Terhadap Game Online Ayah Bunda Permisif Atau Otoriter ?

oleh -143 views
terhadap game online ayah bunda permisif atau otoriter
terhadap game online ayah bunda permisif atau otoriter

Web portal pendidikan – Selamat pagi sobat belapendidikan, pagi hari ini mimin kedatangan lagi hasil tulisan yang berkaitan dengan game online. Judul yang di kirimkan yaitu “Terhadap game online ayah bunda permisif atau otoriter.

Menurut kalian larangan terhadap game online itu permisif atau otoriter ? Berikut penjelasan yang sudah dirangkum dalam artikel berikut.

Terhadap Game Online, Ayah Bunda Permisif atau Otoriter ?


Keluarga berperan sebagai pendidik yang pertama dan utama. Peran Ayah dan Bunda dalam hal ini sangatlah besar, karena tak hanya mendidik secara materi namun juga karakter anak.

Dalam perlakuan terhadap game online ini setiap orangtua tentunya memiliki pola asuh tersendiri. Secara garis besar, pola asuh yang biasa diterapkan pada anak ada dua yaitu pola asuh permisif dan otoriter.

Pola asuh dapat diartikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung perkembangan anak sejak bayi hingga dewasa.

Perbedaan karakteristik setiap generasi meliputi perbedaan kepercayaan, keyakinan, karier, keseimbangan kerja, keluarga, peran gender, dan lingkungan pekerjaan mempengaruhi perbedaan pola dalam penngasuhan anak. Secara garis besar, pola asuh anak dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu pola asuh otoriter dan pola asuh permisif.

Yang Dimaksud Pola Asuh Otoriter ?


Pola asuh Otoriter merupakan sebuah pola asuh dimana anak didesak untuk mengikuti arahan orangtua dengan menempatkan banyak batasan dan hukuman terhadap perilaku anak.

Pola asuh ini cenderung diterapkan oleh para orangtua yang notabenenya adalah generasi baby boomers (1946-1964) dan generasi X (lahir pada 1965-1979).

Orangtua baby boomers dan generasi x menjadikan dirinya sebagai panutan bagi anak. Anak dituntut untuk mematuhi segala perintah orangtua dan tidak diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Orangtua tersebut cenderung membatasi bahkan melarang anak untuk bermain.

Yang Dimaksud Pola Asuh Permisif ?


Pola asuh permisif merupakan sebuah pola asuh dimana anak diberi kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan apa yang diinginkannya dengan hanya menempatkan sedikit batasan atau larangan atas perilaku mereka.

Pola asuh ini cenderung diterapkan oleh para orangtua yang notabenenya generasi digital atau millenials (lahir pada 1980-2000).  Orangtua millennials cenderung membebaskan dan menuruti kemauan anak, termasuk keinginan anak untuk bermain.

Di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 ini teknologi berkembang semakin pesat. Digitalisasi semakin merasuki berbagai sendi khidupan, salah satunya pada permainan.

Baca : Revolusi mental di era Revolusi Industri 4,0

Zaman dulu, anak-anak lazimnya bermain berbagai permainan tradisional. Seiring berjalannya waktu, permainan tradisional ini posisinya kian tergerus dan perlahan tergantikan dengan game online.

Game online dapat diartikan sebagai sebuah permainan yang dapat diakses dengan media digital seperti handphone, tablet pc, laptop maupun komputer.

Sekarang ini banyak dari para orangtua yang sudah memegangi anaknya dengan handphone. Dengan hanphone ini anak dikenalkan pada game online, yang menurut orangtuanya cara yang tepat agar anak tidak rewel.

Dampak Apa Saja yang Ditimbulkan Jika Anak Bermain Game Online ?


Adanya game online ini tentunya menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun negatif.

Baca : Game online dan interaksi sosial

Dampak positif yang ditimbulkan dengan game online, yaitu anak diajak untuk belajar menjadi pemimpin.

Disini anak memegang kendali atas berlangsungnya game. Selain itu anak juga dilatih untuk belajar berkompetisi secara adil dan melakukan pemecahan atas suatu permasalahan.

Selain dampak positif, game online ternyata juga memiliki dampak negatif. Bermain game online dapat menimbulkan kecanduan sehingga hambar rasanya bila sehari saja tidak memainkannya.

Game juga dapat mengalihkan dunia anak sehingga anak lebih aktif dalam dunia maya daripada dunia nyata.

Hal ini juga berpengaruh pada kemampuan bersosialisasi anak. Anak yang kecanduan game akan merasa bahwa game adalah segalanya sehingga ia menjadi cuek dengan lingkungan sekitarnya.

Apakah Kecanduan Game Berpengaruh Pada Kesehatan ?


Kecanduan game juga berpengaruh pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, terpapar layar secara terus menerus akan menimbulkan gangguan mata karena berlebihan terpapar layar.

Secara psikis, dampak terburuk dari anak yang kecanduan game adalah dapat mengalami gangguan jiwa.

Dilansir dari kompas.com Kamis (31/10/2019) sebanyak 8 pelajar di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Amino Gondhoutomo kota Semarang karena terindikasi kecanduan gawai. Mengutip pemberitaan dari beritasatu.com (17/10/2019) selama 2019 Rumah Sakit Marzuki Mahdi kota Bogor telah menangani 10-15 pasien kecanduan game, ada tiga pasien yang sempat menjalani rawat inap.

Ternyata selain memiliki dampak positif, game online juga memiliki dampak negatif yang cukup serius.

Setelah mengetahui dampak positif dan negatif dari game online, ayah bunda memilih pola asuh permisif atau otoriter ?

Puteri Anggita Dewi
Puteri Anggita Dewi

Ditulis oleh :
Puteri Anggita Dewi, Seorang mahasiswi prodi PIAUD STAINU, Temanggung.

Terima kasih sudah membaca artikel tentang Terhadap game online ayah bunda permisif atau otoriter ?. Kamu bisa memberikan kritik dan saran melalui kolom komentar yang telah disediakan dibawah. Dan nantikan kembali artikel edukasi lainnya dari kami.

Kamu juga bisa menulis karyamu di belapendidikan, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah. Klik disini untuk kirim tulisan, atau bisa lewat email kami redaksi@belapendidikan.com

Tentang Penulis: Redaksian

Mas Hafiz
Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kita menyediakan media pembelajaran untuk anak. Dan menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mempunyai wawasan yang luas.

21 thoughts on “Terhadap Game Online Ayah Bunda Permisif Atau Otoriter ?

  1. Kalau aku dan istri sih ngebolehin anak main game (atau lihat YouTube) hanya hari sabtu siang ampe sore, serta minggu pagi ampe siang. Nah kalau itu termasuk otoriter atau permisih ya Kak?

  2. Meskipun saya termasuk generasi X, tapi saya percaya bahwa berbagai game di gawai dapat meningkatkan kreatifitas anak. Tapi saya selalu berusaha untuk mengontrol waktu bermainnya, kalau kelamaan ya saya ambil gawainya. He he . .

  3. Anak saya itu generasi digital. Mereka lahir di era industri 4.0 dan mungkin pas dewasa nanti bicara AI itu udah kayak ngomongin ojek online sekarang, di mana-mana ada. Jadi, gak pantas juga kalo kita otoriter super saklek membatasi mereka dengan ponsel atau media digital. Yg harus kita lakukan sebagai orang tua adalah lebih bijak dan terus menyaring konten-konten sesuai umur mereka. Tetapkan juga batasan waktu yg disepakati bersama. Kalo saya, ponsel hanya Sabtu-Minggu, boleh seharian, tapi setiap 2 jam harus rehat dan tidak boleh lupa makan, tidur siang, juga tidur malam tetap maksimal pukul 22.00.

  4. Kalau saya sih berusaha berada di tengah, tidak sepenuhnya melarang tapi juga tidak membebaskan sepenuhnya. Ada aturan dan batasan yang saya buat bersama dengan anak-anak, jadi kesepakatan orang tua dan anak terhadap penggunaan gawai dan juga memainkan game online

  5. Temen-temenku walaupun udah dewasa, masih suka ngegame tuh. Sedangkan aku engga terlalu suka, kayak buang waktu gitu. Buat anak-anak, ternyata walaupun aku engga terlalu saklek membatasi, mereka ada kecenderungan sendiri, suka atau tak suka. Yang bahaya sih begitu kecanduannya sampai gagal sekolah. Itu terjadi ama temen yg ngambil S2, engga selesai, karena kecanduan Ragna Rock tuh…

  6. Permisif atau otoriter sebenarnya sama2 kurang baik, yang paling bagus sih ya pola asuh yang demokratis. Jadi i’ts ok aja sih anak main game tapi dalam batas yang wajar, kalo ditegur terus anak cuek2 aja mungkin baru bersikap tegas suapaya anak tahu batasannya.

  7. saya tidak otoriter, juga tidak permesif. tapi demokratis. bikin aturan, termasuk sanksi. jadi anak belajar kapan dia main, kapan tidak. tidak setiap waktu boleh

  8. Barangkali saya termasuk orang tua yang permisif. Saya terpaksa membolehkan anak bermain game di ponselnya padahal tahu itu tidak baik apalagi jika dimainkannya terlalu lama. Seringkali berantem dengan anak dan menyuruhnya berhenti atau melarangnya.
    Mula-mula patuh lalu ngotot ingin main. Duh.
    Main di luar masih sering dilakukannya, tetapi jika di rumah bosan karena tidak ada hiburan lain dan tak mau belajar, maka sering ngotot maksa main.
    Sepertinya saya harus ajak anak ke toko buku besar di kota agar bisa melihat contoh baik karena lingkungan sekitar banyak yang main game.

  9. Saya dulu jadi gamer yang terlalu addict, hari ini baru sadar kalau saya sudah membuang banyak waktu. Saya mulai jadi gamernya pas SMA, cuma mirisnya anak-anak sekarang sudah hobi main game dari balita. Orangtua memang harus mencegah anak agar tidak kecanduan, baik secara permisif atau otoriter

  10. Beberapa yg saya perhatikan permisif terhadap game online..tapi terap diberikan rambu rambu khusus dan extra pengawasan dari orang tua bahkan beberapa orang tua ikutan tau dan rela main bareng

  11. kalau saya kurang suka jika anak bermain game online, karena mereka cenderung jadi tertutup dengan dunia luar.
    saya memang memperbolehkan mereka bermain gawai tapi saya menerapkan batas waktu tertentu itu pun nggak lama.

  12. Kalo saya cenderung mix mom. Mumpung dia masih kecil, saya tidak memperbolehkan bahkan cenderung melarang anak pegang gadget, dg cara memberikan dia alternatif permainan lain yang tidak melibatkan gadget. Di lain waktu, saya kasih dia kebebasan yang beraturan. Boleh lihat tapi sekian menit, boleh lihat tapi harus duduk ga boleh tiduran dan beberapa aturan lain. Pinginnya sih dia punya hp pas udah SMP, nah ini lagi nyari cara buat dia nurut tanpa terpaksa, nurut dg kesadaran. Terima kasih artikelnya mom..

  13. Sebenarnya saya cenderung otoriter. Pokoknya seluruhnya dilarang. Tapi suka ngalah sama istri yang memberikan waktu bermain sekian menit. Kalo waktunya udah habis baru hapenya diminta gak boleh main game lagi.

  14. Kalo saya stuju aja sih anak main HP tapi harus dibatasi aja konten yang digunakannya. Untuk game saya rasa lebih baik anak bermain secara labgsung dengan orang tua atau teman sebayanya

  15. Menurut saya game online banyak berdampak buruk terhadap kehidupan mental seseorang. Kecanduan adalah hal umum yang saya ketahui dari game online. Lalu untuk anak-anak remaja, game online dapat membentuk karakter buruk. Mereka jadi dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar sekasar kasarnya saat jagoannya kalah atau hal lainnya. Dan karenanya, anak-anak balita pun jadi nb ikut-ikutan

  16. Anakku masih kecil sih jadi belum main game. Tapi tetep yang ditonton ya video di YOutube. Aku lebih ke membatasi penggunaan aja dan harus disiplin.

  17. Pola asuh yang saya terapkan otoriter. sekali saya larang bermain gadget sampai nangis pun tak beri kesempatan untuk bermain. Hanya saya saya alihkan permainnanya dengan hal-hal yang lain yang saya anggap baik untuk tumbuh kembang anak

  18. anak yang kecanduan main game online cenderung cepat marah dan bersikap acuh pada lingkungan sekitar, pengelolaan emosinya juga berkurang. Memang apa pun yang dilakukan semuanya haruslah seimbang

  19. ini noted sih, namun ada beberapa prinsip aku ketika nanti memiliki anak dalam pola asuh dalam perihal memberikan games online ini kalo otoriter itu terlalu gimana dan permisif itu seperti kurang berbatas aja. Kayak kaka iparku yg memperbolehkan anak-anaknya untuk gaming hanya di weekend aja

  20. sepertinya kalau punya anak aku bakal jadi ibu yang otoriter dehh gatau yaaa gak suka aja sama anak yg megang hp terus,,,, candunya itu loh

  21. Untunglah dua anak saya ga freak banget sama game. Yang sulung sekarang kelas 3 SMP dan sangat jarang main game. Dia lebih sering nonton tips2 perawatan kecantikan dari beauty vlogger. Begitulah cewek ABG.hehehe…
    Yang bungsu masih 3 tahun, sesekali aja main tablet, ga bergantung pada gadget itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *