Pendidikan Karakter Sebagai Jembatan Dalam Mengentaskan Masalah

pendidikan karakter

Web portal pendidikan – Esai kali ini berjudul Pendidikan karakter sebagai jembatan dalam mengentaskan masalah, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba esai nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut.

Pendidikan Karakter Sebagai Jembatan Dalam Mengentaskan Masalah

Di zaman modern ini atau biasa disebut zaman now oleh kaum milenial, korupsi marak terjadi dan diberitakan oleh media massa. Yang sering tersorot kamera adalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pejabat tinggi negara atau anggota dewan.

Baca : Korupsi dan Pengaruhnya Terhadap Pembangunan Nasional

Penyimpangan ini membuat heboh khalayak ramai, karena dana yang diselewengkan tidak hanya ratusan ribu tapi miliaran dan triliunan raib masuk saku pelaku. Khalayak biasa menyebutnya “koruptor”. Seperti yang kita semua tahu, koruptor bukanlah orang yang bodoh dan tidak berilmu, Mereka semua kaum-kaum terpelajar dan pernah merasakan bangku sekolah hingga rentetan gelar disandangnya.

Tapi tidak menutup kemungkinan mereka untuk tetap melakukan perilaku menyimpang itu, tak peduli dengan gelar, jabatan, yang disandangnya, omongan orang, dan juga dampak yang akan menghantui mereka.

Namun, apa yang menjadi akar permasalahan sehingga membentuk perilaku mereka menjadi menyimpang ? apa yang salah dari dirinya ?

Dari sini aku mulai berfikir dan beropini.

Tentunya ada beberapa faktor yang menjadi dasar. Hal kecil yang biasa kita lakukan dan akan menjadi kebiasaan apabila diteruskan adalah MENCONTEK. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, dari Zaman Old sampai Zaman Now aktivitas mencontek dikalangan pelajar indonesia sangat terbuka dan sudah menjadi suatu budaya.

Baca juga : Mencontek yang bikin puas

Yah, budaya nyontek inilah yang menjadikan Wajah Pendidikan di Indonesia tercoreng. Tak hanya mencontek dengan teman sebangku, seiring berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi yang semakin canggih, budaya mencontek menjadi lebih terstruktur.

Yah, mereka menggunakan ponselnya untuk kejahatan katakanlah browsing pada saat ujian baik itu UN, UAS, atau ujian lainya.

Hp dan Siswa adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Untuk mendapat nilai yang bagus, cara-cara keji diatas mereka lakukan dan menghilangkan kejujuran yang ada dibenaknya.

Guru didepan kelas dianggap layaknya sebuah patung, cc tv dipasang tak menciutkan nyali mereka untuk tetap berbuat curang. Lebih parah lagi, Sudah jelas ketahuan mencontek, segala argument ia lontarkan dan saling menyalahkan layaknya seorang pengecut atau pecundang.

Perlu kita semua ketahui, bahwa mencontek dengan alasan apapun itu sangatlah dilarang dan tidak dibenarkan. Ketika ada yang mengatakan Indonesia kan memang terkenal akan semboyan “GOTONG ROYONG” nya, ? yah itu benar, tapi untuk masalah kebaikan dan bersifat membangun, bukan hal-hal yang bersifat curang seperti mencontek.

Mencontek itu ibarat kata kaya narkoba, apabila dikonsumsi sekali maka akan ketagihan dan itu sangat berefek dalam jangka panjang. Kalau itu diteruskan dan efeknya seperti diatas, korupsi akan marak terjadi dan lebih banyak lagi oknum yang akan melakukan hal demikian.

Mindset yang salah misalnya “ah, ada hp dan paketan, semua beres” waktu akan menghadapi ujian membuat pelajar malas belajar dan menggantungkan hidupnya pada gadget, bukan kerja keras dengan cara belajar, bekerja kelompok atau mengikuti bimbingan belajar.

inilah yang harus dihilangkan dari mindset seorang pelajar. Tidak siap materi menjadi alasan yang sering terucap ketika ada yang ketahuan mencontek dan itu didasari mindset diatas.

Bila terus seperti ini, apa yang akan terjadi dengan wajah pendidikan di Indonesia, kini, sekarang dan masa yang akan datang ?

Kita menuju ke negeri tetangga Singapura. Disana kita bisa melihat pendidikan yang luar biasa baik dari sistem, sarana dan prasarana juga SDM siswa. Tidak hanya sekedar teori ia dapat tapi prakteknya ia jalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka terbiasa dengan sifat kejujuran dan itu nomor satu. Bisa dibayangkan, ketahuan mencontek saja, maka akan di DO alias dikeluarkan dari almamater tersebut. maka dari itu mencontek adalah mustahil disana. Berbanding terbalik dengan pendidikan kita. Sudah tertangkap basah, masih bisa ngeles sana-sini.

Dan memang kejujuran itu masih sulit dilakukan dikalangan pelajar indonesia. Oleh karena itu perlu penanganan khusus minimal bisa mengantisipasi dari beberapa oknum tersebut.

itu baru dari negara tetangga se-ASEAN, belum lagi kalau kita dihadapkan dengan pendidikan di negara-negara lain yang pendidikanya juga nomor wahid. Katakanlah, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Finlandia, kita tentunya masih kalah jauh. dengan kondisi pendidikan indonesia yang masih belum mampu mencapai itu semua.

Dikarenakan banyak sekali temuan yang sering kali membuat pendidikan kita murung. Sistem yang masih rendah, sarana dan prasarana dan masalah terbesar menurut saya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih dibawah standart dari negara-negara diatas.

Hal yang faktor utama yang menjadi penyebab rendahnya sumber daya manusia adalah kebiasaan MENCONTEK DAN KETERGANTUNG TERHADAP MBAH GOOGLE, kurangnya berfikir dan malas sehingga kemampuan otak sulit untuk bekerja secara optimal.

Menilik kebelakang, pengertian Pendidikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 dalam pasal 1 ayat 1 berbunyi

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan secara spiritual keagamaan, pegendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Sedangkan tujuan pendidikan menurut UU No.2 Tahun 1985 bahwa tujuan pendidikan ialah

“mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan bangsa”.

Merujuk pada dua pengertian dan tujuan diatas, sudah tercantum jelas bahwa pendidikan itu outputnya adalah membentuk pribadi yang taat pada tuhan, memiliki kecerdasan secara pengetahuan dan juga keagamaan.

Disisi lain, juga mempunyai kecerdasan didalam emosi dan pengendalian diri, bersosial, dan kejujuran dalam diri siswa sehigga harapanya bisa diaplikasikan kedalam kehidupan bermasyarakat.

Dari sini sudah terlihat, bahwa sebenarnya mencontek itu bukan salah sekolah atau almamater, tapi seorang itu sendiri yang dengan sengaja melakukan. Dalam menerapkan ilmunya mereka setengah-setengah sehingga penyimpangan itu sering terjadi.

Dewasa ini, pemerintah juga sudah merubah bahkan mengganti kurikulum menjadi lebih baik. Sebut saja ada Pendidikan karakter. Pendidikan karakter dibentuk dari mulai jenjang bawah hingga atas untuk menanamkan pentingnya pendidikan karakter yakni membentuk karakter siswa agar sesuai dengan nilai-nilai dan norma lalu diwujudkan juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini juga untuk mencegah degradasi moral dan karakter dari kalangan siswa yang nantinya akan terjun ke masyarakat. Disitu, Kita tidak hanya memperoleh pengetahuan saja, akan tetapi kita juga dapat mengembangkan emosi/sosial kita, nilai spiritual, ketrampilan ataupun lainya yang dimuat dalam mata pelajaran.

Baca : Pendidikan Agama dan Pendidikan Karakter

Dan nilai-nilai tersebut harus terbentuk secara kontinuitas dan tidak bisa dipisahkan. Apa yang terjadi kalau itu dipisahkan ? yah seperti kasus diatas akan terus terulang dan berulang tiada akhir.

Didalam pendidikan karakter, ada banyak sekali nilai yang terkandung didalamnya, diantaranya :

Nilai nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter

Nilai nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter dapat dirincikan sebagai berikut

> nilai religius = nilai ini mengajarkan tentang perilaku patuh terhadap ajaran tuhan sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Kalau dia percaya terhadap tuhan dan tahu bahwa mencontek itu dilarang dalam ajaran agama, maka itu bisa dihindari dan tidak mungkin ia lakukan.

> Nilai kejujuran = hal ini terkait dengan perilaku yang menjadikan dirinya selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. Dan kejujuran itu sulit memang, tapi bukan berati tidak bisa dilakukan.

Perlu pembiasaan untuk tidak terbiasa bergantung pada teman dan juga internet agar budaya mencontek bisa dihindari. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri untuk menahan hawa dan nafsu dari sifat-sifat yang tidak baik.

> Nilai disiplin = tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada aturan. Jika ada peraturan, dibaca lalu diamalkan. Dan timbulkan rasa melihat peraturan sekolah itu ibarat membaca kitab suci. Apabila dilanggar adalah dosa. Maka ketakutan akan muncul dalam diri. Contohnya mencontek.

> Kerja keras = tertib pada aturan. Budayakan bahwa untuk memperoleh nilai yang bagus itu perlu namanya usaha seperti belajar, les, belajar kelompok. Bukan kerja keras buka hp dan tanya teman. Menang kerjasama itu penting dalam sebuah kelompok sosial, tapi ada waktu dan sesuai dengan konteknya.

Baca : Pentingnya Pendidikan Karakter

Nah itu beberapa nilai yang ada dalam pendidikan karakter yang dimuat dalam mata pelajaran Agama dan PKN. jika itu diterapkan maka, budaya contek-mencontek akan bisa diminimalisir keberadaanya bahkan bisa hilang dari peredaran.

Oleh karena itu, peran siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk saling bahu-membahu menciptakan pendidikan indonesia tanpa mencontek sehingga negara kita menjadi lebih baik dan berkarakter.

Karena negara yang mempunyai karakter baik akan menjadi bangsa yang bermartabat dan juga disegani bangsa lain. Dalam bidang pendidikan tentunya juga berdampak besar, yakni pendidikan negara kita bisa bersaing dengan negara lain dan bisa diperhitungkan dimata dunia.

Terakhir, saya akan mengutip beberapa patah kata dari Martin Luther King seorang pahlawan perdamaian dan penerima penghargaan Nobel atas jasanya.

“ The function of education is to teach one to think intensively and to think critically, Intelligence plus character. Thas is the goal of true education”
Maju terus pendidikan indonesia. Aku bisa, kita bisa, indonesia bisa, yes….

Informasi penulis :
Nama : Muhammad Muchlisin
FB : muclis98
IG : muclis98

Esai ini ditulis oleh Muhammad Muchlisin kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Tags:
About

Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

POST YOUR COMMENTS