Sisi lain media sosial dalam literasi masyarakat
Sisi lain media sosial dalam literasi masyarakat

Web portal pendidikan –┬áSudah lama admin ga buka kotak masuk yang isinya berisikan artikel dari para penulis tamu. Ketika admin lihat salah satu artikel yang ditulis oleh mahasiswa satu ini, admin berpikir untuk mempublikasikan artikel miliknya tersebut. Artikel yang dibuat oleh Evanda Eka Putra adalah Sisi Lain Media Sosial Dalam Literasi Masyarakat. Melihat judul yang di kirim, sepertinya bagus untuk kita kaji. Yuk, ikutin kami dalam mengulas tema kali ini.

Sisi Lain Media Sosial Dalam Literasi Masyarakat

Di era masyarakat moderen yang kita kenal dengan era digital, kehadiran teknologi informasi dan media sosial merupakan wadah baru yang memungkinkan siapa pun dapat menjadi pewarta berita meskipun tanpa lisensi sebagai seorang jurnalis.

Setiap manusia, dengan dukungan gadget dan internet dapat mempublikasi setiap informasi apa pun tanpa terkecuali. Melalui Facebook, Twitter, Intagram, Path, Line, WhatsApp, dan lain lain, semua orang dengan mudahnya memperoleh dan membagi kembali informasi tanpa harus melewati pintu sensor yang bisa menghambatnya.

Media sosial menurut salah satu ahli bernama Micheal Cross (2013) menyebutkan sebuah istilah yang menggambarkan bermacam-macam teknologi yang dapat digunakan untuk mengikat orang ke dalam suatu kolaborasi, saling tukar informasi dan interaksi melalui isi pesan yang berbasis web.

Dikarenakan internet selalu mengalami perkembangan, maka berbagai macam teknologi dan fitur fitur yang tersedia bagi pengguna pun akan selalu mengalami perubahan. Hal ini menjadikan media sosial lebih hyper dibanding sebuah referensi khusus terhadap berbagai rancangan dan penggunaan.

Seperti yang dibahas didalam salah satu media massa, yang intinya menyayangkan efek samping yang timbul di balik merebaknya penggunaan media sosial di kalangan masyarakat.

Media sosial saat ini bukan saja dinilai dari seringnya digunakan untuk menyebarkan berita berita hoax dan provokasi, namun yang mengkhawatirkan adalah ketika informasi yang disirkulasi dan diresirkulasi di media sosial tidak lagi bisa dibedakan mana yang fakta dan mana yang salah.

Sebuah realita yang tidak memiliki rujukan dalam dunia nyata, tetapi realita tersebut diunggah berulang ulang dan di resirkulasikan melalui media sosial, bisa saja realita bentukan itu kemudian dianggap sebagai kebenaran itu sendiri.

Dampak media sosial

dampak media sosial dalam literasi masyarakat
dampak media sosial dalam literasi masyarakat

Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada Oktober 2017 silam dilaporkan bahwa di Indonesia para pengguna ponsel pintar, yang memanfaatkan gadget nya untuk browsing melalui internet mencapai 89,9 juta orang.

Sementara itu, “konten komersial yang sering dikunjungi publik adalah 82,2 juta online shop, sedangkan untuk konten media sosial, Instagram 19,9 juta (15 %), Facebook 71,6 juta (54 %), dan YouTube 14,5 juta (11 %)”.

Dengan melihat bahwa ada puluhan juta masyarakat Indonesia yang menggunakan internet dan media sosial untuk berkomunikasi antara satu dengan lainnya, setiap informasi yang disirkulasi kemudian diresirkulasikan melalui media sosial, dengan cepat akan menyebar menjadi viral dan menjadi perbincangan masyarakat.

Sepanjang informasi yang di sebarluaskan memang betul dan bermanfaat untuk kepentingan publik, seberapa pun banyak informasi yang dibagi dan di sebarluaskan melalui media sosial tidaklah menjadi masalah.

Namun, lain soalnya ketika informasi yang dibagikan ternyata memiliki muatan hasutan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya yang berpotensi memicu timbulnya keresahan bagi masyarakat.

Sisi Lain Media Sosial Dalam Literasi Masyarakat

Literasi masyarakat didalam pengaruh sosial media
Literasi masyarakat didalam pengaruh sosial media

Di kalangan masyarakat yang belum memiliki tingkat literasi informasi yang memadai, paling tidak ada dua kemungkinan yang bisa terjadi sehubungan dengan kemudahan mereka memanfaatkan dan mengakses “media sosial.”

Pertama, masyarakat tidak jarang terlena dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan media sosial, sehingga tanpa kendali mengunggah begitu saja apa yang dinilai perlu diunggah tanpa memikirkan bagaimana dampaknya terhadap publik dan dirinya sendiri.

Kedua, yang tak kalah mencemaskan, akibat kemudahan masyarakat mengakses media sosial, bukan tidak mungkin mereka menjadi lebih mudah terpapar dan terprovokasi.

Tanpa melakukan check dan re-check, mereka bisa saja menelan mentah-mentah informasi hoax dan ujaran kebencian yang d isirkulasikan di media sosial, serta meyakininya sebagai sebuah kebenaran.

Untuk kepentingan politik, di media sosial kita bisa melihat bagaimana kampanye hitam yang menjelek-jelekan calon lain setiap kali dilakukan tanpa menimbang hal itu melanggar etika dan hukum atau tidak.

Di sisi lain dalam bidang perdagangan, media sosial menjadi wahana bagi para penjual barang yang menjual barang yang tidak sesuai dengan informasi yang di publikasikannya. Hal ini bisa dibilang sebagai pembohongan publik. Kejadian seperti ini sudah banyak terjadi dan para penjual tersebut tidak memikirkan bagaimana nasib si konsumen terhadap barang yang diterimanya.

Di luar pendekatan hukum

Untuk mencegah agar media sosial tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang kontra-produktif, saat ini Tim Kejahatan cyber Polri dilaporkan telah mengambil langkah untuk memantau dinamika media sosial.

Jajaran kepolisian dilaporkan juga telah melakukan berbagai langkah penangkapan terhadap sejumlah orang, yang ditengarai merupakan haters dan menjadi provokator di media sosial.

Kehadiran dan kemudahan yang ditawarkan media sosial, yang tidak diimbangi dengan kesadaran dan literasi informasi yang kritis serta pengetahuan hukum yang memadai, harus diakui sering menyebabkan masyarakat tanpa mereka sadari menjadi rawan terkontaminasi efek negatif dari media sosial.

Di Indonesia, hukum yang berlaku sebenarnya sudah mengatur bagaimana masyarakat mempergunakan media sosial sesuai koridor yang berlaku. Artinya, media sosial bukanlah ranah yang bebas, sebebas-bebasnya.

Sudah ada aturan hukum yang membatasi seseorang dalam menggunakan media sosial. Salah satunya adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 2008, yang mengatur tentang informasi dan transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.

Di luar langkah langkah normatif dan implementasi ketentuan hukum yang berlaku, langkah lain yang tak kalah penting adalah bagaimana pemerintah terus mendorong peningkatan literasi informasi masyarakat, sebab di sanalah sebenarnya kunci untuk menepis berbagai kemungkinan efek negatif media sosial.

Graeme Burton dalam bukunya, “Media and Society (2005)” menyatakan bahwa dengan didukung literasi informasi yang kritis, masyarakat akan mampu membuat pilihan media yang mereka gunakan dan cenderung akan bersikap lebih kritis dalam memproses informasi yang mereka terima.

Di era konvergensi media, dan didukung literasi informasi yang kritis, audiens akan dapat bersikap lebih aktif untuk memproses atau mencari kebenaran dari informasi yang ia peroleh melalui beberapa media sekaligus, membanding-bandingkan, kemudian menilai mana sebetulnya informasi yang benar.

Kesimpulannya

Masyarakat harus mempunyai sikap objektif terhadap informasi yang ada di media sosial dan harus mempunyai sikap literasi pada informasi yang beredar.

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Andalas Padang Sumatera Barat.

Nah, itulah penjelasan dari “sisi lain media sosial dalam literasi masyarakat.” Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari para pengunjung belapendidikan.com untuk pengembangan artikel ini lebih lanjut.

LEAVE A REPLY