Perangi Malas Dengan Mencegah Hoaks

oleh
Perangi malas dengan mencegah hoaks - Maria Harina
Perangi malas dengan mencegah hoaks - Maria Harina

Web portal pendidikan – Hasil kiriman esai pada hari ini dengan judul perangi malas dengan mencegah hoaks, disampaikan dan dikirimkan langsung melalui email lombaesai@belapendidikan.com

Perangi Malas Dengan Mencegah Hoaks

Saat ini informasi dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Kemudahan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Contohnya, untuk mendapat sebuah berita tidak perlu repot-repot menunggu surat kabar cetak, namun bisa dicari menggunakan internet yang ada di telepon genggam. Dengan demikian, banyak informasi yang didapatkan oleh masyarakat.

Banyaknya informasi yang beredar dengan mudah memiliki dampak positif dan negatif. Contoh dari dampak positif yang dihasilkan adalah persebaran informasi dapat dengan cepat sampai ke khalayak. Sementara itu, salah satu dampak negatifnya adalah terdapat oknum yang memanfaatkan kemudahan penyampaian informasi ini untuk menyebarkan hoax atau berita bohong.

Maraknya hoax yang ada tentu menimbulkan masalah. Misalnya terjadi kesulitan untuk membedakan antara hoax dan berita faktual.

Para pembuat hoax dapat merangkai kata-kata dengan bahasa yang menarik dan mudah dimengerti sehingga membuat pembaca memercayai bahwa hal itu adalah nyata dan benar adanya. Semakin banyak orang yang percaya, semakin sulit untuk menentukan kebenaran akan sebuah berita.

Hoax dikemas dalam bahasa yang dapat menggugah emosi para pembacanya, baik itu rasa kaget, takut, marah, senang, dan sedih, sehingga banyak yang tertarik untuk membagikannya kepada orang lain tanpa memvalidasi terlebih dahulu.

Bahasa memang menjadi hal yang krusial dalam persebaran informasi. Bahasa bisa menjadi senjata tajam bagi penerima informasi, terutama bila terjadi kesalahpahaman dalam penyampaiannya. Oleh karena itu, bahasa dalam sebuah berita, termasuk hoax, perlu mendapat perhatian.

Hoax tidak bisa dilepaskan dari internet, yang merupakan sarang penyebarannya. Media sosial merupakan sarana utama penyebaran hoax disusul aplikasi obrolan seperti WhatsApp dan Line. Wahana tersebut menjadi sasaran empuk oknum penyebar hoax karena selain penggunanya yang sangat banyak juga belum ada sistem penyaringan untuk sebuah berita. Semua pengguna dapat mengunggah foto atau cerita secara bebas tanpa diketahui kebenarannya.

Dalam upaya pencegahan hoax, kaum muda memiliki peran yang sangat penting. Kaum muda adalah pengguna aktif daring media sosial, sebut saja Facebook, Twitter, dan Instagram yang terbesar. Maka, timbul sebuah pertanyaan :
Bagaimana upaya nyata pencegahan hoax yang dapat dilakukan oleh kaum muda ?

Berikut ini Beberapa Upaya Nyata Dalam Mencegah Hoaks

Pertama, jangan malas membaca. Bacalah sumber berita secara keseluruhan, bukan hanya dari judulnya saja. Pahami dengan benar isinya, apakah narasumber sudah sesuai dengan artikel yang ditampilkan dan apakah narasumber menyertakan data valid untuk mendukung pernyataannya.

Tak hanya itu, bacalah juga berita terkait untuk mengetahui kronologi sebuah berita. Bila perlu, bandingkan berita dari sebuah sumber dengan sumber lain. Dengan demikian, informasi yang didapatkan menjadi sebuah kesatuan yang komprehensif.

Kedua, jangan malas untuk membiasakan diri menggunakan bahasa yang santun sesuai etika. Media sosial sangat rentan dengan hoax, maka sebagai kaum muda hendaknya tidak memperkeruh suasana melalui ucapan atau kata-kata yang membuat situasi memanas.

Ucapan yang berisi makian, hinaan, atau bahkan dehumanisasi lebih baik disingkirkan. Tanggapi segala sesuatu dengan kepala dingin. Isilah media sosial dengan hal yang positif. Selain itu, seperti yang telah disebutkan di atas bahwa bahasa dapat memiliki makna yang berbeda, maka mari kita berusaha untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar untuk meminimalisir kemungkinan kesalahpahaman yang terjadi.

Ketiga, jangan malas untuk selalu mengingatkan orang lain, terutama orang tua. Sebagai kaum muda, amatlah baik bila kita memberi tahu lain, terutama kepada orang tua mengenai hoax yang mudah beredar. Pada umumnya, orang tua memiliki grup obrolan yang sangat memungkinkan penyebaran hoax.

Apabila orang tua bertanya kepada kita mengenai kebenaran sebuah berita yang ada, janganlah malas untuk selalu mengingatkan bahwa tidak semua berita itu benar dan perlu divalidasi. Ajaklah orang tua untuk berdiskusi.

Melawan kemalasan memang sulit. Hal ini bisa disebabkan karena kemalasan masih menjadi budaya dalam masyarakat, terlebih segala sesuatu sudah serba instan termasuk dalam penerimaan informasi. Informasi yang didapatkan diterima begitu saja tanpa ada pikiran untuk mengkritisi.

Sehingga mau tidak mau memang untuk melawan kemalasan harus dimulai dari diri sendiri. Harus ada keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik dan usaha yang keras.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa segala perkembangan terknologi informasi ini memiliki banyak sisi positif namun tetap saja ada yang mengambil keuntungan pribadi, yaitu dengan menciptakan hoax.

Sebagai kaum muda, kita memiliki peran penting dalam pencegahan hoax yaitu dengan memerangi sikap malas, baik itu kemalasan dalam membaca, kemalasan berbahasa sesuai etikam dan kemalasan untuk mengingatkan orang lain. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan mengubah sikap untuk menuju bebas hoax bagi masyarakat. Diawali dengan niatan, dilanjutkan dengan perbuatan, diakhiri dengan keberhasilan.

Esai ini ditulis oleh Maria Harina Nugraheni, kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *