Kemana Perginya Ruh Bapak Pendidikan Kita ?

oleh
Kemana perginya ruh bapak pendidikan kita
Kemana perginya ruh bapak pendidikan kita ?

Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Kemana Perginya Ruh Bapak Pendidikan Kita ?, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Kemana Perginya Ruh Bapak Pendidikan Kita ?

Berbicara tentang pendidikan pikiran kita tentu akan tertuju pada satu sosok yang sangat berperan penting di dunia pendidikan kita. Ki Hajar Dewantara. Dengan semboyannya yang terkenal yaitu “Tut Wuri Handayani”. Ia menjadi sosok kebanggaan Indonesia terutama dalam bidang pendidikan.

Melihat perjuangannya yang gigih tanpa kenal lelah dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, kita jadi terenyuh melihat fakta pendidikan di Indonesia baru-baru ini. Berbagai masalah yang tidak mengenakkan dalam bidang pendidikan muncul dari waktu ke waktu.

Dimulai dari munculnya seorang pemuda yang mengkritik dunia kependididikan melalui sebuah buku yang ditulisnya dengan judul Orang Jujur Tidak Sekolah yang ditulis oleh Andri Rizki Putra yang sempat menjadi perbincangan publik sekitar tahun 2014 hingga 2015.

Buku tersebut ia tulis berdasarkan pengalamannya sendiri yang harus berada dalam kurungan pendidikan yang menurutnya sudah tak mampu mendidik. Ia kecewa pada beberapa orang yang berperan dalam bidang pendidikan sebab tidak memedulikan kejujuran dan hanya nilai yang dipikirkan.

Dimulai ketika ia akan ujian ketika SMP. Dikatakan bahwa Rizki tidak menyangka kalau gurunya akan memberikan siswa-siswanya sebuah contekan agar siswanya bisa lulus 100%. Dengan kecurangan itu Rizki merasa dirinya ada sebuah ketidakadilan yang harus ditegakkan.

Kunci jawaban ujian nasional dapat dibeli dengan uang, siswa-siswa dibiarkan mencontek tanpa ditegur bahkan terkesan didukung ketika itulah Rizki merasa kecewa pada pendidikan formal dan akhirnya ia memilih putus sekolah dan belajar secara home schooling. Dari pengalaman itulah Rizki Andri Putra kemudian tertarik untuk menuliskannya melalui buku.

Jika kita lihat, saat ini, terutama ketika UN menjadi momok yang sangat menakutkan bagi siswa-siswa sebab menjadi ajang satu-satunya yang akan menentukan masa depan seorang siswa, lulus atau tidaknya. Belajar selama tiga tahun untuk jenjang sekolah menengah hanya ditentukan oleh waktu tiga hari ketika ujian nasional.

Oleh karena itu berbagai cara ditempuh agar seluruh siswa bisa memenuhi syarat untuk lulus, sehingga menyebabkan praktik kecurangan-kecurangan merajalela tanpa takut karma dari Sang Maha Kuasa, yang terpenting bisa memenuhi syarat lulus dan urusan dosa biarkan Tuhan yang mengurus. Mirisnya hal tersebut juga di dukung oleh para pendidiknya.

Pendidik yang seharusnya mendidik siswanya menuju jalan yang benar malah mendukung siswanya ketika melakukan kecurangan-kecurangan. Bahkan tak sedikit sekolah yang bahkan memberikan fasilitas kecurangan-kecurangan tersebut, seperti membeli kunci jawaban kemudian dibagikan agar siswanya lulus 100%.

Kemana Perginya Ruh Bapak Pendidikan Kita ?

Hal ini juga pernah saya alami ketika saya berada di posisi yang sama seperti Andri Rizki Putra. Setiap kali ujian sekolah menengah akan dilaksanakan maka promosi kunci jawaban dari nomor HP satu ke nomor HP yang lain pun dilakukan, dengan berbagai varian harga, seperti layaknya jual beli ikan di pasar. Untungnya saat ini, UN sudah bukan lagi satu-satunya cara siswa untuk lulus, jadi praktik kecurangan semacam itu sudah tidak lagi terjadi.

Selain kecurangan-kecurangan, di dunia pendidikan juga sering digencarkan oleh tindak kriminalitas. Dari tindak kriminalitas pelecehan seksual, penganiayaan dan lain-lain. Kriminalitas pecelehan seksual ini umumnya terjadi pada siswi perempuan oleh guru laki-lakinya. Demi memuaskan libidonya guru tak segan-segan memanfaatkan siswinya dengan berbagai iming-iming, dengan seribu rayuan mautnya, dengan berbagai tipu muslihat.

Selain pelecehan seksual, perilaku guru yang menghukum siswanya dengan tindak kekerasan juga sempat riuh di dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak pada siswanya. Sejatinya, guru di gugu lan ditiru jika perilaku guru dalam memperlakukan siswanya semena-mena, maka jangan salahkan siswa apabila ada siswa yang melakukan tindak kekerasan pada gurunya. Maka jangan salahkan ketika beberapa waktu yang lalu, dunia pendidikan digemparkan oleh siswa yang menganiaya seorang guru hingga tewas.

Sejatinya, kita tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Terlebih lagi yang tua menyalahkan dan memojokkan yang muda. Ini tidak masuk akal. Sebab jika kita pikirkan secara mendalam, maka siswa cenderung akan meniru gurunya. Guru dalam hal ini, bukan hanya perihal satu nama saja, misalkan ‘Pak Budi’ namun guru secara umum. Siapapun itu yang menjadi pengajar maka itulah guru.

Jika ada  satu saja perilaku guru yang tidak baik maka imbasnya semua nama guru tak terkecuali, semua orang yang berprofesi sebagai seorang guru akan tercoreng namanya. Oleh karena itu, alangkah baiknya sebagai manusia kita lebih mawas diri, lebih banyak introspeksi diri sebab belum tentu akibat yang kita terima berasal dari ulah si sebab. Bisa jadi akibat itu ada dari akibat yang pernah kita buat.

Begitu peliknya persoalan pendidikan di negeri kita tercinta menjadikan kita bertanya-tanya, kemana perginya ruh Bapak pendidikan kita? Kemana perginya ruh semangat yang beliau kobarkan semenjak Indonesia bahkan belum merdeka.

Sedangkan kita melihat pendidikan di Indonesia semakin keruh saja,  terkonminasi oleh berbagai masalah yang tak seharusnya ada jika kita waspada. Jika pendidikan sudah tak mampu lagi mendidik lantas akan dibawa kemana anak-anak negeri ini? Tetap dikurung kebodohan-kebodohan kah? Betapa mirisnya persoalan ini.

Esai dengan judul pendidikan kunci keberhasilan ditulis oleh Kurnia Lidyaningtyas kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.