Krusialitas Pemikiran Dalam Menghalau Pengejewantahan Bahasa Sebagai Media Penyebar Rumor Palsu

oleh -1.034 views
krusialitas pemikirann dalam menghalau pengejewantahan bahasa
Esai ini ditulis oleh - fahrian alif afwan

Web portal pendidikan – Hasil kiriman esai pada hari ini dengan judul krusialitas pemikiran dalam menghalau pengejewantahan bahasa sebagai media penyebar rumor palsu , disampaikan dan dikirimkan langsung melalui email lombaesai@belapendidikan.com

Krusialitas Pemikiran Dalam Menghalau Pengejewantahan Bahasa Sebagai Media Penyebar Rumor

Indonesia tengah bertransformasi menjadi negara yang hidup di era milenial. Perkembangan IPTEK dan melesatnya peradaban secara signifikan merupakan suatu energi untuk melangkah ke zaman yang sudah diprediksikan oleh para pemkir zaman dahulu. Semua orang secara universal bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di negara yang jauh dalam hitungan detik sekalipun.

Beragam berita maupun rumor belaka senantiasa hinggap di gawai atau lebih tepatnya di media sosial kita disertasi embel-embel takarir yang atraktif.

Sebagai orang awam, mungkin kita tergiur oleh diksi yang membuat penasaran. Ditambah dengan isi dari artikel yang memuat berita mengenai orang tenar tatu hal yang sedang hangat diperbincangkan, membuat kita terpancing untuk membaca dan mempercayainya.

Jika berita itu benar, sudah tentu menjadi sebuah wawasan. Namun jika itu adalah berita bohong belaka atau “HOAX”, kita menjadi korban atas oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Berita bohong seringkali menggunakan diksi atau judul yang nyentrik. Bahasa dijadikan senjata bagi para penipu untuk meyakinkan berita rekaan yang dibuatnya.

Mereka sungguh lihai membuat kalimat yang mendoktrin untuk membuat orang terpedaya. Beragam bahasa mereka gunakan, dari bahasa sesuai kaidah, sampai bahasa prokem yang akrab di kalangan non-pejabat.

Keragaman penggunaan bahasa tak ubahnya menunjukan bahwa yang menjadi sasaran mereka adalah orang-orang di berbagai kalangan.
Bahasa sedang dalam tahap kritis apabila dikuasai oleh orang-orang berjiwa kriminal.

Bahasa semacam pisau, bahaya tidaknya tergantung siapa yang memakainya. Disinilah para pemikir belia dibebankan untuk memlihara bahasa agar sesuai peruntukannya.

Karena, dalam menghalau problematika yang dianggap kompleks, diperlukan subjek yang mampu melakukan tindakan solutif secra riil. Di sini, pemuda merupakan kunci dari semua permasalahan yang ada.

Pemuda memiliki potensi untuk mengubah lingkungan sekitarnya, sehingga sesuai dengan apa yang dicita-citakannya. Asalkan mereka mau, mereka bisa membuka jalan untuk mencapai titik terang untuk keluar dari permasalahn hoax ini.

Survey membuktikan, bahwa sumber utama hoax adalah media sosial. Dan media sosila banyak digunakan oleh pemuda. Maka dari itu para pemuda kembali yang bisa mengatasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *