Media Sebagai Aktor Politik

oleh -210 views
media sebagai aktor politik
media sebagai aktor politik

Web portal pendidikan – Selamat siang sobat belapendidikan. Kali ini kita akan membahas media sebagai aktor politik. Untuk penjelasan lebih lanjut dapat kita simak melalui ulasan berikut ini.

Media Sebagai Aktor Politik

Media sebagai aktor politik berimplikasi bahwa dalam demokrasi media bukan hanya menyalurkan pesan politik dari aktor politik yang lain kepada khalayak, namun lebih jauh lagi media menjalankan peran untuk menafsirkan berbagai wacana politik dalam beragam pemberitaannya.

Editorial menjadi salah satu pertanda penting tentang fungsi media sebagai aktor politik, karena dengan editorial media telah mengambil posisi dan sikap politik atas realitas sosial yang ada.

Media juga memainkan perannya dalam diskusi publik tentang kebijakan politik yang sedang dilaksanakan atau akan dijalankan.

Melalui media, khalayak dapat mengartikulasikan kepentingannya dengan melalui opini dan surat pembaca. Bahkan dengan perkembangan media baru, cukup dengan mengirimkan pesan singkat melalui telepon seluler, khalayak dapat bersikap terhadap wacana dan tindakan aktor politik tertentu.

Yang perlu disadari sebelumnya, proses pembuatan berita bukanlah proses yang instan, namun melalui proses yang panjang. Diawali dengan pencarian berita kemudian dilanjutkan ke meja redaksi, di edit dan masuk ke ruang produksi.

Melalui proses yang panjang ini khalayak mendapatkan ‘artikulasi final’ dari apa yang ‘nyata’ dalam kehidupan politik ( Gerstle dalam Mc Nair, 1999:73).

Pembingkaian atas peristiwa politik di media massa berasal dari berbagai faktor, yaitu individu pekerja media, rutinitas media, organisasi media, eksternal media dan ideologi media.

Baca juga : Peran Pemuda Menyikapi Informasi Hoaks Dalam Media Massa

Media juga ada beberapa macam bidangnya, yakni media cetak (pers), media penyiaran, media internet. Dapat kita uraikan masing masingnya sebagai berikut.

Pers (Media Cetak)

Media cetak sebagai aktor politik
Media cetak sebagai aktor politik

Sesuai dengan fungsi dan perannya, memerankan cara yang berbeda dalam keikutsertaan dalam politik. Media cetak, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, didirikan sebagai entitas bisnis dan acapkali kemudian membawa implikasi media cetak yang bersifat partisipan.

Pada saat menjelang pemilu, kepartisan media cetak akan semakin terlihat dengan pemberitaannya yang lebih condong ke pihak pihak tertentu.

Media cetak yang dimiliki oleh swasta diyakini juga melakukan kampanye terselubung untuk mendukung partai politik yang didukungnya ( McNair, 1999:74-75).

Dilihat dari jenis berita, ada berbagai jenis bentuk pemberitaan di media cetak, diantaranya yang paling banyak ditemui adalah berita langsung (straight news), berita ringan (soft news), feature dan wawancara.

Dalam peran media sebagai aktor politik, jenis berita ini juga membawa implikasi secara politik.

Straight News bisa dilihat sebagai bentuk ‘campur tangan’ politik, yang diarahkan pada organisasi politik dan pemilih yang memiliki pengaruh atau para pemimpin opini (McNair, 1999:75).

Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan Harian The Suns di Inggris yang memberikan pelabelan kepada Gerry Adams, pemimpin Sinn Fein organisasi kemerdekaan Irlandia Utara, sebagai dua kata paling buruk dalam Bahasa Inggris.

Media Penyiaran

Media penyiaran sebagai aktor politik
Media penyiaran sebagai aktor politik

Persoalan yang muncul adalah mengenai posisi jurnalis media penyiaran sebagai penyalur pesan politik.

Dalam media cetak, jurnalis memiliki kesempatan waktu untuk mengolah informasi dari narasumber sebelum dijadikan berita, namun dalam tayangan langsung (live) di radio dan televisi secara langsung harus menyajikan berita ke khalayak.

Bentuk program siaran yang paling banyak bersinggungan dengan isu politik adalah berita, debat dan talk show. Berita politik di radio umumnya lebih banyak didominasi oleh straight news, hanya beberapa yang menayangkan berita dalam bentuk feature.

Selain straight news, stasiun televisi juga menyiarkan berita politik dalam bentuk feature. Riset yang mendalam baik dengan melakukan pelacakan dari sumber sumber pustaka maupun dengan mewawancarai narasumber menjadi hal mutlak dalam produksi feature televisi.

Bentuk lain dari kontribusi media penyiaran dalam proses politik adalah debat politik. Debat politik di stasiun televisi umumnya secara seksama dikontrol oleh presenter dengan melibatkan sekitar empat partisipan sebagai panelis.

Dalam debat politik, khalayak yang datang diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam acara dengan mengajukan pertanyaan kepada para panelis.

Untuk mengemas dialog menjadi lebih hidup, stasiun televisi menghadirkan khalayak dalam jumlah besar untuk datang ke studio. Khayalak inilah dengan aba aba floor director, akan memberikan tepuk tepuk tangan kepada para peserta dialog sehingga situasi dialog kelihatan menjadi lebih hidup.

Media Internet

Media internet sebagai aktor politik
Media internet sebagai aktor politik

Internet bisa jadi adalah penemuan besar di akhir abad 20 yang secara drastis mengubah cara manusia berkomunikasi. Sebelum internet dikenal luas oleh khalayak, arus informasi tergantung pada lembaga yang memiliki sumber daya yang kuat dalam mengendalikan informasi.

Teknologi digital ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi internet. Teknologi internet yang dinikmati publik secara luas pertama kali adalah web 1.0 yang sebenarnya sama dengan World Wide Web (WWW).

Teknologi internet yang semakin maju telah mengubah wajah portal berita internet. Jika dulu situs berita hanya berupa teks tulisan dan foto, maka kini berbagai situs berita di internet telah dilengkapi dengan fasilitas video.

Di sinilah terjadi konvergensi media, dimana berbagai lini media yang berbeda menyatu dalam satu portal situs berita.

Internet berkembang menjadi media yang mampu mewadahi aspirasi publik sehingga media ini bisa disebut sebagai ruang publik. Berkaitan dengan ruang publik, maka ada 3 dimensi ruang publik, yaitu.

Baca juga : Eksistensi Media Massa dan Ruang Publik

pertama, ruang publik menuntut terjadinya sebuah ‘forum’ yang bisa diakses oleh sebanyak mungkin orang, diaman berbagai pengalaman sosial dapat diekspresikan dan dipertukarkan.

kedua, dalam ruang publik, berbagai pendapat dan pandangan dibenturkan melalui diskusi rasional. ketiga, kontrol secara sistematis dan kritis atas kebijakan pemerintah adalah tuas utama ruang publik.

Tiga hal ini bisa ditemui dengan mudah di internet. Berbagai diskusi dapat dilakukan melalui internet dengan melibatkan sebanyak mungkin partisipan.

Para pengguna internet yang terlibat dalam diskusi juga dalam posisi yang setara, sehingga berbagai pendapat dapat dibenturkan secara rasional.

Di masa ini, internet masih merupakan teknologi baru di Indonesia. Namun para aktivis telah memanfaatkan internet untuk berkomunikasi dan menyebarkan isu isu sensitif yang tidak mungkin dimuat melalui media konvensional dengan memanfaatkan fasilitas surat elektronik dan mailing list.

Nantikan kelanjutan artikel tentang media sebagai aktor politik, untuk kritik dan saran dapat kamu tambahkan melalui kolom komentar dibawah ini.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami redaksi@belapendidikan.com

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

23 thoughts on “Media Sebagai Aktor Politik

  1. Sepertinya kerjanya jurnalis sekarang lebih ringan ya, bisa kita lihat sendiri dengan maraknya medsos.

    Banyak kasus viral yang akhirnya dengan mudah post. jurnalis sudah bisa bikin berita hanya dengan merangkum status tweter para pejabat negara.

    Dulu tidak bisa seperti itu. Harus liputan dilokasi. Sekarang.. ah sudahlah. Banyak juga media yang sekarang main kubu²an.

    Jadi masyarakat jelata seperti saya ini bingung nyimak media, kalau sudah dijadikan bahan politik.

  2. Media dan politik, saat ini memang saling membutuhkan. Politisi yang jadi media darling, kemungkinan besar akan sukses. Sedangkan media yang dikenal dekat dengann politisi penguasa, biasanya juga akan lebih tenang dalam memberitakan.

    Internet, juga memainkan peran politik terpenting,,, karena media-media saat ini nyaris semuanya berbekal media online.

  3. sangat berbahaya ya apabila pemilik media tidak netral dalam menyampaikan berita? semua informasi yang diberikan harus benar-benar disaring, karena (maaf) tidak semua masyarakat kita bisa mencernanya dengan baik. Tidak ada jaminan juga media yang sudah punya nama dan besar luput dari khilaf menyajikan informasi yang belum jelas kebenarannya.

  4. Iya bener banget, sekarang melalui media online, semua orang bisa menyampaikan aspirasi politiknya. Sayangnya, kadang cara menyampaikannya yang kurang bertanggung jawab, sehingga malah menimbulkan konflik.

    Mungkin perlu juga ada kurikulum di sekolah menengah tentang penggunaan media ini.

  5. Saat ini banyak menganggap media sudah berpolitik, karena byk pemilik media salahstunya pemilik stasiun TV adalah para politikus. Metro tv dimiliki oleh ketua nasdem, Rcti dan mnc group dimiliki oleh ketua perindo. Trs bisakah khalayak mendapatkn informasi secara benar dan tdk berpihak?

  6. Media sebagai salah satu pilar dari demokrasi memang memiliki posisi sebagai aktor politik. Cuma secara kelembagaan posisinya kerap digugat karena ia tidak berpolitik secara independen.

  7. Apakah saat ini media masih independen? Mungkin karena sudah kurang independen makanya disebut aktor politik ya?

  8. karena media jugalah saya tau dunia luar, karena media jugalah saya bisa menjadikan aktor politik.. selagi kita para blogger dan jurnalis masih menjadikan aktor politik yang positif dan menyebarkan konten baik.. no konten sara, hoax dan hate speech

  9. secara tidak langsung media saat ini menjadi wadah penyampaian aspirasi, masyarakat pun sudah mulai beralih yang tadinya mengundang untuk berkumpul dalam bermusyawarah. dan saat ini sudah melalui media digital seperti membuat grup whatsapp, telegram, dan media sosial lainnya sebagai tempat bermusyawarah.

  10. Saya diajarkan untuk tak benar-benar percaya pada pernyataan yang katakan oleh para politikus, apa lagi jika pernyataan tersebut sudah dioleh oleh media, bisa-bisa berubah 180 derajat. Tergantung media mana yang dibaca, maka itulah pandangan politik yang kita punya. Politik adalah medan tempur penuh intrik, dan hanya mereka yang mampu merangkul lebih banyak lah yang akan menang. Tak ada hitam putih, semuanya bau-abu

  11. Harus hati² kupikir sih sekarang kalau baca media. Mau offline atau online. Apalagi ada kubu²an gini. Mana kalau online isinya sama semua. Harus pintar memilah deh kita…

  12. Media informasi adalah alat tercepat penyampaian informasi yang ada saat ini. Maka dari dalam menjadi aktor politik sangat dibutuhkan

  13. Peran media sangat besar…dampak positif dan negatif bisa diciptakan… bahkan hoaks pun paling cepat nyebar di media sosial melalui internet… diperlukan kedewasaan dan kebijaksanaan kita selaku pengguna untuk dapat memilih dan menyeleksi

  14. Kalau sudah bahas politik, biasanya alarmku langsung bunyi deh haha
    Bukan apa-apa sih, media itu khan harusnya berimbang, tapi belakangan ini mulai agak bergeser. Tergantung kepentingannya masing-masing

    Semoga kita semua juga tetap berimbang ya dalam menulis

  15. Tulisan yang inspiratif dan bermanfaat
    Pers dan media memang pilar penting demokrasi juga kan ya. Jadi memang oentingnya bikin ruang publik untuk beropini demi pendidikan ruang publik itu sendiri

  16. Memang media menjadi salah stu yg penting dalam politik, tetapi tetap saja harus berhati-hati karena ada pasal-pasal tertentu tentang UU ITE yg bisa menjerat pengguna. Disinilah pengguna media (khususnya media sosial) harus cerdas

  17. Nah ini, saya setuju dengan ini. Media yang seharusnya independen sudah tidak memiliki sifatnya lagi. Bahkan, saya sudah tidak percaya dengan apa yang ada di TV, Alhamdulillah bayar listrik jadi turun karena gak nonton TV. Tidak hanya tv sih, media online lebih lagi, judul banyak yang click bait membuat gagal paham

  18. Saya setuju saja, mana yang terbaik. Karena toh kita harus mengikuti perubahan zaman. Akan tetapi, netralitas sangat penting untuk dipegang. Dan ini sangat sulit. Sangat sulit (sekali).Saya lihat banyak media yan tidak netral.

  19. Kenapa aku skrg ngerasa media udah nggak berfungsi maksimal kayak dlu yaa.. Hmm

    Aku srg ntn drama atu film dri luar tentang kuatnya media untuk politik dan pemerintahan.. Kayak tujuan bermedia di Indonesia skrg itu beda gtu loh

    Semoga media di indo smakin berkualitas dengan berita yang berimbang

  20. Saat membaca tulisan ini saya jadi teringat dengan media TV Nasional yang hanya menjadikan berita dan aktor-aktor politik sebagai kontennya. Dan ternyata laku juga. Mungkin drama politik sama menariknya dengan sinetron ya.

  21. wah iya sih, aku sekarang lebih suka membaca berita online karena banyak foto-foto nya juga ketimbang media cetak dsb. tapi harus bisa memilah dan memilih informasi yang bisa diterima.

  22. Bukankah seharusnya media netral ya dalam menyampaikan berita? Tapi memang sekaran sulit menemukan media yang tidak berpihak. Kita sebagai pembaca yang harus kritis dalam menerima semua informasi. Tapi bagaimanapun juga media diperlukan untuk menyampaikan berita. Sehingga harus terjamin kebebasannya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *