Istri Berpenghasilan Merasa Hebat, Perceraian Meningkat ?

oleh -102 views
Istri berpenghasilan hebat perceraian meningkat
Istri berpenghasilan hebat perceraian meningkat

Web portal pendidikan – Pagi hari ini kita kedatangan opini baru dari Aubi Atmarini Aiza dengan judul “Istri berpenghasilan merasa hebat, perceraian meningkat”. Untuk ulasannya dapat kita lihat sebagai berikut.

Istri Berpenghasilan Merasa Hebat Perceraian Meningkat, Benarkah Begitu ?

Menurut Abdul Hamid, pada tahun 2018, ada 12.600 pasangan pengantin. Dari jumlah itu, 3 ribu diantaranya mengajukan cerai kepada Pengadilan Agama Kebumen.

“Dari jumlah pengajuan 3 ribu yang dikabulkan 2.818,” katanya. Bimbingan pun dilakukan sebagai upaya mengurangi tingkat perceraian.

Namun nyatanya pondasi sebuah pernikahan itu bukan hanya dari sebuah bimbingan atau motivasi logika. Problem bisa saja muncul tidak dari pikiran sehat dan kedewasaan.

Namun pondasi itu adalah spiritual dan ideologi dalam diri setiap pasangan, tidak hanya wanitanya saja juga laki-lakinya untuk dapat mendidik sang istri.

Sumber : http://www.kebumenekspres.com/2019/03/kasus-perceraian-di-kebumen-banyak.html?m=1

Lagi-lagi ideologi Kapitalis-Liberal, kesetaraan gender dan materialisme membuat semuanya menjadi tak karuan. Seorang istri yang merasa sudah berpenghasilan lebih dari suaminya, tak membutuhkan uang dari suaminya.

Mengabaikan rasa hormat dan kewajibannya, semena-mena dan berlaku tidak adil. Menimbulkan kemarahan dari 2 pihak membuat rumah tangga yang belum memiliki pondasi kuatpun runtuh seketika. Sang suami yang sama tidak memiliki pegangan kuat ikut tersulut emosi.

Pondasi moral dan hati nyatanya bukan milik harta yang sementara. Cinta yang menyatukan nyatanya tidak bisa mempertahankan suatu hubungan yang dibangun dari nol.

Ikatan pernikahan dianggap seperti halnya pacaran yang tidak berkomitmen. Sudah bosan putus, kepengadilan minta cerai. Sudah tidak memiliki harta yang dapat diandalkan, minta cerai kepengadilan.

Begitukah kedewasaan seorang istri dan suami? Bagaimana dengan anak-anak yang menjadi hasil dari sebuah pernikahan?

Korban terbesarnya adalah anak. Ibu dan Ayahnya bercerai, ia dipaksa memilih untuk mengikuti siapa dari 2 orang paling berharga dalam hidupnya.

Mentalnya terluka. Ketika ia harus mengikuti Ibunya, ibunya sibuk bekerja atau menikah lagi dengan ayah baru yang entah lebih baik dari pada ayah biologisnya atau tidak.

Sebaliknya jika ia mengikuti ayahnya, ayahnya juga pasti akan sibuk bekerja mungkin juga akan menikah lagi. Ia harus memiliki ibu baru yang entah bisa menyayanginya setulus ibu kandungnya atau tidak. Apakah itu pernah ada dibenak mereka? Tapi harusnya ada sebagai orang yang sudah dewasa.

Memanglah benar, pondasi mendasar dalam kehidupan entah yang tua atau muda adalah ideologi dan keyakinan. Agama tak akan kuat jika hanya sebagai spiritual tanpa dijadikan ideologi atau pandangan hidup.

Sebagai manusia, bagaimana cara menghadapi segala problem, ketenangan jiwa dan caranya memanagement emosional. Hanya bisa dibentuk dari hati dan cara pandanganya dalam kehidupan.

Bukan motivasi yang selalu diucap oleh para motivator atau nasihat orang tua, namun tanamkan dalam hati kemudian logiskan pada pikiran. Dan terapkan dalam kehidupan.

Islam adalah solusi dari kasus perceraian ini. Dimanapun bumi diinjak, bagaimanapun keadaannya dan masa apa yang ia lalui akan selalu jadi indah jika Islam sudah menjadi ideologi dan spiritual.

Hubungan yang harmonis dalam suatu keluarga adalah spirit yang muncul dari kedewasaan tak terbatas usia. Islam itu rahmatan lil alamin, bahkan hewan pun bisa merasakannya jika Islam diterapkan secara kaffah. Maka sudah sepantasnya kita terapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan kita.

Ditulis Oleh : Aubi Atmarini Aiza
Ditulis Oleh : Aubi Atmarini Aiza

Opini ini ditulis oleh Aubi Atmarini Aiza, kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah.

Klik disini untuk kirim tulisan, Atau bisa kirim tulisan lewat email kami redaksi@belapendidikan.com

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *