Integrasi Manusia dan Mesin dalam Khasanah 5.0 Society

oleh -64 views
integrasi manusia dan mesin
integrasi manusia dan mesin

Web portal pendidikan – Selamat pagi sobat belapendidikan, artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana integrasi manusia dan mesin dalam khasanah 5.0 society. Untuk uraian selengkapnya dapat kita simak dalam artikel berikut ini.

Integrasi Manusia dan Mesin dalam Khasanah 5.0 Society

Belakang ini, pembahasan tentang 5.0 Society menjadi suatu hal yang sangat menarik bagi kalangan akademisi. Bagaimana tidak, Jepang yang dikenal dengan beragam inovasinya mulai mencanangkan era baru berbasis teknologi.

Wacana tersebut pertama kali digaungkan pada awal tahun 2019 dalam Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss. Blueprint rancangan mode sosial masyarakat tersebut dapat diakses pada website resmi http://japan.go.jp yang disosialisasikan melalui sebaran berjudul “Realizing Society 5.0”.

Dalam artikel tersebut, Negeri Sakura itu menilai bahwa massifnya teknologi yang berkembang saat ini tidak boleh menggantikan peran manusia seutuhnya.

Secara garis besar, ide pokok 5.0 Society adalah mewujudkan sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial  melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. 

Berbeda dengan konsep Revolusi Industri 4.0 yang menghendaki otomasi dan mengurasi peran manusia, 5.0 Society lebih menekankan pada penggabungan ruang maya dan fisik, sehingga manusia dan mesin bisa berkolaborasi dalam terciptanya smart people.

Istilah itu muncul untuk menggambarkan masyarakat yang mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dalam menyelesaikan masalah sosial melalui sistem yang terintegrasi.

Menghadapi era tersebut, tentunya kaidah pokok dalam bidang kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) sangat penting untuk dikaji.

Era Integrasi Manusia dengan Mesin

Dalam beberapa Film Sci-fi seperti Star Wars dan Wall E digambarkan bahwa perkembangan teknologi yang berlebihan dapat menggantikan posisi manusia dengan robot. Bahkan belakangan ini sudah muncul teknologi baru yang sudah menggantikan perkerjaan manusia.

Pertanyaannya, keterampilan manusia seperti apakah yang dibutuhkan pada era tersebut?

Jawabannya adalah melalui optimalisasi peran dan kedudukan PSDM.

Keterampilan manusia tidak diperlukan lagi karena sudah bisa digantikan oleh mesin. Namun rupanya, melalui konsep 5.0 Society Jepang berusaha mencegah hal tersebut dengan mengoptimalkan potensi sumberdaya manusia yang bisa berelaborasi dengan teknologi.

Artinya, peran manusia tidak akan 100% digantikan oleh mesin, namun teknologi tersebut akan berfungsi secara optimal dengan keterampilan manusia. Pertanyaannya, keterampilan manusia seperti apakah yang dibutuhkan pada era tersebut? Jawabannya adalah melalui optimalisasi peran dan kedudukan PSDM.

Setidaknya, terdapat tiga pokok pikiran terkait peran dan kedudukan PSDM dalam menghadapi era 5.0 Society diantaranya yaitu :

  • Membekali setiap orang agar bisa memanfaatkan peran teknologi dan layanan berbasis big data secara optimal.
  • Menyediakan fasilitas dan layanan PSDM online dengan harga eknomis. Salah satunya seperti layanan medical care yang digadang-gadang akan menggantikan peran dokter. Bisa jadi, peran widyaiswara, mentor, fasilitator, dsb juga dapat digantikan oleh mesin yang dielaborasikan dengan manusia.
  • Tidak menutup kemungkinan layanan PSDM juga akan mengarah pada penciptaan teknologi baru. Salah satunya adalah teknologi yang sudah berkembangan massif di Jepang seperti virtual training melalui games, tes bakat minat, penentuan karir, dll.

Dalam benak saya, setelah Jepang berhasil menerapkan konsep 5.0 Society ini, maka setiap negara juga akan berfikir untuk menerapkannya. Posisi layanan PSDM juga akan tergeser dengan adanya lahirnya sistem ataupun teknologi baru.

Baiknya, setiap orang tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari layanan diklat, workshop, pemberdayaan, ataupun upaya peningkatan lain, karena sudah bisa diakses tanpa ada batasan jarak dan waktu.

Buruknya, apabila kita tidak teliti dan mulai berbenah, peran “pengembang” sendirilah yang akan punah.

Indonesia sudah memulai?

Tanpa kita sadari, Indonesia juga telah memulai era baru ini. Salah satu contoh kongret dalam dunia PSDM khususnya pendidikan adalah dengan adanya platform Ruangguru.com.

Kegiatan pembelajaran tidak sepenuhnya digantikan oleh mesin, melainkan juga melibatkan peran manusia dalam menciptakan konten pembelajarannya.

Secara sederhana, itulah konsep yang diinginkan dari terciptanya masyarakat 5.0. Namun juga perlu kita perhatikan, dengan maraknya platform semacan itu, secara tidak langsung layanan bimbingan belajar konvensional perlahan semakin tergerus.

Dengan biaya yang sama, resources yang didapatkan dapat digunakan secara terus menerus tanpa ada batasan. Berbeda dengan sistem konvensional yang mengharuskan kita membayar di setiap pertemuan, dalam era 5.0 Society kita cukup mendownload-nya saja.

Bisa jadi, bila hari ini peran guru bimbel secara perlahan mulai tergeser, tidak menutup kemungkinan bahwa peran guru sekolah pun demikian.

Untuk itu, sudah seharusnya generasi muda hadir untuk lebih kritis dan melahiran inovasi dalam mengelaborasikan teknologi dan manusia secara beriringan. Sudah siap untuk itu? Yuk Berkarya!

penulis : fitrah izul falaq
penulis : fitrah izul falaq

Artikel ini ditulis oleh Fitrah Izul Falaq,
Penulis adalah mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan dan Mahasiswa Berprestasi Universitas Negeri Malang

kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, Atau bisa kirim tulisan lewat email redaksi@belapendidikan.com

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *