Web portal pendidikan – Selamat siang sobat belapendidikan, kiriman opini kali ini masih berkaitan dengan pandemi Covid 19. Judul yang dikirimkan yaitu “Rekonstruksi Nalar Ditengah Amukan Pandemi“. Untuk selengkapnya dapat kamu baca dalam artikel berikut.

Rekonstruksi Nalar Ditengah Amukan Pandemi

rekonstruksi nalar ditengah amukan pandemi
Murdiansyah – rekonstruksi nalar ditengah amukan pandemi

Penyebaran Virus Corona atau yang juga dikenal dengan sebutan Covid 19 bergerak secara massif dan tak terkendali. Fakta ini yang dengan terpaksa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai Pandemi sejak pertengahan Mei lalu. Keputusan WHO tentunya bukan tanpa dasar, tetapi melihat kondisi yang ada, virus ini telah memperlihatkan kebrutalannya secara global dan tak memandang apa dan siapa.

Sebelumnya, WHO ragu merilis keputusannya dengan pertimbangan akan menyebabkan kecemasan dan kepanikan yang berlebihan. Tapi suka atau tidak suka, ragu atau tidak keputusan ini harus diumumkan dengan harapan pemerintah dan stakeholder disetiap negara akan lebih agresif melakukan tindakan yang preventif demi memutus mata rantai penyebaran wabah Covid 19 ini.

Hal yang dikhawatirkan WHO ternyata benar adanya. Kedatangan wabah covid 19 di Indonesia sebagai tamu yang tak dikehendaki memunculkan tanggapan dan stigma yang beragam serta berlebihan tentunya dari masyarakat.

Sebagai negara yang masyarakatnya terbilang kaya akan segudang kreativitas, memunculkan hasil karya yang unik dan menggemaskan menyikapi wabah ini, namun tidak sedikit juga yang memiliki daya cipta terlampau tinggi sehingga mempertontonkan aksi-aksi diluar nalar.

Kemunculan Covid 19 dihadapan masyarakat Indonesia berdampak ganda namun berseberangan. Sebagian masyarakat tersadar untuk mengesampingkan ego dan memilih lebih peduli terhadap sesama sebagai makhluk sosial dan sebagian lagi malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Covid 19 juga menguak masyarakat Indonesia dalam beberapa karakter. Karakter yang masih mengedepankan nalarnya dalam berpikir dan bertindak dengan mendedikasikan hidupnya demi kepentingan bersama dan karakter yang justru berlomba ingin tampil keren seperti mendadak jadi ahli bahasa yang memenuhi beranda sosial media sampai pada lahirnya pakar lokal secara tiba-tiba yang tau akan segalanya tentang wabah padahal menyesatkan dan penebar kepanikan.

Tidak bisa dipungkiri, wabah Covid 19 menjadi momok mengerikan saat ini. Tak ayal kehadirannya membuat sebagian orang menganggap si penderita yang terpapar sebagai aib, yang seyogianya mereka sangat membutuhkan suport penuh agar terbebas dari belenggu wabah yang menimpanya.

Baca juga artikel terkait :

Tidak hanya itu, wabah ini juga sangat berdampak bukan hanya dari sektor kesehatan, tapi juga sektor yang lain seperti pendidikan, ekonomi, sosial yang semuanya berimbas pada kestabilan suatu negara.

Berpikir Positif dan Bertindak Rasional


Kondisi genting saat ini memunculkan banyak spekulasi, lebih celakanya lagi karena mayoritas masyarakat menelan mentah-mentah setiap wacana yang ada. Pemandangan ini seolah hadir dan terkesan seperti sebuah perlombaan untuk memperlihatkan siapa yang paling cepat menebarkan informasi yang tingkat validitasnya belum terukur. Alhasil, kecemasan yang sengaja diciptakan sendiri terus meningkat lalu kemudian bertransformasi menjadi disorientasi nilai yang mengkhawatirkan.

Situasi dengan ujian berat seperti sekarang memaksa pemerintah berpikir dan kerja keras untuk menjaga kestabilan. Pada titik inilah semua kalangan diharapkan mampu saling merangkul dan bergandengan tangan menyusuri lembah cobaan yang tengah diperhadapkan dengan keutuhan bangsa.

Keluar dan lepas dari lingkaran yang berpotensi memecah dinding persatuan. Sembuh dan pulih dari jeratan wabah yang tidak sedikit menumbangkan banyak nyawa. Serta bangkit dari keterpurukan yang menjadi mimpi buruk belakangan ini.

Namun kemudian, semua harapan tidak akan menjadi kenyataan selama tingkat kesadaran kolektif dan kepatuhan masih rendah. Sadar akan pentingnya menjaga Persatuan Indonesia sebagai kunci kekuatan, yaitu sebagai sumber semangat dan motivasi dalam berbuat. Serta patuh akan semua himbauan demi keselamatan bersama.

Olehnya itu, melalui momentum memperingati Hari Kebangkitan Nasional kali ini, diharapkan mampu menjadikan semua individu sebagai bahan refleksi bahwa Indonesia sebagai negara besar juga membutuhkan semangat kebangkitan yang besar. Untuk pertama kalinya ibu pertiwi bisa terselamatkan hanya dengan dua pilihan, yaitu bersatu untuk di rumah saja atau memilih di rumahkan.

Sebagai makhluk yang diklaim memiliki derajat tertinggi, dianugerahi akal sebagai barometer kesempurnaan, tentulah sudah menjadi hukum paten bahwa manusia berada pada strata teratas dibanding makhluk lainnya. Namun demikian, dibalik penobatan itu manusia juga menjadi sarang celah untuk kadang bertingkah lebih rendah dari makhluk lainnya. Tergantung akal itu dipergunakan untuk bernalar atau tidak.

Senantiasa berpikir positif menanggapi setiap keadaan serta mengedepankan tindakan rasional adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan agar cepat terbebas dari jeratan saat ini. Mengenyampingkan ego sektoral, meningkatkan kepatuhan dan menetapkan rasa persatuan sebagai harga yang tak tertawar adalah kunci kekuatan mengayuh sekoci menyeberangi lautan wabah. Karena Indonesia bukan cuma aku, kau atau mereka tapi KITA.

Lekas pulih Indonesiaku
Abadi aroma kopi
Salam merah putih

Murdiansyah
Murdiansyah

Artikel ditulis oleh Murdiansyah, S.Pd, M.Pd
Guru Pendidikan Kewarganegaraan SMPN Satap 8 Baraka
Kab. Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan
Dikirim melalui laman Kirim Artikel
Judul artikel : Rekonstruksi Nalar Ditengah Amukan Pandemi

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami [email protected]