Hal Yang Harus Kamu Tahu Tentang Komunis

oleh
komunis dalam pandangan islam
komunisme dalam pandangan islam

Web portal pendidikan – Selamat pagi sob, hari ini tanggal 29 September 2017, dan pernah dikabarkan bahwa film yang menceritakan G-30S PKI dilegalkan dan wajib di tonton oleh masyarakat luas pada tanggal 30 nanti. Nah, apa maksud hal itu dengan artikel yang akan kita bahas ? Kamu harus tahu dahulu tentang apa itu komunis. Nah pada artikel ini kami akan menjelaskan kenapa komunis itu kejam.

Komunisme Dalam Pandangan Islam

Sejarah dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia mencatat lebih dari satu babak mengenai perebutan untuk memaknai Pancasila antar beberapa kelompok ideologi di Indonesia. Pergulatan pemikiran itu dengan cara intensif sempat terjadi dalam Majelis Konstituante, di mana kekuatan Islam dan sekulerisme kembali terlibat dalam perdebatan mengenai dasar negara Indonesia. Kekuatan komunis sempat memakai Pancasila untuk memuluskan penerapan ideologi komunisme di Indonesia.

Mantan Wakil Kepala BIN, As’ad Said Ali, menuliskan dalam bukunya, Negara Pancasila (hlm. 170-171), bahwa munculnya semangat para tokoh Islam untuk memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, dalam Majelis Konstituante, antara lain juga didorong oleh masuknya kekuatan komunis (melewati Partai Komunis Indonesia atau PKI) ke dalam blok pendukung Pancasila.

“Kalangan Islam langsung curiga. Timbul kehawatiran Pancasila bakal dipolitisasi oleh kelompok kelompok komunis dan selanjutnya diminimalisasi dimensi religiusitasnya. Kekawatiran tersebut terus menguat sebab adanya kesempatan perubahan konstitusi sehubungan UUDS mengamanatkan butuhnya dibentuk Majelis Konstituante yang bertugas merumuskan UUD yang definitif,” tulis As’ad dalam bukunya tersebut.

Dalam pidatonya di Majlis Konstituante tanggal 13 November 1957, tokoh Islam Kasman Singodimedjo tidak sedikit mengkritisi pandangan dan sikap PKI terhadap Pancasila. Kasman mengatakan bahwa PKI hanya membonceng Pancasila untuk kemudian diubah sesuai paham dan ideologi komunisme. Ketika itu PKI bermaksud merubah sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi “kebebasan beragama”. Tergolong dalam cakupan “kebebasan beragama” adalah “kebebasan untuk tidak beragama.”

Siapakah Kasman Singodimedjo itu ?

Mr. Kasman Singodimedjo adalah Jaksa Agung RI 1945-1946 dan Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1950). Ia juga dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. Dalam Sidang Konstituante itu mengingatkan, “Saudara ketua, sama-sama toh kita mengenal bahwa soko guru dari Pancasila itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sama-sama kami mengenal bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu justru telah memiliki peraturan-peraturan yang dibuat bagi umat manusia yang lazimnya dinamakan agama. Saudara ketua, sama sama kami tahu, bahwa PKI dan komunis pada umum nya dan pada dasarnya justru anti Tuhan dan anti-Agama!.” (Lihat buku Hidup itu Perlu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun, hlm. 480-481).

Masuknya kaum komunis ke dalam blok pembela Pancasila kemudian dipandang oleh kubu Islam sebagai upaya membelokan Pancasila dari prinsip dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai contoh, pada 20 Mei 1957, tokoh PKI Ir. Sakirman mendukung pandangan Fraksi Katolik yang menyebutkan, bahwa “Rakyat Indonesia terdiri dari beberapa golongan dengan beberapa kepercayaan dan keyakinan masing-masing yang bersifat universal.”

Sebab itu Sakirman menyeru terhadap golongan Islam, “Betapa pun universal, praktis dan objektifnya Islam, tetapi sebab Islam hanya adalah salah satu dari sekian tidak sedikit kepercayaan dan keyakinan, yang nasib dalam masyarakat Indonesia, maka Pancasila sebagai apa yang dinamakan oleh Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sebuah“grootste gemene deler” yang mempertemukan keyakinan dan kepercayaan kami semua, dan akan tetapi lebih praktis lebih objektif dan lebih universal dari pada Islam.”

waspadalah, komunis ada di sekitar kita
waspadalah, komunis ada di sekitar kita

Hal Yang Harus Kamu Tahu Tentang Komunis

Dalam Sidang Konstituante tanggal 2 Desember 1957, Kasman mengkritik ucapan Nyoto dari PKI pada Sidang Konstituante 28 November 1957 yang menyebutkan: “Pancasila itu bersegi tidak sedikit dan berpihak ke mana-mana.”

Kasman berkomentar, “Itu artinya, dan menurut kehendak dan tafsiran PKI, bahwa Pancasila itu bisa dan boleh saja bersegi ateis dan politeis, pun bisa atau boleh saja berpihak ke syaitan dan neraka.”

Kegigihan Tokoh Islam Pada Masa Itu Untuk Memperjuangkan Dasar Negara Pancasila

Begitulah sikap para tokoh Islam dalam sidang Konstituante yang terbukti adalah forum untuk merumuskan dasar negara yang baru. Tapi, ketika forum itu di bubarkan dan dikeluarkan Dekrit pada 5 Juli 1959, Kasman dan para tokoh Islam lainnya menerimanya sebab telah sah dengan cara konstitusional. (Hidup Itu Harus Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun, hlm. 536-540).

Dalam bukunya, Renungan dari Tahanan, Kasman menulis: “… seluruh rakyat Indonesia, tergolong seluruh umat Islam yang meliputi mayoritas utama dari rakyat Indonesia itu saat ini harus mengindahkan Dekrit Presiden itu sepenuh-penuhnya.” (Lihat bukunya, Kasman Singodimedjo, yang berjudul Renungan dari Tahanan, (Jakarta: Tintamas, 1967), hlm. 34).

Terbukti, Ir. Sakirman sempat berpidato dalam Majelis Kontituante dengan menyebutkan adanya rumusan sila kelima yang diajukan Bung Karno pada 1 Juni 1945, yang tidak sama dengan rumusan risalah sidang BPUPK, yaitu (5) “Ke-Tuhanan yang berkebudayaan atau juga Ke Tuhanan yang berbudi luhur dan Ke-Tuhanan yang hormat menghormati satu sama lain.” Sakirman juga mengakui, bahwa PKI terbukti mengharapkan supaya sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan sila “Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan Dalam Hidup.” (Pidato dari Ir. Sakirman dikutip dari buku Pancasila dan Islam: Perdebatan antar Partai politik dalam Penyusunan Dasar Negara di Dewan Konstituante.

Fakta komunisme

Tajamnya perbedaan antara Islam dan Komunisme, tidak menyurutkan usaha untuk menyatukan kekuatan agama dan komunisme. Tapi, sejarah kemudian mencatat, upaya penyatuan antara kelompok Nasionalis, Agama, dan Komunis, di bawah payung Pancasila mengalami kegagalan.

Golongan Islam membuat suatu perlawanan habis-habisan melawan komunis. Dalam Muktamar Ulama se-Indonesia tanggal 8- 11 September 1957 di Palembang, para ulama memutuskan: (1) Ideologi atau ajaran Komunisme adalah kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya, (2) Bagi orang yang menganut ideologi dan ajaran Komunisme dengan keyakinan dan kesadaran, maka kafirlah dirinya dan tiada sah menikah dan menikahkan orang Islam, tiada pusaka-mempusakai dan haram hukumnya jenazahnya diselenggarakan dengan cara Islam, (3) Bagi orang yang memasuki organisasi atau Partai yang berideologi komunisme (PKI, Sobsi, Pemuda Rakyat dll; tidak dengan keyakinan dan kesadaran, sesat lah dirinya dan harus bagi umat Islam menyeru mereka meninggalkan organisasi dan partai tersebut, (4) Mesikipun Republik Indonesia belum menjadi negara Islam, tetapi haram hukumnya bagi umat Islam mengangkat ataupun memilih kepala negara yang berideologi Komunisme, (5) Memperingatkan terhadap pemerintah RI supaya bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif asing yang menolong perjuangan kaum Komunis dan Atheis Indonesia, (6) Mendesak terhadap Presiden RI untuk mengeluarkan dekrit menyebutkan PKI dan mantel organisasinya sebagai partai terlarang di Indonesia. (Lihat buku Muktamar Ulama se-Indonesia di Palembang tanggal 8-11 September 1957, yang disusun oleh H. Husin Abdul Mu’in, (Palembang: Panitia Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia, 1957).

Bung Hatta Pernah Mengingatkan Kepada Para Ulama Pada Masa itu

Dalam sambutannya untuk Muktamar tersebut, mantan wakil Presiden RI Mohammad Hatta mengingatkan terhadap para ulama, bahwa perkembangan Komunisme di Indonesia, khususnya dihasilkan melewati kerja keras mereka dan kondisi kemiskinan rakyat. “Kemajuan PKI tidak dikarenakan oleh kegiatan orang-orang komunis mengembangkan ideologi yang belum di mengerti oleh rakyat, melainkan dengan kegiatannya bekerja dalam kalangan rakyat dan janji-janjinya bakal memberikan tanah dan membenahi kelangsungan hidup rakyat yang miskin.

Apabila kaum Ulama kami tidak mekualitaskan persoalan kemasyarakatan ini dengan ukuran yang cocok, Muktamar tidak bakal bisa menyusun rencana yang cocok terhadap gerakan Atheisme,” kata Hatta dalam sambutannya.

Hatta mengundang supaya Ulama berusaha menegakkan keadilan Islam. Kata Hatta lagi, “Apabila berlaku keadilan Islam di Indonesia, maka dengan sendirinya Komunisme bakal lenyap dari bumi Indonesia.

Apabila berlaku keadilan Islam di bumi kami ini, tidak ada yang bakal dituntut oleh Komunisme. Keadilan Islam adalah keadilan yang dengan tinggi-tingginya, keadilan Ilahi. Keadilan Islam menumbuhkan rasa damai, rasa tersanjung dan sejahtera.”

Perjuangan melawan komunisme, dalam sejarah perjuangan umat Islam, bisa dikatakan telah mendarah daging di beberapa penjuru dunia. Sebab, kekejaman komunisme di beberapa belahan dunia telah terbukti.

Salah Satu Tokoh Terkemuka Yang Aktif Melawan Komunis

Di Indonesia, salah seorang sastrawan terkemuka yang aktif melawan komunisme, sejak zaman Orde Lama hingga zaman saat ini adalah Taufik Ismail. Beberapa buku yang membahas bahaya dan kegagalan komunisme ditulis oleh Taufik Ismail, tergolong buku-buku saku yang disebarluaskan dengan cara gratis terhadap masyarakat luas.

Taufiq mengaku risau dengan generasi muda yang tidak lagi mengenal hakekat dan kekejaman kaum komunis. Dalam sebuah buku saku berjudul Tiga Dusta Raksasa Palu Arit Indonesia: Jejak Sebuah Ideologi Gulung tikar di Pentas Jagad Raya, (Jakarta: Titik Infinitum, 2007), Taufiq menyiapkan data yang luar biasa: Komunisme adalah ideologi penindas dan penggali kuburan massal paling besar di dunia.

Dalam mengeliminasi lawan politik, kaum komunis telah membantai 120 juta manusia, dari tahun 1917 hingga 1991. Itu sama dengan pembunuhan terhadap 187 nyawa per jam, alias satu nyawa setiap 20 detik. Itu diperbuat selagi ¾ abad (kurang lebih 75 tahun) di 76 negara. Karl marx (1818-1883) sempat mengatakan: “Bila waktu kami tiba, kami tidak bakal menutup-nutupi terorisme kita.”

Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924) juga menyebutkan: “Aku suka mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi kini ini, yang butuh adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berlangsung dalam lautan darah.” Satu lagi tulisannya: “Tidak sehingga soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kami tidak gentar berlangsung di atas mayat 30 juta orang.”

Lenin bukan menggertak sambal. Semasa berkuasa (1917-1923) ia membantai setengah juta bangsanya sendiri. Dilanjut kan Joseph Stalin (1925-1953) yang menjegal 46 juta orang; ditiru Mao Tse Tung (RRC) 50 juta (1947-1976); Pol Pot (Kamboja) 2,5 juta jiwa (1975-1979) dan Najibullah (Afghanistan) 1,5 juta nyawa (1978-1987). Buku saku lain mengenai komunis me yang ditulis oleh Taufiq Ismail adalah Komunisme=Narkoba dan Komunis Bakubunuh Komunis, dan Karl Marx, Tukang Ramal Sial yang Gagal (Jakarta: Infinitum, 2007).

Diharapkan Bagi Generasi Muda Indonesia Mau Belajar Dari Sejarah Bahwa Komunis Saat ini Telah Hidup Kembali di Masyarakat

Sepatutnya, bangsa Indonesia mau belajar dari sejarah. Ketika agama dibuang, Tuhan disingkirkan, jadilah manusia laksana bagai binatang. Anehnya, saat ini ada yang mulai berkampanye mengenai butuhnya “kebebasan beragama” harus mencakup juga “kebebasan untuk tidak beragama”.

Dalam kondisi semacam ini, Islam dan kekuatan anti-komunisme lainnya, diinginkan memainkan perannya yang signifikan. Jangan hingga elite-elite muslim lupa diri sibuk memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya, sibuk saling caci, tanpa sadar komunisme dalam kemasan baru terus mendapat simpati masyarakat.

Nah itulah penjelasan dari artikel Hal Yang Harus Kamu Tahu Tentang Komunis. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pengunjung setia belapendidikan.com

Untuk itu, mari bersama sama kita membangun konten konten yang mendidik agar generasi muda dapat mencerna isi kandungan didalamnya. Terima kasih sudah membaca artikel kita, dan kami undur diri wassalamualaikum wr.wb.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.