Cerpen : Jatuh Hati Kepada Illahi di Bulan Suci

oleh -29 views
jatuh hati kepada illahi di bulan suci
jatuh hati kepada illahi di bulan suci

Web portal pendidikan – Selamat siang sobat belapendidikan, kali ini kita akan share hasil cerpen dari sahabat lomba belapendidikan. Adapun judulnya yaitu jatuh hati kepada illahi di bulan suci. Untuk lebih lanjut dapat kita simak dalam uraian berikut ini.

Jatuh Hati Kepada Illahi di Bulan Suci

Tak terasa bulan Ramadhan telah tiba. Alampun  ikut serta menyambut kedatangannya. Banyak orang Islam yang mengharapkan kedatangan bulan yang penuh berkah ini.

Tapi, hal tersebut tidak berpengaruh bagi Muhammad Al Ghozali putra semata wayang dari keluarga terkaya di Kota Kediri. Dia terkenal dengan kepandaiannya dalam matematika.

Hal ini terbukti dengan prestasi yang baru ia raih, yakni juara 1 dalam olimpiade matematika yang diadakan di Universitas Airlangga, Surabaya.

Namun, sangat disayangkan kalau Ali sangat lemah dalam agama, apalagi dalam hal mengaji dan salat. Sampai orang tuanya sudah tidak sanggup lagi menghadapinya. Pada malam hari setelah sholat tarawih, orang tua Ali berkumpul diruang tamu.

Tap…tap…tap, suara langkah Ali menaiki tangga. “Ali, kemari kamu!” panggil Abi Ali. “Kenapa bi? Ada apa? Sepertinya ada hal penting yang ingin abi dan umi sampaikan,” sahut Ali. “Sudahlah nak, kamu kesini dulu!” kata Umi lembut. Alipun bergegas menghampiri Abi dan Uminya. “Duduk dulu nak,” sahut Umi . “Mulai besok kamu harus mondok di Pondok Pesantren Lirboyo.

Kamarin abi dan umi sudah menemui Abah Kyai dan mengurusi persyaratan mondok. Jadi, besok kamu tinggal datang saja.” kata Abi. Mendengar hal itu, Ali langsung terdiam tanpa kata. Selama ini, Ali tidak pernah membantah kedua orang tuanya.

Tetapi, hari ini ia memberanikan diri untuk mengatakan hal yang tidak pernah abi dan uminya duga “Tidak !!! Aku tidak mau. Apa selama ini aku tidak menuruti dan mematuhi abi dan umi? Tidak pernah bukan?” kata Ali jengkel. 

“Pokoknya kamu besok harus mondok. Tidak ada bantahan apapun,” Kata Abi Ali. Tanpa berfikir panjang, Ali bergegas meninggalkan abi dan uminya.

Keesokan harinya, abi dan umi Ali sudah menunggu Ali di teras.   “Ali…Ali…, ayo nak! Keburu siang,” panggil Umi. Dengan wajah muram Ali menghampiri abi dan uminya, “ Ada apa mi?” tanya Ali ketus.

“Kamu bagaimana sih li, kemarin kan abi sudah bilang kalau hari ini kamu harus mondok,” Jawab Abi dengan nada tinggi. “Kalau kamu tidak mau mondok, abi tidak akan menyekolahkanmu di Universita Gajah Mada,” ancam Abi Ali.

Mendengar hal itu, Ali bergegas ganti baju dengan wajah yang semakin muram dan ngomel sendiri. ”Pokoknya kalau aku tidak nyaman di pondok, aku pulang” kata Ali setelah ganti baju. “Kamu akan nyaman nak disana, umi yakin,” jawab Umi sambil mengelus punggung anaknya tercinta. Merekapun berangkat menuju Pondok Pesantren Lirboyo.

Sesampainya di pondok, Ali dan orang tuanya langsung menuju ke dalem atau rumah Abah Kyai. “Assalamualaikum,” kata Abi Ali. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Oalah, ternyata pak Hasyim. Silakan pak duduk disini.” Jawab Abah Kyai. “ terimakasih Abah Kyai,” jawab Abi Ali. “Ini to putranya bapak?” tanya Abah Kyai. “Iya, ini putra saya pak. Mohon dibimbing agar menjadi anak yang sholeh.

Dia memang pandai dalam hal pengetahuan umum, tapi tidak dalam hal agama,” jelas Abi sambil melirik putranya. Mendengar hal itu membuat ali semakin kesal. Setelah berbincang bincang, terdengar suara perempuan yang mengucapkan salam,

Assalamualaikum abah,”. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,” sahut Abah Kyai, Umik, dan Abik. “Waalaikumsalam” jawab Ali sambil menengok ke belakang. Subhanallah… ternyata yang mengucapkan salam adalah putri dari Abah Kyai yang biasanya disebut ning. Perempuan tersebut langsung bersalaman dengan Umi Ali dan Abah Kyai. ”Kamu kok sudah pulang nak?” tanya Abah Kyai.

“Iya Abah. Ini tadi para santri banyak yang izin, jadi pulangnya lebih awal. Ya sudah Abah, Zahra masuk kedalam dulu. Monggo…“ Kata perempuan itu dengan lembut. Setelah melihat perempuan yang bernama Zahra itu, Ali terus terbayang bayang akan wajahnya yang cantik dan lembut. Memang ini pertama kalinya Ali jatuh cinta.

“Ya sudah Abah Kyai. Saya mohon, agar Ali dibimbing menjadi anak yang sholeh dan rajin beribadah,” kata Abi Ali sambil bersalaman dengan Abah Kyai. “Enggeh pak, In Syaa Allah, setelah mondok disini Ali akan menjadi anak yang sholeh,” jawab Abah Kyai.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *