Subjek dan Objek Asuransi

oleh
subjek dan objek asuransi
subjek dan objek asuransi dalam pokok pokok hukum asuransi

Web portal pendidikan – Selamat pagi sob, dalam rangka liburan akhir tahun ini sebenarnya mimin lagi masa libur. Tapi melihat pengunjung aktif dalam mengunjungi artikel tentang asuransi, jadi mimin sempatkan untuk menulis lagi tentang “Asuransi”. Adapun tema kita kali ini adalah Subjek dan Objek Asuransi. Untuk lebih lengkapnya dapat kamu simak dalam artikel berikut ini.

Subjek dan Objek Asuransi

Adapun penjelasan dari subjek dan objek asuransi, dapat dibagi menjadi 2 pengertian yaitu subjek dan objek. Nah sebelum kita membahas subjek, ada baiknya kita harus tahu terlebih dahulu apa objek asuransi itu.

A. Objek Asuransi

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, asuransi pada dasarnya merupakan sebuah perjanjian. Asuransi merupakan suatu perjanjian dimana pihak tertanggung mengalihkan risiko kepada pihak penanggung dengan membayar sejumlah premi kepada si penanggung. Dan penanggung akan mengganti kerugian terhadap tertanggung jika risiko yang diperjanjikan tersebut benar benar terjadi.

Baca : Pengertian Asuransi

Di dalam hukum Dagang telah diatur terkait dengan objek asuransi, tepatnya ada dalam pasal 268 KUH Dagang. Dalam pasal 268 KUH Dagang, yang dapat menjadi objek asuransi adalah semua kepentingan yang :

1. Dapat Dinilai Dengan Sejumlah Uang

Terkait dengan hal yang dapat dinilai dengan uang, kiranya pasal hal ini dinyatakan dalam pasal 268 KUH Dagang yang menyatakan bahwa:

suatu pertanggungan dapat mengenai segala kepentingan yang dapat dinilaikan dengan uang, dapat diancam oleh suatu bahaya dan tidak dikecualikan oleh suatu bahaya dan tidak dikecualikan oleh undang undang.

Segala kepentingan yang dapat dinilai dengan uang dalam hal ini merujuk kepada harta benda yang memiliki nilai nilai tertentu dan dapat diperkirakan berapa penggantiannya sehingga memudahkan penanggung untuk memberi perhitungan premi yang dibayar oleh tertanggung.

Selain itu, dalam pasal 268 juga ada unsur kata “kepentingan” yang dalam dunia asuransi masuk ke prinsip adanya kepentingan atau insurable interest.

Artinya tertanggung harus memiliki kepentingan terhadap objek yang diasuransikan tersebut. Apabila tertanggung tidak memiliki kepentingan terhadap objek yang diasuransikan, maka penanggung dapat menolak untuk memberi ganti rugi.

2. Dapat Takluk Pada Macam Macam Bahaya

Dalam hal takluk pada macam macam bahaya, jadi barang tersebut dapat mengalami kerusakan atau suatu hal yang dapat merugikan jika suatu bahaya terjadi. Misalnya rumah yang dapat terkena kebakaran atau badai topan.

3. Tidak Dikecualikan Oleh Undang Undang

Tidak dikecualikan oleh undang undang berarti barang tersebut merupakan barang yang dapat diasuransikan dan tidak dilarang oleh undang undang untuk diasuransikan oleh karena sifat dan risikonya.

Baca : Perbedaan Asuransi dan Judi

Diatas sudah kita jelaskan terkait objek asuransi, nah selanjutnya akan saya bahas tentang subjek asuransinya.

subjek asuransi secara umum
subjek asuransi secara umum

B. Subjek Asuransi

Seperti halnya dengan objek asuransi yang telah diuraikan diatas, subjek asuransi juga mengikuti asas subjek dari perjanjian karena asuransi juga berlaku sebagai sebuah perjanjian.

1. Subjek Perjanjian Secara Umum

Di dalam ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata menyebutkan bahwa :

Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

Dengan ketentuan seperti itu dapat dikatakan bahwa dalam tiap tiap perjanjian selalu ada dua macam subjek yakni di satu pihak seorang atau suatu badan hukum yang mendapat beban kewajiban untuk sesuatu dan di lain pihak ada seorang atau badan hukum yang mendapat hak atas pelaksanaan kewajiban itu. Maka dalam tiap tiap persetujuan selalu ada pihak berkewajiban dan pihak yang berhak.

Namun jika dalam suatu perjanjian seperti dalam asuransi dapat dikatakan merupakan perjanjian dengan timbal balik di mana hal ini berarti bahwa satu pihak tidak selalu menjanjikan pihak yang berhak, melainkan dalam hal lain memiliki beban kewajiban juga.

Dengan demikian tidak selalu menjadi pihak yang berkewajiban melainkan menjadi pihak yang berhak pula terhadap kewajiban dari pihak pertama yang harus dan dapat dilaksanakan.

2. Kepentingan Orang Ketiga Dalam Asuransi

Terkait dengna asuransi pada umumnya, dinyatakan dalam pasal 264 KUH Dagang mengemukakan bahwa asuransi dapat diadakan tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan juga untuk kepentingan orang ketiga.

Hal ini dapat terjadi berdasarkan atas suatu kuasa umum atau khusus yang diberikan oleh orang ketiga itu, atau dapat terjadi di luar pengetahuan orang ketiga tersebut.

3. Penyebutan Kepentingan Untuk Orang Ketiga Dalam Polis

Mengenai hal ini, dinyatakan dalam Pasal 267 KUH Dagang bahwa apabila dalam polis tidak disebutkan, maka asuransi di adakan untuk kepentingan orang ketiga, maka asuransi harus dianggap diadakan oleh si terjamin untuk dirinya.

Namun apabila dalam hal ini ada orang ketiga yang berkepentingan dan jika terjadi suatu peristiwa yang dipertanggungkan, maka si penanggung membayar sejumlah kerugian. Menurut Pasal 250 KUH Dagang si penanggung tidak berkewajiban untuk membayar ganti kerugian itu.

Baca : Pengaturan Asuransi

Di dalam pasal 250 KUH Dagang dinyatakan bahwa dalam hal seorang terjamin mengadakan asuransi untuk dirinya sendiri dan kemudian ternyata ia tidak berkepentingan pada barang yang dijamin, maka si penanggung tidak berkewajiban membayar ganti rugi tersebut.

Terkait dengan hal ini, klausul dalam polis menyatakan bahwa sang penanggung menjamin, misalnya X atau orang lain yang mungkin berkepentingan. Klausul seperti demikian dalam polis dianggap cukup untuk menyebutkan bahwa asuransi diadakan untuk kepentingan orang ketiga.

4. Penyebutan Pemberian Kuasa Oleh Orang Ketiga

Dinyatakan dalam Pasal 265 KUH Dagang bahwa dalam polis harus ditegaskan apakah asuransi diadakan atas pemberian kuasa oleh orang ketiga yang berkepentingan atau di luar pengetahuan orang ketiga ?.

Terkait dengan kuasa, Pasal 266 KUH Dagang mengatur adanya suaru asuransi untuk kepentingan orang ketiga. Akan tetapi sudah jelas diadakan tanpa pemberian kuasa dan diluar pengetahuan orang ketiga itu.

Jika ini terjadi, Pasal 266 menyatakan bahwa asuransi akan batal dan apabila terhadap kepentingan yang sama diadakan asuransi pula oleh atau untuk orang ketiga sebelum orang itu tau. Bahwa orang lain telah mengadakan asuransi untuk kepentingannya tersebut.

Nah itulah penjelasan tentang Subjek dan Objek Asuransi. Untuk kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pengunjung setia belapendidikan.com untuk mengisi kolom komentar dibawah ini. Terima kasih, sampai jumpa.

Nantikan kembali artikel artikel terkait asuransi lain waktu. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.