasaan hidup dan pekerjaan mereka yang heterogen dan mulai meninggalkan budaya literasi yang sebenarnya sangat penting dilakukan.

Jika kita cermat dalam membaca suatu berita pasti kita tidak akan mudah menerima berita secara mentah-mentah dan akhirnya termakan hoaks.

Cermat dalam membaca berita itu sendiri memiliki arti bahwa kita harus memahami betul apakah isi berita itu, darimana asal berita itu, kemudian apakah sumber yang menyebarkan berita itu bisa dipercaya atau tidak, mengingat sekarang ini banyak sekali akun media yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berita hanya demi ketenaran sesaat.

Sebagai seorang pemuda sudah sepantasnya kita menyikapi adanya fenomena hoaks dengan cerdas. Budaya literasi yang mulai tenggelam sudah saatnya kita munculkan kembali dalam kehidupan sehar-hari. Literasi tidak melulu tentang buku pelajaran di sekolah, namun bisa juga literasi yang lain seperti novel fiksi maupun non-fiksi, biografi, pengetahuan teknologi, serta literasi mengenai suatu berita.

Kebiasaan literasi akan memunculkan rasa keingintahuan yang mendorong kita untuk mencari informasi lebih dari apa yang kita baca dan kita akan mendapat banyak pengetahuan baru yang bermanfaat serta dari sumber yang dapat dipercaya.

Apabila hal tersebut telah ada dalam diri kita, otomatis kita telah membuat filter bagi diri kita sendiri untuk tidak menerima berita secara mentah-mentah namun kita akan memastikan apakah berita itu merupakan hoaks atau bukan. Manfaat yang lain adalah kita menjadi tahu batasan-batasan apakah suatu berita layak untuk disebarluaskan ke publik atau tidak.

Esai ini ditulis oleh Penta Kusuma Dewi, kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *